Imam Besar Istiqlal: Perempuan Berkalung Sorban Fitnah Terhadap Pesantren
Jumat, 06/02/2009 11:36 WIB
Jakarta -
Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yaqub menilai film Perempuan Berkalung Sorban telah menyakiti umat Islam, dan kalangan pesantren. Film yang dibintangi Revalina S Temat ini telah sangat buruk mencitrakan Islam. Tidak hanya itu, film itu juga merupakan fitnah terhadap pesantren.
"Pencitraan tentang pesantren sangat disayangkan sekali, bahkan saya berani mengatakan itu bukan hanya merusak citra saja tapi memfitnah itu," kata Ali Mustafa Yakub kepada detikcom di rumahnya di Pisangan, Ciputat.
Ali Mustofa selain menjadi imam besar masjid Istiqlal juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia juga menjadi guru besar Ilmu hadist dan mengasuh Pondok Pesantren Daarus Sunnah.
Perempuan Berkalung Sorban menceritakan perlawanan Anissa, seorang santriwati terhadap pengekangan perempuan di pesantren. Dalam film itu, Annisa berkata Islam tidak adil terhadap perempuan. Film menampilkan diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan ulama dengan dalih agama, seperti perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan tidak boleh naik kuda, perempuan tidak perlu berpendapat dan perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya.
Berikut wawancara detikcom dengan Ali Mustofa Yakub:
Bagaimana tanggapan Bapak terhadap film Perempuan Berkalung Sorban?
Saya belum pernah menonton film itu. Tidak pernah, dan tidak akan pernah. Namun untuk mendapatkan informasi itu tidak harus menonton filmnya. Banyak kawan-kawan yang kredibel telah melihat film itu, dan dia menginformasikan kepada kami banyak hal-hal yang menurut mereka menyakitkan hati.
Apa yang menyakitkan hati?
Pertama, pencitraan Islam yang sangat buruk. Seolah-olah Islam mengajarkan yang tidak sesuai perkembangan zaman, misalnya, seorang perempuan tidak boleh keluar rumah untuk belajar dan sebagainya sesuai dengan mahromnya dan sebagainya itu.
Kedua, yang menyakitkan itu adalah penggambaran tentang pesantren. Pencitraan tentang pesantren sangat disayangkan sekali, bahkan saya berani mengatakan itu bukan hanya merusak citra saja tapi memfitnah itu. Mereka ada yang bilang begitu.
Memang dalam Islam bagaimana?
Islam tidak pernah melarang wanita untuk keluar rumah untuk belajar misalnya. Itu ada dalil hadistnya : Janganlah kamu mencegah perempuan-perempuan untuk pergi ke masjid. Konteksnya pada masa Nabi dahulu, pergi ke masjid itu untuk beribadah dan juga untuk belajar kepada Nabi.
Termasuk wanita tidak boleh naik kuda itu. Padahal istri Nabi, Siti Aisyah, naik onta balapan dengan Nabi, biasa itu. Ini hadist penetapan (takhriri), dan penetapan itu artinya membolehkan. Kalau andai wanita haram menaiki onta, tentu Nabi dahulu sudah pasti melarang. Kalau dalam konteks sekarang, naik onta itu bisa disamakan naik kuda, atau naik kendaraan bermotor.
Tapi, film ini diangkat dari kisah nyata santriwati di pesantren?
Ya mungkin memang ada. Tapi itu mungkin lokal saja. Itu tradisi lokal, bukan mencerminkan tradisi pesantren secara keseluruhan. Bahkan tidak mencerminkan Islam.
Mungkin ada seorang yang melarang anak perempuannya begini begitu, tapi itu sifatnya lokal saja dan kasuistis, tapi dengan dibuat film seperti ini, jadi tergeneralisir seolah-olah pesantren seperti itu.
Kalau memang menyakiti Islam dan pesantren, lalu film ini sebaiknya bagaimana?
Saya malah menganjurkan tidak usah nonton aja. Selesai. Karena memang film ini akan dapat menimbulkan salah paham terhadap islam dan terhadap pesantren.
Tapi sementara sebaiknya ditarik dulu film itu, dan diperbaiki yang salah-salah. Diluruskan hal-hal yang mencitrakan keliru Islam dan pesantren. Tapi perlu ada tim yang melihat secara khusus, yakni orang yang mengerti pesantren dan ahli Islam.
Setelah diperbaiki, ya, terserah produser mau ditayangkan lagi atau tidak. (Rez/iy)
"Pencitraan tentang pesantren sangat disayangkan sekali, bahkan saya berani mengatakan itu bukan hanya merusak citra saja tapi memfitnah itu," kata Ali Mustafa Yakub kepada detikcom di rumahnya di Pisangan, Ciputat.
Ali Mustofa selain menjadi imam besar masjid Istiqlal juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia juga menjadi guru besar Ilmu hadist dan mengasuh Pondok Pesantren Daarus Sunnah.
Perempuan Berkalung Sorban menceritakan perlawanan Anissa, seorang santriwati terhadap pengekangan perempuan di pesantren. Dalam film itu, Annisa berkata Islam tidak adil terhadap perempuan. Film menampilkan diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan ulama dengan dalih agama, seperti perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan tidak boleh naik kuda, perempuan tidak perlu berpendapat dan perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya.
Berikut wawancara detikcom dengan Ali Mustofa Yakub:
Bagaimana tanggapan Bapak terhadap film Perempuan Berkalung Sorban?
Saya belum pernah menonton film itu. Tidak pernah, dan tidak akan pernah. Namun untuk mendapatkan informasi itu tidak harus menonton filmnya. Banyak kawan-kawan yang kredibel telah melihat film itu, dan dia menginformasikan kepada kami banyak hal-hal yang menurut mereka menyakitkan hati.
Apa yang menyakitkan hati?
Pertama, pencitraan Islam yang sangat buruk. Seolah-olah Islam mengajarkan yang tidak sesuai perkembangan zaman, misalnya, seorang perempuan tidak boleh keluar rumah untuk belajar dan sebagainya sesuai dengan mahromnya dan sebagainya itu.
Kedua, yang menyakitkan itu adalah penggambaran tentang pesantren. Pencitraan tentang pesantren sangat disayangkan sekali, bahkan saya berani mengatakan itu bukan hanya merusak citra saja tapi memfitnah itu. Mereka ada yang bilang begitu.
Memang dalam Islam bagaimana?
Islam tidak pernah melarang wanita untuk keluar rumah untuk belajar misalnya. Itu ada dalil hadistnya : Janganlah kamu mencegah perempuan-perempuan untuk pergi ke masjid. Konteksnya pada masa Nabi dahulu, pergi ke masjid itu untuk beribadah dan juga untuk belajar kepada Nabi.
Termasuk wanita tidak boleh naik kuda itu. Padahal istri Nabi, Siti Aisyah, naik onta balapan dengan Nabi, biasa itu. Ini hadist penetapan (takhriri), dan penetapan itu artinya membolehkan. Kalau andai wanita haram menaiki onta, tentu Nabi dahulu sudah pasti melarang. Kalau dalam konteks sekarang, naik onta itu bisa disamakan naik kuda, atau naik kendaraan bermotor.
Tapi, film ini diangkat dari kisah nyata santriwati di pesantren?
Ya mungkin memang ada. Tapi itu mungkin lokal saja. Itu tradisi lokal, bukan mencerminkan tradisi pesantren secara keseluruhan. Bahkan tidak mencerminkan Islam.
Mungkin ada seorang yang melarang anak perempuannya begini begitu, tapi itu sifatnya lokal saja dan kasuistis, tapi dengan dibuat film seperti ini, jadi tergeneralisir seolah-olah pesantren seperti itu.
Kalau memang menyakiti Islam dan pesantren, lalu film ini sebaiknya bagaimana?
Saya malah menganjurkan tidak usah nonton aja. Selesai. Karena memang film ini akan dapat menimbulkan salah paham terhadap islam dan terhadap pesantren.
Tapi sementara sebaiknya ditarik dulu film itu, dan diperbaiki yang salah-salah. Diluruskan hal-hal yang mencitrakan keliru Islam dan pesantren. Tapi perlu ada tim yang melihat secara khusus, yakni orang yang mengerti pesantren dan ahli Islam.
Setelah diperbaiki, ya, terserah produser mau ditayangkan lagi atau tidak. (Rez/iy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
WawancaraTerbaru
Indeks Wawancara »
-
Senin, 06/02/2012 15:13 WIB
Bagir Manan: Harus The Best One yang Jadi Ketua MA
-
Kamis, 02/02/2012 09:28 WIB
Asrorun Niam: Berkaca Kasus Vita, Waspada Jaringan Eksploitasi Anak
-
Selasa, 31/01/2012 17:54 WIB
Hanta Yuda: PD Harus Gerak Cepat Agar Tak Habis Dimakan Rayap
-
Sabtu, 28/01/2012 08:13 WIB
Anas Urbaningrum: Politik Itu Keras, Harus Siap Lahir Batin
-
Sabtu, 28/01/2012 04:09 WIB
Bupati Garut: Silakan Lakukan Penelitian Harta Karun di Sadahurip
-
Sabtu, 11/02/2012 19:05 WIB
Kisah Anggota DPR Akbar Faisal dan Aksi Tolak FPI di Bandara Palangkaraya
-
Sabtu, 11/02/2012 13:02 WIB
Astaga! Restoran di Malaysia Tawarkan 'Hidangan' Seks
-
Minggu, 12/02/2012 01:38 WIB
Biayai Gapura Mapolres dengan Dana Pribadi, Kapolres Kukar Disorot
-
Sabtu, 11/02/2012 20:08 WIB
Sebelum Bus Karunia Bakti Nyungsep , Tanah Bergetar & Terdengar Gemuruh
-
436 Komentar
-
375 Komentar
-
348 Komentar
-
229 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 863.000
- Rp 600.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

