Samakan Soeharto dengan Pendiri Bangsa Tabrak Fatsoen Politik
Jumat, 21/11/2008 16:09 WIB
Foto: dok detikcom
Jakarta -
Soeharto, dalam iklan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) disamakan dengan para pendiri bangsa. Sikap ini dinilai menabrak fatsoen politik reformasi dan sendi kehidupan berbangsa.
"Semangat menyamakan Soeharto dengan pendiri bangsa telah menabrak fatsoen politik reformasi dan sendi kehidupan berbangsa," kritik Koordinator Kontras Usman Hamid, Jumat (21/11/2008).
Usman menolak dimasukkan dalam 104 pemimpin muda versi PKS. Aktivis HAM ini memprotes sikap PKS yang tidak merevisi iklannya yang menjadikan mantan penguasa Orde Baru itu sebagai guru bangsa dan pahlawan.
Diingatkan Usman, status hukum Soeharto masih tersangka korupsi. Tidak ada deponir jaksa agung. Tidak ada abolisi presiden. Tidak ada pencabutan Tap MPR tentang pemberantasan KKN, pengadilan Soeharto dan kroninya. "Hal-hal semacam ini harus dilihat jujur, bukan malah mempahlawankan Soeharto," terang Usman.
Bagi Usman, masalah merevisi iklan PKS bukan apakah langkah itu akan mengurangi suara partai, tapi kejujuran pada masalah dan realitas ketidakadilan masa lalu dan kesadaran untuk hidup bersama dalam nilai moral reformasi.
Penggiat HAM ini mengkritik PKS sebagai bentuk kehendak menghapus upaya terselubung untuk melupakan kejahatan masa lalu. "Soeharto bukan personifikasi kebebasan, kesederajatan, dan penghormatan martabat manusia. Itulah ide yang patut kita perjuangkan bersama sebagai sebuah jiwa dan prinsip spiritual berbangsa," kata Usman.
(iy/gus)
"Semangat menyamakan Soeharto dengan pendiri bangsa telah menabrak fatsoen politik reformasi dan sendi kehidupan berbangsa," kritik Koordinator Kontras Usman Hamid, Jumat (21/11/2008).
Usman menolak dimasukkan dalam 104 pemimpin muda versi PKS. Aktivis HAM ini memprotes sikap PKS yang tidak merevisi iklannya yang menjadikan mantan penguasa Orde Baru itu sebagai guru bangsa dan pahlawan.
Diingatkan Usman, status hukum Soeharto masih tersangka korupsi. Tidak ada deponir jaksa agung. Tidak ada abolisi presiden. Tidak ada pencabutan Tap MPR tentang pemberantasan KKN, pengadilan Soeharto dan kroninya. "Hal-hal semacam ini harus dilihat jujur, bukan malah mempahlawankan Soeharto," terang Usman.
Bagi Usman, masalah merevisi iklan PKS bukan apakah langkah itu akan mengurangi suara partai, tapi kejujuran pada masalah dan realitas ketidakadilan masa lalu dan kesadaran untuk hidup bersama dalam nilai moral reformasi.
Penggiat HAM ini mengkritik PKS sebagai bentuk kehendak menghapus upaya terselubung untuk melupakan kejahatan masa lalu. "Soeharto bukan personifikasi kebebasan, kesederajatan, dan penghormatan martabat manusia. Itulah ide yang patut kita perjuangkan bersama sebagai sebuah jiwa dan prinsip spiritual berbangsa," kata Usman.
(iy/gus)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 12/02/2012 12:03 WIB
Pantau Lapas, Wamenkum HAM Perbanyak Monitor CCTV di Ruang Kerja
-
Minggu, 12/02/2012 11:48 WIB
Tunggu Jam Baik, Hendardji-Rizapatria Mendaftar ke KPUD DKI Jakarta
-
Minggu, 12/02/2012 11:38 WIB
Bus Tabrak Delman, Motor dan Truk di Majalengka, 3 Orang Tewas
-
Minggu, 12/02/2012 11:22 WIB
Melarikan Diri, Hukuman Sopir Karunia Bakti Harus Lebih Berat
-
Minggu, 12/02/2012 11:02 WIB
Dua Ormas di Bali Bentrok, Mobil dan Rumah Dirusak
-
Minggu, 12/02/2012 09:20 WIB
CCTV Indomaret Merekam Detik-detik Bus Karunia Bakti Nyungsep
-
Minggu, 12/02/2012 10:52 WIB
Korban Kecelakaan Bus Karunia Bakti Sempat Minta Minuman ke Indomaret
-
Minggu, 12/02/2012 11:02 WIB
Dua Ormas di Bali Bentrok, Mobil dan Rumah Dirusak
-
Minggu, 12/02/2012 10:30 WIB
Harakiri Ala Demokrat
-
495 Komentar
-
436 Komentar
-
373 Komentar
-
229 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 863.000
- Rp 1,407.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

