Laporan Khusus Lain

Indeks Laporan Khusus




Senin, 29/06/2009 10:04 WIB
Elektabilitas SBY Anjlok
Melorot Karena Banyak Kader Membelot
Deden Gunawan - detikNews

Jakarta - Johan Silalahi hanya senyum-senyum saja ketika dimintai komentar soal turunnya elektabilitas (tingkat keterpilihan) pasangan SBY-Boediono yang dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI). Pendiri Johan Foundation yang menggarap iklan serial negarawan untuk Jusuf Kalla (JK) menganggap data itu bukan suatu kejutan.

"Jauh-jauh hari kita (Lembaga Riset Indonesia) sudah mengungkapkan penurunan itu. Malah dari survei yang kami lakukan persentasi SBY-Boediono turun hingga 48 %," jelas Johan kepada detikcom.

Menurut Johan, penurunan elektabilitas SBY sudah bisa diprediksi sejak Jusuf Kalla (JK) didepak dan mengambil Boediono sebagai cawapres. Langkah tersebut dianggap sebagai blunder bagi SBY.

Johan yang sebelumnya sempat menantang LSI untuk tutup kantor ini memprediksi, penurunan elektabilitas SBY akan semakin meningkat saat pencontrengan. "Bukan hanya turun tapi persentasenya bakal anjlok," tandas Johan.

Sebelumnya sejumlah lembaga survei telah memprediksi kalau elektabilitas SBY trendnya mulai menurun. Misalnya dari hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang menyatakan  tingkat keterpilihan SBY-Boediono berada di angka 52,5 %.

Adapun Lembaga Survei Nasional (LSN) yang diketuai Umar S Bakry mengungkapkan, tingkat keterpilihan SBY-Boediono pada awal Juni lalu tinggal 62 % atau turun 9 % dari hasil survei yang dilakukan LSN sebulan sebelumnya.

Sementara hasil survei Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial Politik Indonesia (PKSPSPI) jauh lebih drastis. Dari hasil survei yang dirilis lembaga tersebut pada 11 Juni lalu, tercatat pasangan SBY-Boediono hanya meraih 37,05 %.

Belakangan LSI milik Syaiful Mujani, yang sebelumnya mengaku dibayar tim sukses SBY, Fox Indonesia, dalam survei terbarunya menyebutkan angka yang diperoleh SBY-Boediono 67 %. alias turun 3 % dari hasil survei sebelumnya yang sebesar 70%.

Penurunan elektabilitas SBY, kata peneliti utama LSI Iman Suhirman, lantaran dua pasangan capres-cawapres lain belakangan semakin gencar melakukan kampanye, baik lewat iklan maupun penggalangan massa.

"Penurunan elektabilitas pasangan incumbent sangat wajar. Sebab mereka lebih memilih bertahan. Sementara para pesaing cenderung lebih agresif dengan mengolah beberapa isu," jelas Iman.

Turunnya tingkat keterpilihan SBY-Boediono akibat isu dibenarkan pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit. Ia mengatakan, penurunan elektabilitas SBY-Boediono karena tim kampanyenya tidak bisa menyelesaikan isu yang dilontarkan kompetitor.

"Tim SBY terlalu defensif. Jadi wajar kalau elektabilitasnya mengalami penurunan," ungkap Arbi saat dihubungi detikcom.

Kondisi berbeda, kata Arbi, ditunjukkan pasangan Mega-Prabowo dan pasangan JK-Wiranto. Dua pasangan ini dianggap cukup lihai dalam menggunakan isu dalam kampanye untuk menyerang pasangan incumbent.

Selain karena pengemasan isu yang baik dari pasangan pesaing, gesekan di internal partai pendukung koalisi pendukung SBY ikut jadi penyebab turunnya pamor SBY.

"Banyak kader partai pendukung koalisi yang tidak solid. Parahnya lagi pimpinan parpol membiarkan kadernya mendukung pasangan lain," jelas Arbi.

Toh sekalipun mengalami penurunan, kubu SBY-Boediono tidak merasa terganggu. "Kita diam saja hanya turun 3 %. Apalagi kalau kita semakin intensif," begitu kata Ruhut Sitompul, yang mengaku sebagai Tim Bayonet pasangan SBY-Boediono saat dihubungi detikcom.

Sampai saat ini, ujar Ruhut, tim sukses SBY-Boediono masih tetap yakin akan memenangkan pilpres dalam satu putaran. Alasannya, dari survei LSI, tingkat dukungan terhadap jagoan mereka masih tetap di atas 50 %.

"Selama ini hasil survei yang kami jadikan patokan hanya LSI. Jadi kami tidak khawatir jika ada lembaga survei yang lain mengatakan Pilpres berlangsung dua putaran," pungkasnya.

(ddg/iy)


GRATIS kaos cantik dan voucher pulsa! ikuti sms berlangganannya, ktk REG DETIK kirim ke 3845 (Telkomsel, Indosat, Three)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (30 Komentar)

Baca juga :

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).