Polemik Survei LSI
Siap Tutup Kantor Jika Prediksi Meleset
Rabu, 10/06/2009 15:18 WIB
Jakarta -
Di atas secarik kertas Johan O Silalahi mencoret-corek perkiraan suara dukungan bagi pasangan JK-Wiranto. Dari hasil oret-oretan Johan menunjukan kalau suara JK-Wiranto tidak sejeblok hasil yang dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI), yang hanya meraih 7%.
Asumsi yang dikemukakan pendiri Johan's Foundation tersebut, saat ini dukungan terhadap pasangan JK-Wiranto terus mengalir. Terutama dari massa Islam.
"Dari modal yang dimiliki Golkar, Hanura dan partai pendukung saja sudah mencapai 20%. Nggak mungkin lah kalau JK-Wiranto hanya dapat 7% sedangkan SBY-Boediono mencapai 70%," jelas Johan saat berbincang-bincang dengan detikcom.
Dijelaskan Johan, pendapatnya tersebut bukan omong kosong. Sebab sebelum merapat ke JK-Wiranto dirinya sejak 2003 hingga Agustus 2008 mendapat order survei dari Partai Demokrat (PD) dan SBY.
Johan bercerita, pada Agustus 2008, LRI ditugasi mensurvei opini publik terhadap kinerja pemerintahan SBY. Survei tersebut dilakukan di daerah-daerah yang menjadi kantong suara SBY di Pilpres 2004.
Saat itu, ungkap Johan, hasilnya sangat mengejutkan. Karena ternyata sebanyak 63% responden mengaku kecewa dengan kinerja SBY. Bukan itu saja. Di bulan yang sama, hasil survei LRI menunjukan kalau elektabilitas SBY merosot drastis hingga 26%.
"Jadi sangat aneh jika tiba-tiba sekarang tingkat elektabilitas SBY bisa melonjak hingga 70%, seperti kata LSI," ujar Johan.
Apalagi, imbuh Johan, dari Agustus 2008 hingga akhir Mei 2009, tidak ada peristiwa atau kejadian menarik yang memungkinkan elektabilitas SBY meningkat, sekalipun SBY meminta bantuan lembaga pencitraan Fox Indonesia.
Itu sebabnya LRI kemudian merilis hasil survei terkait elektabilitas pasangan capres-cawapres yang akan bertarung di pilpres 8 Juli mendatang. Hasilnya, perolehan suara SBY diperkirakan mencapai 33 %, JK 29 %, dan Megawati 20 %.
Dengan hasil tersebut, Johan sanksi kalau pilpres mendatang akan berlangsung satu putaran. Bahkan dirinya mengaku siap menutup lembaga riset miliknya jika ternyata pilpres benar-benar berlangsung satu putaran.
"Kalau Pilpres berlangsung satu putaran saya berani menutup lembaga saya. Tapi kalau nanti Pilpresnya dua putaran mereka juga (LSI) harus berani menutup lembaga mereka," tantangnya.
Pihak yang juga tidak percaya dengan survei LSI tentu saja tim sukses JK-Wiranto. Soalnya dalam survei internal yang mereka lakukan eletabilitas JK-Wiranto menunjukkan angka yang signifikan, yakni sekitar 35%-40%.
Jubir JK-Wiranto, Yuddy Chrisnandi mengatakan, meningkatnya elektabilitas JK-Wiranto lantaran derasnya dukungan masyarakat akhir-akhir ini, terutama dari ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah dan ormas lainnya.
Selain dari kalangan Islam kubu JK-Wiranto juga mengklaim telah mendapat simpati dari sejumlah kalangan lantaran pasangan tersebut merepresentasikan nusantara, serta sipil-militer.
"Kombinasi Jawa-Luar Jawa dan sipil-militer membuat JK-Wiranto mendapat banyak dukungan dari semua kalangan," begitu kata Yuddy.
Yuddy menganggap, hasil survei LSI yang dibiayai Fox Indonesia, merupakan bentuk kepanikan terhadap gencarnya dukungan masyarakat terhadap lawan-lawannya. Sehingga menempatkan pasangan capres-cawapres lain di angka yang tidak rasional.
"Ini bentuk pelecehan sistematis demi kepentingan pemenangan capres tertentu. Sehingga merekayasa sedemikian rupa hasil survei," ujar Yuddy.
Terkait silang-sengketa hasil survei pasangan capres-cawapres, menurut ketua Perhimpunan Survei dan Opini Publik Indonesia (PSOPI) Andrinof Chaniago, bisa dilihat dengan metodelaginya serta penyebaran responden.
Survei yang baik, kata Andrinof, terlihat dari distribusi serta profil demografis. Misalnya berdasarkan tingkat pendidikan, cakupan penyebaran sampel, serta populasi jumlah penduduk.
Andrinof tidak mau menyebutkan lembaga survei yang mana yang lebih valid hasilnya. Sebab meleset tidaknya hasil survei baru dapat dilihat dari perolehan pasangan capres-cawapres di pilpres mendatang.
"Hasil survei mana yang lebih akurat bisa dilihat setelah perolehan suara capres. Saat ini belum bisa," terang Andrinof.
Direktur lembaga survei Cirus ini menjelaskan, jika di pilpres perolehan suara SBY-Boediono berkisar 50% hingga 55%, berarti LSI yang lebih akurat. Sebaliknya, jika ternyata SBY-Boediono hanya mendapat 40% berarti LRI yang akurat.
(ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda



Asumsi yang dikemukakan pendiri Johan's Foundation tersebut, saat ini dukungan terhadap pasangan JK-Wiranto terus mengalir. Terutama dari massa Islam.
"Dari modal yang dimiliki Golkar, Hanura dan partai pendukung saja sudah mencapai 20%. Nggak mungkin lah kalau JK-Wiranto hanya dapat 7% sedangkan SBY-Boediono mencapai 70%," jelas Johan saat berbincang-bincang dengan detikcom.
Dijelaskan Johan, pendapatnya tersebut bukan omong kosong. Sebab sebelum merapat ke JK-Wiranto dirinya sejak 2003 hingga Agustus 2008 mendapat order survei dari Partai Demokrat (PD) dan SBY.
Johan bercerita, pada Agustus 2008, LRI ditugasi mensurvei opini publik terhadap kinerja pemerintahan SBY. Survei tersebut dilakukan di daerah-daerah yang menjadi kantong suara SBY di Pilpres 2004.
Saat itu, ungkap Johan, hasilnya sangat mengejutkan. Karena ternyata sebanyak 63% responden mengaku kecewa dengan kinerja SBY. Bukan itu saja. Di bulan yang sama, hasil survei LRI menunjukan kalau elektabilitas SBY merosot drastis hingga 26%.
"Jadi sangat aneh jika tiba-tiba sekarang tingkat elektabilitas SBY bisa melonjak hingga 70%, seperti kata LSI," ujar Johan.
Apalagi, imbuh Johan, dari Agustus 2008 hingga akhir Mei 2009, tidak ada peristiwa atau kejadian menarik yang memungkinkan elektabilitas SBY meningkat, sekalipun SBY meminta bantuan lembaga pencitraan Fox Indonesia.
Itu sebabnya LRI kemudian merilis hasil survei terkait elektabilitas pasangan capres-cawapres yang akan bertarung di pilpres 8 Juli mendatang. Hasilnya, perolehan suara SBY diperkirakan mencapai 33 %, JK 29 %, dan Megawati 20 %.
Dengan hasil tersebut, Johan sanksi kalau pilpres mendatang akan berlangsung satu putaran. Bahkan dirinya mengaku siap menutup lembaga riset miliknya jika ternyata pilpres benar-benar berlangsung satu putaran.
"Kalau Pilpres berlangsung satu putaran saya berani menutup lembaga saya. Tapi kalau nanti Pilpresnya dua putaran mereka juga (LSI) harus berani menutup lembaga mereka," tantangnya.
Pihak yang juga tidak percaya dengan survei LSI tentu saja tim sukses JK-Wiranto. Soalnya dalam survei internal yang mereka lakukan eletabilitas JK-Wiranto menunjukkan angka yang signifikan, yakni sekitar 35%-40%.
Jubir JK-Wiranto, Yuddy Chrisnandi mengatakan, meningkatnya elektabilitas JK-Wiranto lantaran derasnya dukungan masyarakat akhir-akhir ini, terutama dari ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah dan ormas lainnya.
Selain dari kalangan Islam kubu JK-Wiranto juga mengklaim telah mendapat simpati dari sejumlah kalangan lantaran pasangan tersebut merepresentasikan nusantara, serta sipil-militer.
"Kombinasi Jawa-Luar Jawa dan sipil-militer membuat JK-Wiranto mendapat banyak dukungan dari semua kalangan," begitu kata Yuddy.
Yuddy menganggap, hasil survei LSI yang dibiayai Fox Indonesia, merupakan bentuk kepanikan terhadap gencarnya dukungan masyarakat terhadap lawan-lawannya. Sehingga menempatkan pasangan capres-cawapres lain di angka yang tidak rasional.
"Ini bentuk pelecehan sistematis demi kepentingan pemenangan capres tertentu. Sehingga merekayasa sedemikian rupa hasil survei," ujar Yuddy.
Terkait silang-sengketa hasil survei pasangan capres-cawapres, menurut ketua Perhimpunan Survei dan Opini Publik Indonesia (PSOPI) Andrinof Chaniago, bisa dilihat dengan metodelaginya serta penyebaran responden.
Survei yang baik, kata Andrinof, terlihat dari distribusi serta profil demografis. Misalnya berdasarkan tingkat pendidikan, cakupan penyebaran sampel, serta populasi jumlah penduduk.
Andrinof tidak mau menyebutkan lembaga survei yang mana yang lebih valid hasilnya. Sebab meleset tidaknya hasil survei baru dapat dilihat dari perolehan pasangan capres-cawapres di pilpres mendatang.
"Hasil survei mana yang lebih akurat bisa dilihat setelah perolehan suara capres. Saat ini belum bisa," terang Andrinof.
Direktur lembaga survei Cirus ini menjelaskan, jika di pilpres perolehan suara SBY-Boediono berkisar 50% hingga 55%, berarti LSI yang lebih akurat. Sebaliknya, jika ternyata SBY-Boediono hanya mendapat 40% berarti LRI yang akurat.
(ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru
Indeks Laporan Khusus »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Senin, 06/02/2012 10:22 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Menyeret Siapa?
-
Senin, 06/02/2012 10:19 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Siasat Judi Sponsor Miranda
-
Senin, 30/01/2012 09:47 WIB
Hantu Rp 500 M Proyek DPR (4)
Marzuki Alie: Silakan Proyek DPR Dibuka Semua
-
Kamis, 09/02/2012 05:57 WIB
Avanza Tabrak Truk di Tol Cipularang, 1 Orang Tewas
-
Kamis, 09/02/2012 00:08 WIB
Tim Investigasi: Jembatan Kukar Salah Sejak Perencanaan
-
Rabu, 08/02/2012 21:35 WIB
Direktur Lion Air Stres Pilotnya Ditangkap Nyabu
-
Kamis, 09/02/2012 05:34 WIB
KPK Tak Pernah Cekal Orang Saat Proses Penyelidikan
-
229 Komentar
-
196 Komentar
-
176 Komentar
-
166 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Senin, 06/02/2012 15:13 WIB
Bagir Manan: Harus The Best One yang Jadi Ketua MA
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 1,419.000
- Rp 605.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer




_2.gif)


Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

