
Transformasi Teknologi Rendah Karbon, MEFEC Bentuk Global Partnership
Minggu, 12/07/2009 04:20 WIB
Mendag, Obama, dan Menneg LH
Jakarta -
Forum Ekonomi Utama atau Major Economies Forum (MEFEC) telah merampungkan pertemuan di Roma, Italia. Forum menyepakati untuk membentuk Global Partnership bagi tranformasi teknologi rendah karbon dan ramah lingkungan.
"Kedua, pengakuan bahwa sesuai dengan temuan ilmiah, peningkatan suhu global tidak boleh melebihi 2 derajat celcius di atas era pra-industri," kata Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar melalui surat elektronik yang diterima detikcom, Sabtu (11/7/2009).
MEFEC beranggotakan lima negara di antaranya, Indonesia, Australia, dan Korea Selatan. Forum ini turut ambil bagian dalam pertemuan G8 yang berlangsung di Kota L'Aquila, Italia. Sidang G8 tentang perubahan iklim dipimpin Presiden AS Barrack Obama.
Pertemuan MEFEC juga dimaksudkan untuk menyelesaikan draf Declaration of the Leaders of the MEFEC yang belum dapat difinilasasi pada pertemuan sebelumnya di Jutepec, Meksiko, tanggal 22-23 Juni 2009.
Rachmat mengatakan, MEFEC akan terus mengidentifikasi tujuan global penurunan emisi global tahun 2050 dari saat ini hingga Copenhagen dengan berdasar pada prinsip Konvensi dan Bali Action Plan.
"Rujukan mengeni penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan termasuk dukungan bagi Negara berkembang yang melaksanakan program dimaksud," tandasnya.
Menurutnya, seperti yang sudah diduga, pertemuan berjalan alot mengingat isu yang jadi pokok bahasan berkaitan dengan komitmen Negara MEFEC dalam menetapkan target global penurunan emisi gas rumah kaca. Bahkan, pertemuan dibayangi kekhawatiran tidak akan menghasilkan deklarasi.
Perdebatan panjang terjadi karena adanya beberapa hal. Pertama, negara berkembang terutama China dan India tidak menginginkan adanya target penurunan emisi global dengan argumen bahwa MEFEC bukan merupakan forum negosiasi penetapan target global. Target tersebut harus disetujui melalui UNFCCC di Copenhagen.
"Brasil, Indonesia dan Afrika Selatan menyatakan bahwa penetapan target global dalam deklarasi dapat memberikan pesan politik yang sangat kuat pada proses UNFCCC. Sekalipun demikian penetapan target dimaksud harus bersifat imbang dengan juga mencatumkan komitmen negara maju di bidang adaptasi, pendanaan maupun transfer teknologi," kata Rachmat.
Sementara itu, UE, AS, Jepang, Korea Selatan dan Australia menyatakan bahwa MEFEC merupakan forum yang diharapkan dapat membuat terobosan dalam pencapaian kesepakatan MEF yang mewakili sekitar 80 total emisi global. Oleh karenanya, proses ini sangat penting dalam menetapkan target ambisius guna membantu menyelesaikan deal di Copenhagen.
"Sekalipun tampak ada keinginan negara maju untuk menyepakati target global sebesar 50 persen tahun 2050 dengan penurunan negara maju sebesar 80 persen tahun 2050, perbedaan menonjol tampak pada penetapan target jangka menengah Negara maju dan reference year," jelasnya.
UE, Rusia, dan AS menyatakan siap dengan penetapan target jangka panjang dan penetapan reference year tahun 1990. Namun, Australia, Jepang, dan Kanada tidak menyepakatinya.
Dana bagi peluncuran 'fast start funding' bagi bantuan ke negara berkembang dalam menyiapkan rencana pembangunan rendah karbon nasional disepakati untuk dihilangkan dari deklarasi. Sekalipun demikian, dicatat beberapa pledge Negara maju untuk membantu program ini yakni, AS (US$ 100 juta), Jerman (US$ 50 juta), Australia (US$ 25 juta) dan Inggris (sekitar US$ 25 juta).
(irw/irw)
"Kedua, pengakuan bahwa sesuai dengan temuan ilmiah, peningkatan suhu global tidak boleh melebihi 2 derajat celcius di atas era pra-industri," kata Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar melalui surat elektronik yang diterima detikcom, Sabtu (11/7/2009).
MEFEC beranggotakan lima negara di antaranya, Indonesia, Australia, dan Korea Selatan. Forum ini turut ambil bagian dalam pertemuan G8 yang berlangsung di Kota L'Aquila, Italia. Sidang G8 tentang perubahan iklim dipimpin Presiden AS Barrack Obama.
Pertemuan MEFEC juga dimaksudkan untuk menyelesaikan draf Declaration of the Leaders of the MEFEC yang belum dapat difinilasasi pada pertemuan sebelumnya di Jutepec, Meksiko, tanggal 22-23 Juni 2009.
Rachmat mengatakan, MEFEC akan terus mengidentifikasi tujuan global penurunan emisi global tahun 2050 dari saat ini hingga Copenhagen dengan berdasar pada prinsip Konvensi dan Bali Action Plan.
"Rujukan mengeni penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan termasuk dukungan bagi Negara berkembang yang melaksanakan program dimaksud," tandasnya.
Menurutnya, seperti yang sudah diduga, pertemuan berjalan alot mengingat isu yang jadi pokok bahasan berkaitan dengan komitmen Negara MEFEC dalam menetapkan target global penurunan emisi gas rumah kaca. Bahkan, pertemuan dibayangi kekhawatiran tidak akan menghasilkan deklarasi.
Perdebatan panjang terjadi karena adanya beberapa hal. Pertama, negara berkembang terutama China dan India tidak menginginkan adanya target penurunan emisi global dengan argumen bahwa MEFEC bukan merupakan forum negosiasi penetapan target global. Target tersebut harus disetujui melalui UNFCCC di Copenhagen.
"Brasil, Indonesia dan Afrika Selatan menyatakan bahwa penetapan target global dalam deklarasi dapat memberikan pesan politik yang sangat kuat pada proses UNFCCC. Sekalipun demikian penetapan target dimaksud harus bersifat imbang dengan juga mencatumkan komitmen negara maju di bidang adaptasi, pendanaan maupun transfer teknologi," kata Rachmat.
Sementara itu, UE, AS, Jepang, Korea Selatan dan Australia menyatakan bahwa MEFEC merupakan forum yang diharapkan dapat membuat terobosan dalam pencapaian kesepakatan MEF yang mewakili sekitar 80 total emisi global. Oleh karenanya, proses ini sangat penting dalam menetapkan target ambisius guna membantu menyelesaikan deal di Copenhagen.
"Sekalipun tampak ada keinginan negara maju untuk menyepakati target global sebesar 50 persen tahun 2050 dengan penurunan negara maju sebesar 80 persen tahun 2050, perbedaan menonjol tampak pada penetapan target jangka menengah Negara maju dan reference year," jelasnya.
UE, Rusia, dan AS menyatakan siap dengan penetapan target jangka panjang dan penetapan reference year tahun 1990. Namun, Australia, Jepang, dan Kanada tidak menyepakatinya.
Dana bagi peluncuran 'fast start funding' bagi bantuan ke negara berkembang dalam menyiapkan rencana pembangunan rendah karbon nasional disepakati untuk dihilangkan dari deklarasi. Sekalipun demikian, dicatat beberapa pledge Negara maju untuk membantu program ini yakni, AS (US$ 100 juta), Jerman (US$ 50 juta), Australia (US$ 25 juta) dan Inggris (sekitar US$ 25 juta).
(irw/irw)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita ยป
-
Selasa, 14/02/2012 06:02 WIB
Kelebihan Muatan, Pick Up Terbalik di Tol Pondok Gede Timur
-
Selasa, 14/02/2012 05:43 WIB
Perkantoran Kemendagri Kalibata Terbakar, 14 Mobil Pemadam Meluncur
-
Selasa, 14/02/2012 05:02 WIB
8 Poin Kode Etik Dihapus MA, KY Harus Optimalkan Hak Sadap Telepon Hakim
-
Selasa, 14/02/2012 04:17 WIB
Dua Bayi Tanpa Dinding Perut Dirawat di RSUP Adam Malik Medan
-
Selasa, 14/02/2012 04:06 WIB
Pria Diduga Bandar Narkoba Terjaring Razia Kumpul Kebo di Depok
-
Selasa, 14/02/2012 03:15 WIB
Hari Valentine, 5 Pasangan Kumpul Kebo Diciduk di Depok
-
Selasa, 14/02/2012 04:06 WIB
Pria Diduga Bandar Narkoba Terjaring Razia Kumpul Kebo di Depok
-
Senin, 13/02/2012 22:45 WIB
Rosa 'Bernyanyi' Berbagai Macam Proyek Nazaruddin
-
Selasa, 14/02/2012 02:00 WIB
Wah! Gunung Dempo Diperkirakan Tambah Tinggi 23 Meter
-
614 Komentar
-
506 Komentar
-
452 Komentar
-
386 Komentar
Lapsus
Index ยป
-
Senin, 13/02/2012 13:30 WIB
Jeruji Besi Menanti Angie
Demokrat di Ambang Kiamat
-
Senin, 13/02/2012 13:24 WIB
Jeruji Besi Menanti Angie
Angie Membuka Pintu, Siapa Bakal Masuk
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 598.000
- Rp 863.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

