Polemik Survei LSI

Meski Janggal, Kubu SBY Pede Menang Satu Putaran

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 10/06/2009 14:26 WIB
Jakarta - Kubu Partai Demokrat (PD) dan mitra koalisinya sangat sumringah. Moncernya elektabilitas SBY-Boediono membuat partai-partai pendukung pasangan SBY-Boediono merasa pede akan memenangkan Pemilu Presiden (Pilpres) 2009.

Menurut hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), yang dirilis Kamis pekan lalu, SBY-Boediono memperoleh 70% suara. Di posisi kedua diduduki Mega-Prabowo dengan perolehan jauh di bawahnya, hanya 18% suara. JK-Wiranto di posisi terakhir dengan angka cuma 7%.

Bagi Kubu SBY, hasil survei itu seolah mengisyaratkan jagoanya menang di Pilpres 8 Juli mendatang dalam satu putaran. "Itu sebuah isyarat. Selanjutnya kerja keras dan nasib," jelas Wakil Ketua DPP PD Mubarok saat dihubungi detikcom.

Mubarok mengaku sangat yakin dengan hasil survei yang dirilis LSI. Soalnya lembaga survei milik Syaiful Mujani tersebut sudah bekerja untuk PD sejak 2003. Tugas LSI adalah mengawal isu-isu yang berkembang terkait PD dan SBY.

Menjelang Pilpres urusan LSI kemudian ditangani Fox Indonesia, sebuah lembaga pencitraan milik Rizal Mallarangeng, untuk memenangkan SBY-Boediono.

"Kalau ada isu yang menyerang SBY maupun PD, LSI langsung melakukan survei. Apakah isu tersebut berpengaruh atau tidak terhadap citra SBY," ungkap Mubarok.

Namun terkait pendanaan yang diungkapkan Mubarok berbeda dengan Ketua DPP PD Anas Urbaningrum. Karena sebelumnya Anas membantah kalau FOX yang membiayai LSI. Kata Anas, sepengetahuannya Fox hanya sebagai konsultan kampanye. "Kami juga baru tahu kalau LSI dipakai Fox," kata Anas.

Tapi yang jelas, hasil survei LSI yang dibayar tim SBY-Boediono menuai banyak kecaman. Apalagi survei yang sejatinya untuk konsumsi internal dibeber ke publik. Alhasil, suvei yang memenangkan SBY-Boediono itu dianggap sebagai pesanan.

"Kenapa tidak sekalian saja 99 %? Sekarang sudah keluar di media, jangan-jangan ada pesan sponsor. Yang obyektif saja. Kita punya alat ukur kita sendiri yang dilakukan pihak internal," jelas cawapres Prabowo Subianto.

Selain Mega-Prabowo, kubu JK-Wiranto juga tidak senang dengan pemaparan hasil tersebut. Apalagi pasangan ini ditempatkan di posisi buncit, dengan hanya meraih 7%.

"Kenapa nggak sekalian satu persen saja? Golkar dan Hanura saja jika digabung 20 %, dan kita kenal Golkar dan Hanura itu pendukungnya setia, masa hanya dapat 7 %? Ini sama saja menghina masyarakat Sulawesi Tengah. Penduduk Sulteng sendiri 2,5 % dari pemilih. Belum lagi Sulsel dan daerah-daerah lain," begitu kata Jusuf Kalla (JK).

Survei LSI tersebut kemudian dianggap sebagai penggiringan opini. Tujuannya, untuk membuat persepsi kalau SBY masih sangat populer sehingga dapat menggiring masyarakat untuk memilih SBY-Boediono kelak.

Sekjen Asosiasi Riset dan Opini Publik Indonesia (Aropi) Umar S Bakrie menilai, dari hasil evaluasi terkait hasil survei LSI, banyak hal yang agak menyimpang. Misalnya soal angka 70% serta pendanaan hasil survei tersebut.

"Kalau dilihat dari trennya di masyarakat, memang elektabilitas SBY-Boediono masih unggul dibanding Mega-Prabowo maupun JK-Wiranto. Tapi angkanya tidak sebanyak itu (70%)," ujar Umar kepada detikcom.

Mengenai pendanaan, lanjut Umar, berdasarkan kode etik lembaga survei memang harus diumumkan juga. Supaya publik mengetahui siapa yang membiayai survei tersebut.

"Sangat disayangkan LSI menjelaskan siapa penyandang dananya setelah ditanya wartawan. Seharusnya penyandang dana juga diungkapkan saat pemaparan hasil survei," pungkasnya.

(ddg/iy)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:

Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini