Rilis Elektabilitas SBY Turun, Puskaptis Diputus Trans7
Jumat, 03/07/2009 16:12 WIB
Jakarta -
Trans7 membatalkan sepihak Kontrak Kerjasama soal quick count dengan Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis). Pembatalan itu diduga akibat intervensi kekuatan politik tertentu yang tidak suka dengan hasil survei Puskaptis yang merilis elektabilitas SBY turun.
Hal itu diungkapkan oleh Direktur Puskaptis Husin Yazid kepada detikcom, Jumat (3/7/2009). Menurut Husin, pemutusan kontrak sepihak oleh PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh dikeluarkan pada 23 Juni 2009 melalui surat bernomor 020/DIR-UT yang ditandatangani Direktur Utama Nur Wahyuni Sulistiowati.
"Betul, kontrak kerja sama kami tiba-tiba dibatalkan secara sepihak, kemungkinan akibat kejujuran kami mengungkap turunnya elektabilitas SBY belakangan ini yang sudah 52 persen. Kami sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk menyampaikan somasi," kata Husin.
Menurut dia, dalam surat itu disebutkan 'dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang akhir-akhir ini, dengan sangat menyesal kami sampaikan bahwa kami tidak dapat meneruskan kerja sama berdasarkan Perjanjian No 0031/gl-TRANS7/Mkt/V/09 tanggal 26 Mei 2009'.
Perjanjian yang dimaksud adalah perjanjian penyelenggaraan quick count. Dalam perjanjian itu Puskaptis diminta memberikan hasil quick count secara eksklusif kepada Trans7 secara berkala untuk selanjutnya diproduksi menjadi program, sampai dengan penutupan quick count pada hari pelaksanaan pemilihan umum presiden dan wapres pukul 18.00 WIB. Perjanjian itu berlaku mulai 1 Juni 2009.
"Pembatalan sepihak oleh Trans7 ini membuat kami merugi lebih dari Rp 873 juta. Kerugian itu terjadi karena menjelang quick count Pilpres 8 Juli 2009 mendatang kami telah mengeluarkan dana untuk penentuan titik sample di 33 provinsi, 150 kabupaten kota, 600 kecamatan, dan 1.200
desa/kelurahan," paparnya.
Dugaan adanya intervensi politik terhadap pemutusan sepihak perjanjian PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh dengan Puskaptis menguat, lanjut Yazid, karena dua hari sebelumnya lembaga yang dipimpinnya itu mengeluarkan hasil survei yang mengejutkan. Puskaptis mengumumkan bahwa elektabilitas capres incumbent turun dari 57% menjadi 52%.
"Saya menduga ada intervensi politik. Setelah survei elektabilitas capres SBY turun dari 57% jadi 52%, saya mendengar kabar posisi Puskaptis diganti oleh LSI (Lembaga Survei Indonesia)," ungkap Yazid.
Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari Trans7 tentang pemutusan MoU Puskaptis tersebut.
(yid/asy)
Hal itu diungkapkan oleh Direktur Puskaptis Husin Yazid kepada detikcom, Jumat (3/7/2009). Menurut Husin, pemutusan kontrak sepihak oleh PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh dikeluarkan pada 23 Juni 2009 melalui surat bernomor 020/DIR-UT yang ditandatangani Direktur Utama Nur Wahyuni Sulistiowati.
"Betul, kontrak kerja sama kami tiba-tiba dibatalkan secara sepihak, kemungkinan akibat kejujuran kami mengungkap turunnya elektabilitas SBY belakangan ini yang sudah 52 persen. Kami sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk menyampaikan somasi," kata Husin.
Menurut dia, dalam surat itu disebutkan 'dengan mempertimbangkan situasi yang berkembang akhir-akhir ini, dengan sangat menyesal kami sampaikan bahwa kami tidak dapat meneruskan kerja sama berdasarkan Perjanjian No 0031/gl-TRANS7/Mkt/V/09 tanggal 26 Mei 2009'.
Perjanjian yang dimaksud adalah perjanjian penyelenggaraan quick count. Dalam perjanjian itu Puskaptis diminta memberikan hasil quick count secara eksklusif kepada Trans7 secara berkala untuk selanjutnya diproduksi menjadi program, sampai dengan penutupan quick count pada hari pelaksanaan pemilihan umum presiden dan wapres pukul 18.00 WIB. Perjanjian itu berlaku mulai 1 Juni 2009.
"Pembatalan sepihak oleh Trans7 ini membuat kami merugi lebih dari Rp 873 juta. Kerugian itu terjadi karena menjelang quick count Pilpres 8 Juli 2009 mendatang kami telah mengeluarkan dana untuk penentuan titik sample di 33 provinsi, 150 kabupaten kota, 600 kecamatan, dan 1.200
desa/kelurahan," paparnya.
Dugaan adanya intervensi politik terhadap pemutusan sepihak perjanjian PT Duta Visual Nusantara Tivi Tujuh dengan Puskaptis menguat, lanjut Yazid, karena dua hari sebelumnya lembaga yang dipimpinnya itu mengeluarkan hasil survei yang mengejutkan. Puskaptis mengumumkan bahwa elektabilitas capres incumbent turun dari 57% menjadi 52%.
"Saya menduga ada intervensi politik. Setelah survei elektabilitas capres SBY turun dari 57% jadi 52%, saya mendengar kabar posisi Puskaptis diganti oleh LSI (Lembaga Survei Indonesia)," ungkap Yazid.
Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari Trans7 tentang pemutusan MoU Puskaptis tersebut.
(yid/asy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Senin, 10/08/2009 13:49 WIB
Caleg Terpilih DPRD Muba Sumsel Diduga Berijazah Palsu
-
Kamis, 06/08/2009 20:40 WIB
Tim Mega-Prabowo: Penjelasan KPU tentang DPT di MK Menggelikan
-
Kamis, 06/08/2009 19:36 WIB
Pelaksanaan Pilpres 2009
Sekjen PBB Beri Selamat ke Presiden SBY
-
Kamis, 06/08/2009 19:19 WIB
Ical Diminta Waspadai Kader Pragmatis di Sekelilingnya
-
Kamis, 06/08/2009 18:34 WIB
Dituduh Curang, KPU Ancam Serang Balik
-
Minggu, 12/02/2012 06:42 WIB
3 Kendaraan Terlibat Kecelakaan Beruntun di Tol Jagorawi
-
Minggu, 12/02/2012 08:05 WIB
YLKI: Santunan Rp 25 Juta Bagi Korban Bus Karunia Bakti Tak Cukup
-
Sabtu, 11/02/2012 19:05 WIB
Kisah Anggota DPR Akbar Faisal dan Aksi Tolak FPI di Bandara Palangkaraya
-
Sabtu, 11/02/2012 20:08 WIB
Sebelum Bus Karunia Bakti Nyungsep , Tanah Bergetar & Terdengar Gemuruh
-
448 Komentar
-
403 Komentar
-
360 Komentar
-
229 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 1,407.000
- Rp 600.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

