Turunnya Angka Korupsi Indonesia Hanya Data Artifisial
Kamis, 25/09/2008 00:12 WIB
Jakarta -
Naiknya Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia dari 2,3 menjadi 2,6 dinilai hanya berupa data artifisial yang tidak substansial. Kesuksesan KPK mengungkap kasus-kasus korupsi di lingkungan DPR, Kejaksaan, dan Kepolisian diakui menentukan naiknya IPK. Hanya saja dalam pengungkapannya, KPK masih tebang pilih.
"Walaupun wilayah-wilayah tersebut yang sekarang sudah di sentuh, saya pikir kenaikan IPK sampai 0,3 itu masih artifisial, belum substansi. Hanya pemain kacangannya yang kena," ujar pengamat dari Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM Zainal Arifin Mukhtar.
Menurut pria yang akrab disapa Uceng ini, kenaikan IPK bukan berarti prestasi besar bagi KPK karena kasus-kasus tindak pidana korupsi yang terungkap masih melibatkan banyak koruptor yang dibiarkan lepas. KPK masih tebang pilih karena hanya mencari satu koruptor dalam satu kasus.
"Hamka Yandhu memang terungkap, tapi Paskah Suzetta-nya malah dibiarkan melenggang kangkung. Kasus lain di Kejagung, Urip, kenapa Kemas yang jelas-jelas terbukti tidak kena? Kenapa Untung juga tidak? BI juga tokoh sentralnya Aulia Pohan tidak kena," cecar staf pengajar di Fakultas Hukum UGM ini.
Menurut Uceng, jika Indonesia menghendaki prestasi yang riil, tidak cukup dengan model tebang pilih semacam itu. Semua pelaku korupsi harus ditangkap tanpa kecuali.
"Ini prestasi iya, tapi prestasi bukan ranking segitu. Yang dicari tetap ranking 1 kan? Masih artifisiallah. Kalau mau cari yang riil harus tangkap sekarang semuanya," tegasnya.
Meski demikian, Uceng berpendapat peningkatan IPK itu harus tetap diapresiasi dan ditanggapi dengan rasa gembira.
"Yah, untuk sebuah data adanya peningkatan harus diapresiasi. Kita bisa gembira. Tapi kita juga harus melihat sentuhan-sentuhan yang belum substantif itu," pungkas Uceng.
Setiap tahun Transparansi Internasional menerbitkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang mengurutkan negara-negara di dunia berdasarkan persepsi (anggapan) publik terhadap korupsi di jabatan publik dan politis. Tahun ini IPK Indonesia berada di urutan ke-126 dengan skor 2,6, atau naik 0,3 dibandingkan IPK 2007 lalu. (vna/sho)
"Walaupun wilayah-wilayah tersebut yang sekarang sudah di sentuh, saya pikir kenaikan IPK sampai 0,3 itu masih artifisial, belum substansi. Hanya pemain kacangannya yang kena," ujar pengamat dari Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM Zainal Arifin Mukhtar.
Menurut pria yang akrab disapa Uceng ini, kenaikan IPK bukan berarti prestasi besar bagi KPK karena kasus-kasus tindak pidana korupsi yang terungkap masih melibatkan banyak koruptor yang dibiarkan lepas. KPK masih tebang pilih karena hanya mencari satu koruptor dalam satu kasus.
"Hamka Yandhu memang terungkap, tapi Paskah Suzetta-nya malah dibiarkan melenggang kangkung. Kasus lain di Kejagung, Urip, kenapa Kemas yang jelas-jelas terbukti tidak kena? Kenapa Untung juga tidak? BI juga tokoh sentralnya Aulia Pohan tidak kena," cecar staf pengajar di Fakultas Hukum UGM ini.
Menurut Uceng, jika Indonesia menghendaki prestasi yang riil, tidak cukup dengan model tebang pilih semacam itu. Semua pelaku korupsi harus ditangkap tanpa kecuali.
"Ini prestasi iya, tapi prestasi bukan ranking segitu. Yang dicari tetap ranking 1 kan? Masih artifisiallah. Kalau mau cari yang riil harus tangkap sekarang semuanya," tegasnya.
Meski demikian, Uceng berpendapat peningkatan IPK itu harus tetap diapresiasi dan ditanggapi dengan rasa gembira.
"Yah, untuk sebuah data adanya peningkatan harus diapresiasi. Kita bisa gembira. Tapi kita juga harus melihat sentuhan-sentuhan yang belum substantif itu," pungkas Uceng.
Setiap tahun Transparansi Internasional menerbitkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang mengurutkan negara-negara di dunia berdasarkan persepsi (anggapan) publik terhadap korupsi di jabatan publik dan politis. Tahun ini IPK Indonesia berada di urutan ke-126 dengan skor 2,6, atau naik 0,3 dibandingkan IPK 2007 lalu. (vna/sho)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 12/02/2012 03:12 WIB
10 Korban Tragedi Bus Karunia Bakti Luka Berat, Mayoritas Patah Tulang
-
Minggu, 12/02/2012 02:19 WIB
Polisi Libatkan Saksi Ahli dalam Pengukuran Kecepatan Bus Karunia Bakti
-
Minggu, 12/02/2012 01:38 WIB
Biayai Gapura Mapolres dengan Dana Pribadi, Kapolres Kukar Disorot
-
Minggu, 12/02/2012 01:19 WIB
Banjir Rendam Komplek Dosen IKIP Jatibening Bekasi
-
Minggu, 12/02/2012 00:44 WIB
Petaka Bus Maut Cisarua, Motor Ketua RT Batu Kasur pun Ikut Ringsek
-
Sabtu, 11/02/2012 13:02 WIB
Astaga! Restoran di Malaysia Tawarkan 'Hidangan' Seks
-
Minggu, 12/02/2012 01:38 WIB
Biayai Gapura Mapolres dengan Dana Pribadi, Kapolres Kukar Disorot
-
Sabtu, 11/02/2012 19:05 WIB
Kisah Anggota DPR Akbar Faisal dan Aksi Tolak FPI di Bandara Palangkaraya
-
Sabtu, 11/02/2012 12:51 WIB
Ditolak di Palangkaraya, 5 Anggota FPI Diturunkan Sriwijaya di Banjarmasin
-
438 Komentar
-
377 Komentar
-
348 Komentar
-
229 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 600.000
- Rp 863.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

