Nonton Komedi Capres
Jumat, 12/06/2009 10:35 WIB
Jakarta -
Pekan kemarin kita melihat 'puitisasi' yang berubah jadi drama komedi. Tiga pasang capres dan cawapres sebagai aktornya. Mbak Mega mengawali tampil dengan sengatan gaya kalajengking. Mengkritisi 'sutradara' yang tak tepat waktu. Itu karena jadwalnya ditunda-tunda, dan disebutnya sebagai kriminal politik. Kejahatan politik. Dalam kesusasteraan tipikal Emha Ainun Nadjib.
Sang wakil, Prabowo, dengan gaya patriotisme, berusaha menggugah rakyat dengan slogan mandiri dan berdikari. Idiom-idiom masa pergerakan dipakai. Seperti iklan-iklannya di televisi, kita merasa mirip negeri terjajah, perlu memobilisasi rakyat untuk melawan penjajahan itu. Gaya yang diambil adalah khas puisi pamflet WS Rendra.
SBY dengan gaya melodrama, mengajak para kompetitor untuk bersaing secara etis dan berbudaya. Kata-katanya liris penuh pesan moral, mirip penyair Afrizal Malna. Sedang Boediono yang saat tampil di Bandung energik serta nikmat dilihat dan didengar itu, ketika deklarasi agak loyo, janji mengabdi pada rakyat. Gayanya milik penyair Madura, Abdul Hadi WM.
Giliran capres ketiga adalah JK. Kendati yang diucapkan normatif, tapi tampilan santai membuatnya cukup menghibur. Penyair Zawawi Imron yang sekarang jadi ustad itu akan tersenyum-senyum jika sedang melihat cara ucap JK. Itu karena mempunyai kesamaan matra.
Sedang Wiranto sebagai penutup, dia berharap rakyat memberi amanah untuk kebaikan bersama. Kalimatnya yang mengalir tanpa tekanan akan mengingatkan pada Sapardi Djoko Damono kalau sedang membacakan puisi.
Baca-membaca gaya deklamasi dari penyair itu terlihat dalam deklarasi damai tiga pasang calon pemimpin negeri ini. Mereka bersepakat bersaing sehat. Tidak saling menjelek-jelekkan, juga tidak bakal ribut-ribut. Tapi deklarasi itu, kendati punya stile para penyair kita, toh tidak diucapkannya dengan sumringah dan senyum lepas. Wajah mereka tampak tegang dengan tatapan mata nyalang. Ada sinisme yang tersembunyi. Dan ada emosi yang tersumbat. Adakah ini yang disebut kedamaian dalam sinis, dan sinisme dalam damai?
Kalau tulisan ini sebagai evaluasi pertunjukan, tiga kontestan presiden dan wakil presiden mendatang itu tidak lulus sebagai penampil terbaik. Deklarasi damai tiga pasangan capres dan cawapres pekan lalu itu banyak cacat. Deklamasinya tidak memukau publik karena tidak ditopang sikap arif dan bijaksana. Puitisasinya tidak memikat karena intonasi dan diksinya kurang mengena. Sedang dari sisi akting dan bloking, semuanya kedodoran. Didekati dari sisi kesenian, ketiganya belum mampu menghadirkan 'sedetik yang memukau' esensi dari berhasilnya sebuah pagelaran.
'Ketidakberhasilan' ketiganya menurut saya bukan karena demam panggung. Sebab mereka adalah politisi berpengalaman. Tapi yang membuatnya jadi kedodoran, itu karena ambisi dan sikap melihat yang lain sebagai lawan. Lawan yang harus dilawan. Dan lawan yang harus dikalahkan.
Akibatnya, ketiga pasang calon pemimpin negeri itu lupa ruang dan waktu. Mereka lupa sedang berakting. Akting untuk menggugah batin rakyat agar bersimpati. Menunjukkan sebagai yang terbaik, dan sertamerta menjatuhkan pilihan sejak tampil bareng. Sayang semuanya gagal. Malah yang muncul justru ketelanjangan diri yang harusnya ditutup-tutupi. Ini alasan saya menyebutnya sebagai komedi. Ketiganya tidak sedang melawak. Tapi karena yang muncul adalah ketelanjangan diri, jadinya kalau dicermati, sikap dan gaya mereka berorasi jadi lucu.
Adakah kalau proper-test 'berkesenian' ini jeblok mereka jeblok pula sebagai pemimpin kelak? Bagi saya, ini memang 'pagelaran baru'. Skenario baru, sutradara baru, aktor dan aktris baru. Untuk itu, lepas baik dan buruk 'garapan' mereka, maka kata maaf masih layak disandingkan. Untuk itu, harusnya kritik yang dilepas tidak perlu diambil hati. Apalagi yang datang dari para nayaga (crew) sendiri. Soalnya, wong sama-sama masih belajar. Kalaulah ada kritikan, itu nadanya juga sama. Masih dalam kapasitas 'belajar' mengritik.
Selamat bagi ketiga pasang calon presiden dan wakil presiden Indonesia yang kini telah menapaki babakan baru. Kami sebagai rakyat sedang menunggu. Adakah janji-janji itu akan ditepati. Ataukah janji yang terucap itu untuk dilanggar dalam kampanye yang digelar hari-hari ini.
(iy/iy)
Sang wakil, Prabowo, dengan gaya patriotisme, berusaha menggugah rakyat dengan slogan mandiri dan berdikari. Idiom-idiom masa pergerakan dipakai. Seperti iklan-iklannya di televisi, kita merasa mirip negeri terjajah, perlu memobilisasi rakyat untuk melawan penjajahan itu. Gaya yang diambil adalah khas puisi pamflet WS Rendra.
SBY dengan gaya melodrama, mengajak para kompetitor untuk bersaing secara etis dan berbudaya. Kata-katanya liris penuh pesan moral, mirip penyair Afrizal Malna. Sedang Boediono yang saat tampil di Bandung energik serta nikmat dilihat dan didengar itu, ketika deklarasi agak loyo, janji mengabdi pada rakyat. Gayanya milik penyair Madura, Abdul Hadi WM.
Giliran capres ketiga adalah JK. Kendati yang diucapkan normatif, tapi tampilan santai membuatnya cukup menghibur. Penyair Zawawi Imron yang sekarang jadi ustad itu akan tersenyum-senyum jika sedang melihat cara ucap JK. Itu karena mempunyai kesamaan matra.
Sedang Wiranto sebagai penutup, dia berharap rakyat memberi amanah untuk kebaikan bersama. Kalimatnya yang mengalir tanpa tekanan akan mengingatkan pada Sapardi Djoko Damono kalau sedang membacakan puisi.
Baca-membaca gaya deklamasi dari penyair itu terlihat dalam deklarasi damai tiga pasang calon pemimpin negeri ini. Mereka bersepakat bersaing sehat. Tidak saling menjelek-jelekkan, juga tidak bakal ribut-ribut. Tapi deklarasi itu, kendati punya stile para penyair kita, toh tidak diucapkannya dengan sumringah dan senyum lepas. Wajah mereka tampak tegang dengan tatapan mata nyalang. Ada sinisme yang tersembunyi. Dan ada emosi yang tersumbat. Adakah ini yang disebut kedamaian dalam sinis, dan sinisme dalam damai?
Kalau tulisan ini sebagai evaluasi pertunjukan, tiga kontestan presiden dan wakil presiden mendatang itu tidak lulus sebagai penampil terbaik. Deklarasi damai tiga pasangan capres dan cawapres pekan lalu itu banyak cacat. Deklamasinya tidak memukau publik karena tidak ditopang sikap arif dan bijaksana. Puitisasinya tidak memikat karena intonasi dan diksinya kurang mengena. Sedang dari sisi akting dan bloking, semuanya kedodoran. Didekati dari sisi kesenian, ketiganya belum mampu menghadirkan 'sedetik yang memukau' esensi dari berhasilnya sebuah pagelaran.
'Ketidakberhasilan' ketiganya menurut saya bukan karena demam panggung. Sebab mereka adalah politisi berpengalaman. Tapi yang membuatnya jadi kedodoran, itu karena ambisi dan sikap melihat yang lain sebagai lawan. Lawan yang harus dilawan. Dan lawan yang harus dikalahkan.
Akibatnya, ketiga pasang calon pemimpin negeri itu lupa ruang dan waktu. Mereka lupa sedang berakting. Akting untuk menggugah batin rakyat agar bersimpati. Menunjukkan sebagai yang terbaik, dan sertamerta menjatuhkan pilihan sejak tampil bareng. Sayang semuanya gagal. Malah yang muncul justru ketelanjangan diri yang harusnya ditutup-tutupi. Ini alasan saya menyebutnya sebagai komedi. Ketiganya tidak sedang melawak. Tapi karena yang muncul adalah ketelanjangan diri, jadinya kalau dicermati, sikap dan gaya mereka berorasi jadi lucu.
Adakah kalau proper-test 'berkesenian' ini jeblok mereka jeblok pula sebagai pemimpin kelak? Bagi saya, ini memang 'pagelaran baru'. Skenario baru, sutradara baru, aktor dan aktris baru. Untuk itu, lepas baik dan buruk 'garapan' mereka, maka kata maaf masih layak disandingkan. Untuk itu, harusnya kritik yang dilepas tidak perlu diambil hati. Apalagi yang datang dari para nayaga (crew) sendiri. Soalnya, wong sama-sama masih belajar. Kalaulah ada kritikan, itu nadanya juga sama. Masih dalam kapasitas 'belajar' mengritik.
Selamat bagi ketiga pasang calon presiden dan wakil presiden Indonesia yang kini telah menapaki babakan baru. Kami sebagai rakyat sedang menunggu. Adakah janji-janji itu akan ditepati. Ataukah janji yang terucap itu untuk dilanggar dalam kampanye yang digelar hari-hari ini.
(iy/iy)
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
KolomTerbaru
Indeks Kolom ยป
-
Jumat, 10/02/2012 13:27 WIB
Catatan Agus Pambagio
BRTI, Apa Kabar Pulsa Saya?
-
Senin, 06/02/2012 19:23 WIB
Kolom
Bangsa ini Saatnya Meneladani Kejujuran Nabi Muhammad SAW
-
Selasa, 31/01/2012 10:21 WIB
Kolom
Siapapun Ketuanya, Ibas Tetap Sekjen
-
Senin, 30/01/2012 09:42 WIB
Catatan Agus Pambagio
Politisasi Pencurian Pulsa
-
Senin, 30/01/2012 08:55 WIB
Amuk Massa di Bima Harus Dicegah Tidak Terulang
-
Minggu, 12/02/2012 15:16 WIB
Kecelakaan Angkot di KM 27 Jagorawi, 12 Orang Luka-luka
-
Minggu, 12/02/2012 15:32 WIB
DPRD Bali Desak KPK Usut RS Unud karena Diduga Terkait Nazaruddin
-
Minggu, 12/02/2012 13:54 WIB
Bentrok Ormas di Bali Dipicu Miras
-
Minggu, 12/02/2012 12:49 WIB
Polisi: Bentrokan di Bali Melibatkan Dua Ormas Besar
-
578 Komentar
-
459 Komentar
-
375 Komentar
-
230 Komentar
Lapsus
Index ยป
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 600.000
- Rp 863.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

