Pabrik Ekstasi di Bogor (2)

Mengapa Hans Ditembak Mati?

Senin, 25/04/2005 12:17 WIB
Jakarta - Tewasnya pemilik pabrik ekstasi terbesar, Hans Philip disayangkan. Sebagai tersangka utama, keterangan dari Hans dinilai sangat penting. Seperti diyakini jajaran Badan Narkotika Nasional dan Mabes Polri, Hans Philip adalah salah satu pentolan sindikat narkoba internasional yang mempunyai pasaran hingga ke Amerika Serikat. Catatan kriminal Hans cukup panjang. Dia masuk DPO sejak Maret 2001 menyusul ditemukannya 281 ribu butir ekstasi dari sebuah perusahaan ekspedisi di sekitar Bandar Udara Soekarno-Hatta. Sedianya, barang ilegal milik Hans itu dikirim untuk seseorang bernama David Rose di California, AS. Juli 2001, Hans juga diketahui berhubungan dengan David Avilla dan Derick Stewart dari AS. Dua orang ini diduga anggota sindikat peredaran narkoba di Los Angeles, AS. Ketiganya acap bertemu di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat. Dia juga tercatat pernah melakukan pemukulan terhadap seseorang di hotel tersebut. Hans dikenal cukup lincah dan cerdik. Untuk menghindari incaran aparat hukum, dia tak hanya memilih tempat yang sepi dan susah dijangkau. Hans juga memiliki banyak alamat di Jakarta. Dari data BNN minimal ada empat alamat yang dipakai Hans. Pertama atas nama PT Panamas di Ruko Grogol Permai Blok C/51-52. Alamat kedua Hans tercatat di Jl. Latumenten X Blok C Nomor 51-52 RT01/RW07 Jelambar, Jakarta Barat. Saat dicek, alamat tersebut tidak ada alias fiktif. Begitu juga pada alamat ketiga di Jalan Kelapa Elok Raya Blok QE 13, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Alamat terakhir Hans, yakni di kawasan Sunter, Podomoro, Jakarta Utara. Alamat ini memang ada. Tapi pemiliknya bukan Hans. Menurut versi BNN dan Polri, Hans tewas ditembak karena melakukan perlawanan saat akan ditangkap oleh petugas di Kompleks Greenvile, Tanjungduren, Jakarta Barat. Hans melakukan perlawanan dengan mengeluarkan sepucuk senjata api. Namun di mana tepatnya lokasi penangkapan sekaligus penembakan Hans ini masih menimbulkan pertanyaan. Penelusuran yang dilakukan detikcom di kompleks Greenvile mengungkapkan, peristiwa tersebut tidak diketahui banyak orang. Termasuk sejumlah petugas satuan pengamanan (Satpam) di kompleks tersebut. Syaiful, salah seorang petugas Satpam Kompleks Greenvile Blok BL, mengaku sama sekali tidak mengetahui peristiwa tersebut. Padahal, pada Jumat (8/4/2005) dia giliran jaga malam. "Kalau ada peristiwa seperti itu di sini pasti ramai," ujarnya. Hal yang sama juga dikatakan oleh Abdul Rohim, petugas Satpam Kompleks Greenvile Blok FA dan FB. Sama seperti Syaiful, dia juga tidak pernah mendengar ada peristiwa penangkapan dan penembakan Hans di sekitar tempatnya bertugas. Demikian pula dengan Yono dan Gagay, masing-masing adalah pedagang dan petugas parkir di Bank Mandiri yang berada di dalam lingkungan Kompleks Greenvile. Keduanya juga mengaku tidak pernah mendengar kejadian tersebut. Yono mengaku dirinya setiap hari berdagang di kawasan tersebut mulai pukul 10.30 WIB sampai tengah malam. "Saya cuma tahu dari koran tapi kalau dengar langsung dari orang-orang sini atau temen-temen enggak. Jadi lokasinya saya tidak tahu sama sekali," ungkap Gagay. Kriminolog Andrianus Meliala menilai, BNN maupun Polri harus menjelaskan dan menyelidiki dengan tuntas penangkapan sekaligus penembakan Hans Philip. Sebab bukan tidak mungkin, ada oknum yang merasa diuntungkan atas tewasnya Hans. Jika memang benar penembakan tersebut bukan dalam situasi petugas membela diri, patut dicurigai ada oknum yang tidak ingin Hans 'bernyanyi'. Misalnya saja Hans mengatakan dirinya telah menyetor sejumlah dana kepada oknum tertentu. "Orang-orang itu takut kalau Philip buka mulut, jadi dia dihabisi," kata Andrianus. Sedangkan Wakil Ketua MPR AM Fatwa mengatakan, kongkalikong antara pelaku kejahatan narkoba dengan aparat hukum sangat dimungkinan. Dalam kegiatan ini, mengorbankan orang-orang tertentu juga biasa terjadi. Namun seperti kejahatan korupsi, masalah ini juga sangat sulit untuk dibuktikan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menelusuri aliran dana dari rekening tersangka. Peyidik harus mencari tahu siapa saja yang menerima aliran dana dari tersangka. Toh dalam bisnis ini jumlah dana yang mengalir tidak sedikit. "Kita akan tahu siapa yang jadi bekingnya," tukas Fatwa. Menanggapi hal ini, Ketua Pelaksana Harian BNN Komjen Sutanto menegaskan, lembaganya sangat mengharapkan peran serta masyarakat. BNN akan menindaklanjuti berbagai informasi yang diberikan oleh masyarakat. BNN juga tidak akan segan-segan menindak siapa pun yang memang terbukti terlibat. "Jadi tolong beri tahu ke saya, jangan hanya dugaan-dugaan saja. Ini bukan gerakan 100 hari tapi gerakan terus menerus, karena narkoba adalah musuh kita bersama. dan harus di tangani dengan serius," tukas Sutanto. (Nala Edwin/)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     
Baca Juga

Share:

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
Lapsus Index »
Cari Penawaran Terbaik di Sini