Kolom
Haji Mabyur?
Jumat, 19/12/2008 15:06 WIB
Moskow -
Apabila kehidupan masyarakat tetap penuh kerusakan dan maksiat, tentu para haji itu punya andil. Semangat para nabi kurang berhasil mereka tularkan ke lingkungannya.
Mulai minggu ini, kloter pertama haji Indonesia telah mulai mengalir kembali ke tanah air, setelah sekitar sebulan digembleng di tanah suci. Para haji akan kita sambut dengan sukacita, karena mereka baru saja berhasil melakukan napak tilas untuk mewarisi akhlak para nabi besar. Diharapkan akhlakul karimah tersebut dapat ditularkan untuk perbaikan bangsa.
Para haji diyakini memiliki sebuah kekuatan besar yang dipetik dari prosesi napak tilas di tanah suci. Berpakaian ihram yang hanya dua helai saja pasti akan menitiskan suatu semangat kesederhanaan dan meninggalkan kerlap-kerlip dunia yang serba wah. Mengingatkan bahwa pada saat kematian tiba, harta karun tidak akan dibawa ke liang kubur, kecuali lembaran kain putih. Sedangkan sa’i antara Sofa dan Marwa mengisyaratkan tentang usaha tidak mengenal henti untuk mencapai tujuan mulia.
Melempar jumrah memberi pelajaran untuk menghindari berbagai kemaksiatan yang jelas akan mendatangkan keburukan. Simbol pelemparan beberapa kerikil kearah 'sarang setan' terkutuk adalah cara yang diajarkan Tuhan agar manusia tidak henti-hentinya menepis ajakan setan, meskipun di tengah gulita malam. Di sisi lain, putaran di sisi Ka’bah mengisyaratkan bahwa manusia hanyalah salah satu partikel dalam hidup ini dan pasti akan berjalan sesuai hukum Tuhan. Kesombongan tentang keakuan harus ditinggalkan dan kesadaran akan kerdilnya diri ditimbulkan.
Dr. Ali Syariati dalam bukunya Makna Haji (2001) yang diterjemahkan dalam beberapa bahasa, menjelaskan bahwa haji merupakan revolusi lahir dan batin untuk membebaskan manusia dari belenggu tuhan-tuhan palsu, seperti uang dan kekuasaan. Haji merupakan pertunjukan tentang “penciptaan”, “keesaan”, “ideologi Islam” dan “Ummah”.
Nurcholis Madjid (1977) menilai haji adalah laku religius atas perintah Tuhan dan napak tilas hamba-hamba Allah yang suci. Tanda ketundukan dan kemabruran adalah kesadaran dan praktek untuk komitmen solidaritas sosial. Haji adalah ibadah individu yang berimplikasi sosial.
Dengan berbagai keterangan di atas, sangat bisa dimengerti bahwa para haji yang kembali akan mendapatkan penghormatan yang tidak kalah dengan para pejuang. Mereka tentulah orang-orang pilihan Tuhan yang dikirim ke berbagai bangsa, kota dan desa untuk melakukan perbaikan moral bagi lingkungannya. Dengan semangat akhlak para anbiya, mereka akan selalu menegakkan kebenaran dan berani melawan kemungkaran. Berbagai bangsa, kota dan desa yang telah kedatangan haji, akan menjadi semacam “baldatun toyyibatun wa robbun ghofur”, masyarakat yang adil, makmur di bawah rahmat Tuhan yang Maha Pengasih.
Di negeri seperti Indonesia yang setiap tahun mengirimkan lebih dari 250 ribu utusannya ke tanah suci untuk belajar tentang arti hidup yang sesungguhnya melalui ajaran para nabi, tentunya akan menjadi negeri suri teladan dunia. Sebab, sampai saat ini sudah jutaan orang yang digembleng dan kemudian pulang memberikan pencerahan kepada lingkungannya. Mereka ini tentu saja bukan hanya petani, tetapi juga saudagar, guru, seniman, budayawan, politisi hingga pejabat negara.
Ketika pulang ke tanah air, para haji itu pastilah kembali ke habitatnya semula. Karenanya, masyarakat merindukan para haji itu segera menyirami lahan-lahan garapan mereka dengan air surgawi sehingga tidak ada lagi onar, tidak ada lagi gejolak, tidak ada lagi pertikaian dan tidak ada lagi gonjang-ganjing. Karena kedatangan jutaan haji dalam kurun waktu beberapa tahun, tentunya masyarakat berharap tidak ada lagi money politics, tidak ada lagi exploitation de l’home par l’home, tidak ada lagi seperti istilah Qur’an “orang yang tega memakan bangkai temannya.”
Wajar saja kalau umat berharap bahwa para haji itu menjadi pionir masyarakat yang mengajari kebajikan dan mensuritauladani pengingkaran terhadap kemaksiatan. Umat pasti berharap para haji itu tidak menjalani ibadah haji hanya sebagai lips service, agar terpandang, naik popularitasnya dan kemudian makin tinggi pangkatnya. Mereka yang berangkat ke tanah suci pastilah tidak berdoa untuk mencari pesugihan ataupun minta agar jabatannya dapat langgeng selama hayatnya.
Nah, apabila dalam kehidupan masyarakat Indonesia tetap gonjang ganjing, tidak menentu, serta banyak fitnah dilakukan demi keuntungan sesaat, tentu para haji yang berjumlah jutaan itu punya andil, karena mereka berada di semua lini kehidupan, dan berada di setiap tingkatan masyarakat. Tentu saja mereka tidak bisa disalahkan seratus persen. Namun setidaknya, semangat para nabi kurang berhasil mereka tularkan ke lingkungannya, desanya, kotanya dan bangsanya.
Lebih ngeri lagi, dan ini tentu tidak kita harapkan (naudzubillahi min dzalik), jika sebagian para haji itu memang berniat ke tanah suci bukan untuk mewarisi semangat para nabi, melainkan untuk berbagai "tujuan jangka pendek" di dunia, apapun namanya. Bila itu yang terjadi, tentu masyarakat tidak perlu lagi mengelu-elukan kadatangan para haji seperti itu, karena mereka memang bukan pahlawan yang dinantikan.
Mereka adalah para badut yang mengenakan topeng kehidupan, para pemain sandiwara unggulan. Tapi satu hal pasti, Tuhan akan memberikan keadilan: apakah yang bersangkutan mabrur (diberkati) atau sekedar mabyur (murus perut di pesawat). Semoga para haji Indonesia bukan termasuk golongan terakhir ini. Wallahu a’lam bishawab.
Keterangan Penulis: M. Aji Surya adalah alumnus UII, UI, UGM dan Pondok Modern Gontor kini tinggal di Moskow, Rusia. (es/es)
Mulai minggu ini, kloter pertama haji Indonesia telah mulai mengalir kembali ke tanah air, setelah sekitar sebulan digembleng di tanah suci. Para haji akan kita sambut dengan sukacita, karena mereka baru saja berhasil melakukan napak tilas untuk mewarisi akhlak para nabi besar. Diharapkan akhlakul karimah tersebut dapat ditularkan untuk perbaikan bangsa.
Para haji diyakini memiliki sebuah kekuatan besar yang dipetik dari prosesi napak tilas di tanah suci. Berpakaian ihram yang hanya dua helai saja pasti akan menitiskan suatu semangat kesederhanaan dan meninggalkan kerlap-kerlip dunia yang serba wah. Mengingatkan bahwa pada saat kematian tiba, harta karun tidak akan dibawa ke liang kubur, kecuali lembaran kain putih. Sedangkan sa’i antara Sofa dan Marwa mengisyaratkan tentang usaha tidak mengenal henti untuk mencapai tujuan mulia.
Melempar jumrah memberi pelajaran untuk menghindari berbagai kemaksiatan yang jelas akan mendatangkan keburukan. Simbol pelemparan beberapa kerikil kearah 'sarang setan' terkutuk adalah cara yang diajarkan Tuhan agar manusia tidak henti-hentinya menepis ajakan setan, meskipun di tengah gulita malam. Di sisi lain, putaran di sisi Ka’bah mengisyaratkan bahwa manusia hanyalah salah satu partikel dalam hidup ini dan pasti akan berjalan sesuai hukum Tuhan. Kesombongan tentang keakuan harus ditinggalkan dan kesadaran akan kerdilnya diri ditimbulkan.
Dr. Ali Syariati dalam bukunya Makna Haji (2001) yang diterjemahkan dalam beberapa bahasa, menjelaskan bahwa haji merupakan revolusi lahir dan batin untuk membebaskan manusia dari belenggu tuhan-tuhan palsu, seperti uang dan kekuasaan. Haji merupakan pertunjukan tentang “penciptaan”, “keesaan”, “ideologi Islam” dan “Ummah”.
Nurcholis Madjid (1977) menilai haji adalah laku religius atas perintah Tuhan dan napak tilas hamba-hamba Allah yang suci. Tanda ketundukan dan kemabruran adalah kesadaran dan praktek untuk komitmen solidaritas sosial. Haji adalah ibadah individu yang berimplikasi sosial.
Dengan berbagai keterangan di atas, sangat bisa dimengerti bahwa para haji yang kembali akan mendapatkan penghormatan yang tidak kalah dengan para pejuang. Mereka tentulah orang-orang pilihan Tuhan yang dikirim ke berbagai bangsa, kota dan desa untuk melakukan perbaikan moral bagi lingkungannya. Dengan semangat akhlak para anbiya, mereka akan selalu menegakkan kebenaran dan berani melawan kemungkaran. Berbagai bangsa, kota dan desa yang telah kedatangan haji, akan menjadi semacam “baldatun toyyibatun wa robbun ghofur”, masyarakat yang adil, makmur di bawah rahmat Tuhan yang Maha Pengasih.
Di negeri seperti Indonesia yang setiap tahun mengirimkan lebih dari 250 ribu utusannya ke tanah suci untuk belajar tentang arti hidup yang sesungguhnya melalui ajaran para nabi, tentunya akan menjadi negeri suri teladan dunia. Sebab, sampai saat ini sudah jutaan orang yang digembleng dan kemudian pulang memberikan pencerahan kepada lingkungannya. Mereka ini tentu saja bukan hanya petani, tetapi juga saudagar, guru, seniman, budayawan, politisi hingga pejabat negara.
Ketika pulang ke tanah air, para haji itu pastilah kembali ke habitatnya semula. Karenanya, masyarakat merindukan para haji itu segera menyirami lahan-lahan garapan mereka dengan air surgawi sehingga tidak ada lagi onar, tidak ada lagi gejolak, tidak ada lagi pertikaian dan tidak ada lagi gonjang-ganjing. Karena kedatangan jutaan haji dalam kurun waktu beberapa tahun, tentunya masyarakat berharap tidak ada lagi money politics, tidak ada lagi exploitation de l’home par l’home, tidak ada lagi seperti istilah Qur’an “orang yang tega memakan bangkai temannya.”
Wajar saja kalau umat berharap bahwa para haji itu menjadi pionir masyarakat yang mengajari kebajikan dan mensuritauladani pengingkaran terhadap kemaksiatan. Umat pasti berharap para haji itu tidak menjalani ibadah haji hanya sebagai lips service, agar terpandang, naik popularitasnya dan kemudian makin tinggi pangkatnya. Mereka yang berangkat ke tanah suci pastilah tidak berdoa untuk mencari pesugihan ataupun minta agar jabatannya dapat langgeng selama hayatnya.
Nah, apabila dalam kehidupan masyarakat Indonesia tetap gonjang ganjing, tidak menentu, serta banyak fitnah dilakukan demi keuntungan sesaat, tentu para haji yang berjumlah jutaan itu punya andil, karena mereka berada di semua lini kehidupan, dan berada di setiap tingkatan masyarakat. Tentu saja mereka tidak bisa disalahkan seratus persen. Namun setidaknya, semangat para nabi kurang berhasil mereka tularkan ke lingkungannya, desanya, kotanya dan bangsanya.
Lebih ngeri lagi, dan ini tentu tidak kita harapkan (naudzubillahi min dzalik), jika sebagian para haji itu memang berniat ke tanah suci bukan untuk mewarisi semangat para nabi, melainkan untuk berbagai "tujuan jangka pendek" di dunia, apapun namanya. Bila itu yang terjadi, tentu masyarakat tidak perlu lagi mengelu-elukan kadatangan para haji seperti itu, karena mereka memang bukan pahlawan yang dinantikan.
Mereka adalah para badut yang mengenakan topeng kehidupan, para pemain sandiwara unggulan. Tapi satu hal pasti, Tuhan akan memberikan keadilan: apakah yang bersangkutan mabrur (diberkati) atau sekedar mabyur (murus perut di pesawat). Semoga para haji Indonesia bukan termasuk golongan terakhir ini. Wallahu a’lam bishawab.
Keterangan Penulis: M. Aji Surya adalah alumnus UII, UI, UGM dan Pondok Modern Gontor kini tinggal di Moskow, Rusia. (es/es)
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita ยป
-
Sabtu, 11/02/2012 16:09 WIB
Kernet Bus Karunia Bakti Bisa Selamat Setelah Masuk Kolong Jok
-
Sabtu, 11/02/2012 15:59 WIB
Boediono Sebut Wajahnya Mirip dengan Ketua DPD
-
Sabtu, 11/02/2012 15:57 WIB
JK Minta Kontrol Terhadap Bus Juga Diperketat
-
Sabtu, 11/02/2012 15:50 WIB
Kernet Bus Maut Menyerahkan Diri Ke Polres Garut.
-
Sabtu, 11/02/2012 15:46 WIB
Bentrok Antarwarga di Ambon, 300 Rumah Terbakar & 5 Tewas
-
Sabtu, 11/02/2012 13:02 WIB
Astaga! Restoran di Malaysia Tawarkan 'Hidangan' Seks
-
Sabtu, 11/02/2012 14:15 WIB
Warga Sweeping FPI, 2,5 Jam Bandara Palangkaraya Tak Beroperasi
-
Sabtu, 11/02/2012 12:51 WIB
Ditolak di Palangkaraya, 5 Anggota FPI Diturunkan Sriwijaya di Banjarmasin
-
Sabtu, 11/02/2012 10:29 WIB
Miliki Payudara Alami Ukuran 30L, Wanita Inggris Merana
-
229 Komentar
-
191 Komentar
-
177 Komentar
-
160 Komentar
Lapsus
Index ยป
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 600.000
- Rp 863.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message

---125x125.gif)
.gif)

