Mau Dikonfirmasi Soal Tahanan Tewas & Disiksa, Hamid Ngacir

Gede Suardana - detikNews
Rabu, 04/05/2005 12:50 WIB
Nusa Dua - Entah mengapa, Menkum HAM Hamid Awaluddin malah menggunakan 'jurus langkah seribu' saat begitu banyak peristiwa yang harus segera mendapat konfirmasi darinya. Peristiwa paling gres adalah tewasnya narapidana kasus korupsi Iwan Zulkarnain (37) di kamar mandi salah satu sel LP Permisan Nusakambangan pada 2 Mei 2005. Di tubuh terpidana 16 tahun akibat korupsi Rp 40,9 miliar itu ditemukan sejumlah luka. Misalnya di kepala bagian belakang, memar di kelopak mata, bibir, telinga, luka lecet di tangan, dan tiga giginya patah. Kasus kedua adalah seorang tahanan di LP Penfui Kupang bernama Alfred Ullu (24) yang disiksa 5 petugas LP hingga kedua matanya buta dan memar di sekujur tubuhnya akibat pukulan tangan. Meski sudah menjadi buta, Alfred tidak diizinkan berobat keluar. Alfred merupakan tahanan Polresta Kupang karena dilaporkan oleh pihak keluarga pacarnya lantaran memukul pacarnya. Karena menunggu persidangan, Alfred dipindahkan tempat penahanannya ke LP Penfui Kupang. Setelah dua kasus mengerikan itu, wartawan masih memiliki beberapa daftar pertanyaan yang memerlukan konfirmasi Hamid. Antara lain soal dualisme kepengurusan partai yang sama-sama mendaftar ke Depkum HAM seperti PDIP, PKB, dan PBR. Lalu ada juga soal permintaan ekstradisi dari Australia terhadap terdakwa kasus narkoba Schapelle Leigh Corby dengan tuntutan penjara seumur hidup yang sedang dalam proses peradilan di PN Denpasar Bali. Sayangnya, Hamid justru mengindar. Sikap itu mengecewakan wartawan karena sebelumnya Hamid sudah berjanji akan meladeni wartawan setelah mengikuti sebuah acara. Tunggu punya tunggu, Hamid malah ngacir lewat pintu belakang. Hamid pada awalnya menemani Presiden SBY menghadiri acara pembukaan Konferensi dan Pertemuan Tahunan ke-15 Inter Pacific Bar Association (IPBA) di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, Rabu (4/5/2005). Usai pembukaan acara, Hamid mengantar SBY ke lobi BICC. Begitu SBY masuk mobil, dia balik ke ruang Nusantara BICC tempat acara berlangsung. Wartawan pun menyerbu Hamid. Semula hanya belasan wartawan, kemudian semakin bertambah jadi puluhan. Hamid pun terkepung. "Pak minta waktu wawancara," pinta wartawan. "Oh nggak, nggak ada waktu wawancara. Saya lagi mengikuti acara, sebentar lagi akan dimulai," kilah Hamid. "Nanti setelah selesai acara," janjinya. Mendegar janji Hamid, wartawan pun mundur teratur meski kecewa. Wartawan pun bertahan di pintu masuk ruang Nusantara. Namun seorang panitia meminta wartawan pergi dari pintu. "Maaf, hari ini tidak ada jadwal wawancara untuk Pak Hamid," tukasnya. Perdebatan pun terjadi. "Memangnya harus ada jadwal wawancara. Kan bisa kapan saja. Kamu yang ngundang kok sekarang kamu yang ngusir," sergah wartawan. Meski demikian wartawan akhirnya menjauh dari pintu dan duduk-duduk di salah sudut ruangan yang tak jauh dari pintu. Panitia kemudian menutup rapat pintu ruang Nusantara. Tak lama kemudian, seorang peserta keluar dari ruang Nusantara. Beberapa wartawan mewawancarainya mengenai jalannya acara. "Pak Hamid sudah pulang lewat pintu belakang," celetuknya tiba-tiba meski tidak ada yang tanya. Kaget mendengar hal itu, wartawan pun segera bertanya kepada panitia. "Acara pembukaan sudah selesai. Pak Hamid sudah pulang," ujar panitia dengan santai. "Lewat mana?" tanya wartawan. "Nggak tahu," sahut panitia dengan enteng. Wartawan pun hanya bisa kecewa dan dongkol. Berbagai peristiwa yang akan dikonfirmasi kepada Hamid pun mengambang. (sss/)

Share:

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Lapsus Index »
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel