KPK: Nomor yang Disadap Bukan Milik Rhani Atau Nasrudin
Senin, 22/06/2009 14:28 WIB
Jakarta -
Atas perintah Ketua KPK Antasari Azhar, KPK menyadap beberapa nomor telepon. Penyadapan dilakukan dua bulan untuk menelusuri apakah ada ancaman untuk menghentikan pengusutan kasus korupsi. Namun, dalam penyadapan itu tidak ditemukan ancaman itu. Tidak satu pun dari beberapa nomor telepon itu yang beratasnamakan Rhani atau Nasrudin.
"Setelah kita telusuri, tidak ada satu pun telepon yang beratasnamakan R (Rhani) atau N (Nasrudin). Jadi tidak ada satu pun beratasnamakan R atau N," tegas Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah dalam jumpa pers di gedung KPK, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (22/6/2009). Dalam jumpa pers ini, Chandra didampingi tiga pimpinan KPK lainnya, yaitu Haryono Umar, M Jasin, dan Bibid Slamet Riyanto.
Namun Chandra menolak memberikan keterangan siapa pemilik nomor-nomor telepon yang disadap itu. "Kita tidak bisa memberikan informasi itu nomor siapa. Tapi yang pasti tidak berhubungan dengan perkara korupsi," kata dia.
Chandra memastikan tidak ada pelanggaran apa pun dalam perintah penyadapan itu. "Tidak ada pelanggaran dalam perintah penyadapan ini," kata Chandra.
Sesuai SOP, permintaan penyadapan harus diajukan salah satu pimpinan KPK dan pimpinan KPK bisa meloloskan permintaan itu. Pemantauan dilakukan hanya untuk kasus yang berhubungan dengan kasus korupsi. Dan pada saat itu, Antasari memerintahkan penyadapan itu karena ada dugaan terkait kasus korupsi.
Kisahnya, awal Januari lalu, Antasari menyampaikan bahwa istrinya, Ida Laksmiwati, sempat diancam seorang laki-laki. Pria itu meminta Antasari tidak melanjutkan suatu perkara korupsi. Kemudian Antasari memberikan nomor telepon yang diduga menyuruh pria tidak dikenal itu.
"Nomor-nomor itu saya berikan ke penyelidik untuk dipantau tanpa diketahui nama dan siapa pemilik HP itu," kata dia.
Namun, setelah dua bulan dipantau, tidak ada indikasi adanya ancaman dalam pengusutan korupsi dari nomor-nomor telepon itu. "Maka di awal Maret, pemantauan itu dihentikan," ujar dia. "Berdasarkan data dari provider tidak satu pun nama menunjukkan itu Rhani dan Nasrudin," kata sambung Chandra.
Saat ditanya wartawan apakah ada permintaan perpanjangan penyadapan dari Antasari, Chandra membantahnya. Penyadapan dilakukan dua bulan. Hasil bahwa tidak ditemukan adanya keterkaitan kasus korupsi dari penyadapan itu juga sudah disampaikan ke Antasari.
"Tidak ada permohonan perpanjangan penyadapan dari Pak Antasari. Kita bekerja berdasarkan penyelidikan yang sudah ada. Dan begitu dicek, awal Maret kita hentikan karena tidak ada perkara korupsi," kata dia. (nal/iy)
"Setelah kita telusuri, tidak ada satu pun telepon yang beratasnamakan R (Rhani) atau N (Nasrudin). Jadi tidak ada satu pun beratasnamakan R atau N," tegas Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah dalam jumpa pers di gedung KPK, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (22/6/2009). Dalam jumpa pers ini, Chandra didampingi tiga pimpinan KPK lainnya, yaitu Haryono Umar, M Jasin, dan Bibid Slamet Riyanto.
Namun Chandra menolak memberikan keterangan siapa pemilik nomor-nomor telepon yang disadap itu. "Kita tidak bisa memberikan informasi itu nomor siapa. Tapi yang pasti tidak berhubungan dengan perkara korupsi," kata dia.
Chandra memastikan tidak ada pelanggaran apa pun dalam perintah penyadapan itu. "Tidak ada pelanggaran dalam perintah penyadapan ini," kata Chandra.
Sesuai SOP, permintaan penyadapan harus diajukan salah satu pimpinan KPK dan pimpinan KPK bisa meloloskan permintaan itu. Pemantauan dilakukan hanya untuk kasus yang berhubungan dengan kasus korupsi. Dan pada saat itu, Antasari memerintahkan penyadapan itu karena ada dugaan terkait kasus korupsi.
Kisahnya, awal Januari lalu, Antasari menyampaikan bahwa istrinya, Ida Laksmiwati, sempat diancam seorang laki-laki. Pria itu meminta Antasari tidak melanjutkan suatu perkara korupsi. Kemudian Antasari memberikan nomor telepon yang diduga menyuruh pria tidak dikenal itu.
"Nomor-nomor itu saya berikan ke penyelidik untuk dipantau tanpa diketahui nama dan siapa pemilik HP itu," kata dia.
Namun, setelah dua bulan dipantau, tidak ada indikasi adanya ancaman dalam pengusutan korupsi dari nomor-nomor telepon itu. "Maka di awal Maret, pemantauan itu dihentikan," ujar dia. "Berdasarkan data dari provider tidak satu pun nama menunjukkan itu Rhani dan Nasrudin," kata sambung Chandra.
Saat ditanya wartawan apakah ada permintaan perpanjangan penyadapan dari Antasari, Chandra membantahnya. Penyadapan dilakukan dua bulan. Hasil bahwa tidak ditemukan adanya keterkaitan kasus korupsi dari penyadapan itu juga sudah disampaikan ke Antasari.
"Tidak ada permohonan perpanjangan penyadapan dari Pak Antasari. Kita bekerja berdasarkan penyelidikan yang sudah ada. Dan begitu dicek, awal Maret kita hentikan karena tidak ada perkara korupsi," kata dia. (nal/iy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita ยป
-
Sabtu, 11/02/2012 05:05 WIB
Kepala Terminal Garut: Bus Karunia Bakti Laik Jalan
-
Sabtu, 11/02/2012 04:17 WIB
Detik-detik Tabrakan Maut di Cisarua: Penjual Bakso Terpental ke Jurang
-
Sabtu, 11/02/2012 03:58 WIB
9 Jam Setelah Kecelakaan Maut, Cisarua Arah Jakarta Macet Total
-
Sabtu, 11/02/2012 02:47 WIB
Jasa Raharja Santuni Korban Tewas Kecelakaan Bus Maut Rp 25 Juta
-
Sabtu, 11/02/2012 02:21 WIB
Korban Tabrakan Bus Maut: Saya Lagi Tidur, Tiba-tiba Duaarrr...
-
Sabtu, 11/02/2012 05:44 WIB
Foto-foto Kecelakaan Maut di Cisarua
-
Sabtu, 11/02/2012 04:17 WIB
Detik-detik Tabrakan Maut di Cisarua: Penjual Bakso Terpental ke Jurang
-
Sabtu, 11/02/2012 01:33 WIB
Kesaksian Penumpang Bus Maut: Saya Hanya Bisa Teriak dan Berdoa
-
Sabtu, 11/02/2012 02:21 WIB
Korban Tabrakan Bus Maut: Saya Lagi Tidur, Tiba-tiba Duaarrr...
-
230 Komentar
-
190 Komentar
-
176 Komentar
-
159 Komentar
Lapsus
Index ยป
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 863.000
- Rp 600.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

