Berita Lain

Indeks Berita




Jumat, 30/11/2007 06:59 WIB
Kapal Portugis Karam 500 Tahun Lalu Ditemukan di Selat Madura
Anwar Khumaini - detikNews
Jakarta - Perairan Indonesia dikenal memiliki banyak benda cagar budaya (BCB). Baru-baru ini ditemukan titik karamnya kapal Portugis yang tenggelam 500 tahun lalu di Selat Madura. Untuk mengangkat kapal yang diduga membawa banyak barang berharga ini, Indonesia akan berkoordinasi dengan pemerintah Portugis.

Indonesia merupakan negara yang sangat strategis. Terletak di antara silang jalur silang dunia, yakni terletak antara Benua Asia dan Australia, juga di antara Samudera Hindia dan Pasifik.

Hal itulah yang menyebabkan banyak sekali BCB yang ditemukan di perairan Indonesia. Sebab, dahulu para saudagar antarnegara melakukan pelayaran dan tidak jarang mereka tenggelam bersama kapal dan harta benda yang dibawa.

"Di perairan-perairan kita seperti di Pantai Timur Sumatera, Laut Utara Jawa, Selat Makassar, di sana banyak terdapat titik-titik kapal yang tenggelam," ujar Direktur Arkeologi Bawah Air Depbudpar, Surya Helmi dalam sebuah perbincangan dengan detikcom di kantor Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (29/11/2007).

Bahkan, menurut Surya, berdasarkan sebuah riset, saat ini ditemukan titik adanya kapal milik Portugis yang tenggelam di Selat Madura. Kapal tersebut tenggelam sekitar tahun 1.500-an. "Tapi untuk melakukan pengangkatan, kita akan konfirmasi dahulu ke pemerintah Portugis, sebab ini menyangkut sejarah kedua bangsa," kata Surya.

Informasi tersebut didapatkan dari informasi yang diperoleh para nelayan, termasuk juga mempelajari sejarah penjajahan di Indonesia.

Benda-benda cagar budaya yang tersimpan di bawah laut tersebut, menurut Surya, tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. Namun, jika memang jumlahnya melimpah, dipersilakan kepada pihak-pihak yang tertarik untuk memilikinya, asalkan mempunyai sertifikat.

"Nantinya, BCB yang kita temukan di bawah laut kita pilih-pilih dulu yang mempunyai nilai tinggi dan masterpiece untuk kita taruh di museum, sisanya bisa diperjualbelikan," kata Surya.

Namun demikian, menurut Surya, proses pengangkatan BCB dari dasar laut harus sesuai dengan kaidah-kaidah arkeologi. "Tidak secara serampangan. Ada metodologi evakuasi. Biar BCB tersebut tidak rusak dan data-datanya bisa kita rekam," tandas dia.
(anw/asy)


GRATIS kaos cantik dan voucher pulsa! ikuti sms berlangganannya, ktk REG DETIK kirim ke 3845 (Telkomsel, Indosat, Three)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!

Baca juga :

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).