Bawaslu: IFES Hanya Membuat Sistem dan Tidak Tahu Pemilihan KPPS
Rabu, 15/07/2009 22:16 WIB
Jakarta -
Bawaslu melakukan pemeriksaan pada International Foundation of Electoral System (IFES) terkait adanya indikasi intervensi asing dalam tabulasi nasional pilpres yang lalu. IFES mengaku hanya membuat sistem dan tidak tahu soal pemilihan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang dipakai datanya.
"Tadi dengan IFES kita menanyakan peran IFES dan KPU dalam SMS cepat. Mereka mengatakan peran mereka hanya menyiapkan server dan tenaga IT untuk teknisi dan menginstal program tersebut," ujar anggota Bawaslu Wahidah Suaib kepada wartawan di Kantor Bawaslu, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2009).
Menurut Wahidah, IFES mengatakan tidak tahu menahu tentang pemilihan KPPS karena sistem disiapkan untuk melayani seluruh KPPS di Indonesia.
"Yang membuat sistem adalah pihak IFES sesuai dengan masukan KPU,dan tetap dikontrol oleh KPU. IFES tidak tahu persebaran TPS dan KPPS karena yang menentukan KPU. Dan menurut mereka KPU tidak perlu membuat sample karena untuk semua KPPS bisa tinggal diregistrasi," jelasnya.
Dikatakan dia, Bawaslu memanggil IFES juga terkait soal sistem untuk penghitungan suara terkait kerahasiaan dan kehati-hatian.
"Sesuatu yang error kan bisa saja mengganggu tahapan. Ini yang menjadi konsentrasi kami apakah setiap tahapan lepas dari kontrol KPU atau tidak," jelas dia.
Mengenai bantuan dana yang dikeluarkan IFES untuk perhitungan cepat lewat SMS tersebut, Wahidah mengatakan pihak provider memberikan diskon terkait kepentingan pemilu.
"Menurut IFES estimasi awal anggaran US 200 ribu dolar, tapi ternyata karena pembicaraan dengan operator akhirnya diberikan diskon bahkan bebas biaya untuk kepentingan pemilu, hanya untuk biaya pengiriman SMS atau tarif saja, tidak untuk sistem," tuturnya.
Wahidah menambahkan, IFES memang tidak pernah memberikan uang tunai langsung ke KPU. "Tidak ada uang cash ke KPU, hanya dalam bentuk program, fasilitas, tenaga ahli dan sistem," paparnya.
Sumber dana IFES, jelas Wahidah,dikatakan oleh mereka berasal dari berbagai negara, salah satunya dari USaid. "Dari US 200 ribu dolar, yang terpakai hanya Rp 250 juta. Kita akan minta data asli nanti dari KPU," kata dia.
Bawaslu, lanjut Wahidah, juga menanyakan perihal perjalanan data dari KPPS menjadi data siap saji yang ditampilkan di tabulasi nasional.
"Katanya dari KPPS masuk ke Telkomsel, setelah masuk ke sana sistem yang main dan masuk ke server KPU. Data tidak diolah oleh manusia, langsung diolah sistem dan masuk ke server dalam bentuk total suara," terang dia.
(nvc/ndr)
"Tadi dengan IFES kita menanyakan peran IFES dan KPU dalam SMS cepat. Mereka mengatakan peran mereka hanya menyiapkan server dan tenaga IT untuk teknisi dan menginstal program tersebut," ujar anggota Bawaslu Wahidah Suaib kepada wartawan di Kantor Bawaslu, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (15/7/2009).
Menurut Wahidah, IFES mengatakan tidak tahu menahu tentang pemilihan KPPS karena sistem disiapkan untuk melayani seluruh KPPS di Indonesia.
"Yang membuat sistem adalah pihak IFES sesuai dengan masukan KPU,dan tetap dikontrol oleh KPU. IFES tidak tahu persebaran TPS dan KPPS karena yang menentukan KPU. Dan menurut mereka KPU tidak perlu membuat sample karena untuk semua KPPS bisa tinggal diregistrasi," jelasnya.
Dikatakan dia, Bawaslu memanggil IFES juga terkait soal sistem untuk penghitungan suara terkait kerahasiaan dan kehati-hatian.
"Sesuatu yang error kan bisa saja mengganggu tahapan. Ini yang menjadi konsentrasi kami apakah setiap tahapan lepas dari kontrol KPU atau tidak," jelas dia.
Mengenai bantuan dana yang dikeluarkan IFES untuk perhitungan cepat lewat SMS tersebut, Wahidah mengatakan pihak provider memberikan diskon terkait kepentingan pemilu.
"Menurut IFES estimasi awal anggaran US 200 ribu dolar, tapi ternyata karena pembicaraan dengan operator akhirnya diberikan diskon bahkan bebas biaya untuk kepentingan pemilu, hanya untuk biaya pengiriman SMS atau tarif saja, tidak untuk sistem," tuturnya.
Wahidah menambahkan, IFES memang tidak pernah memberikan uang tunai langsung ke KPU. "Tidak ada uang cash ke KPU, hanya dalam bentuk program, fasilitas, tenaga ahli dan sistem," paparnya.
Sumber dana IFES, jelas Wahidah,dikatakan oleh mereka berasal dari berbagai negara, salah satunya dari USaid. "Dari US 200 ribu dolar, yang terpakai hanya Rp 250 juta. Kita akan minta data asli nanti dari KPU," kata dia.
Bawaslu, lanjut Wahidah, juga menanyakan perihal perjalanan data dari KPPS menjadi data siap saji yang ditampilkan di tabulasi nasional.
"Katanya dari KPPS masuk ke Telkomsel, setelah masuk ke sana sistem yang main dan masuk ke server KPU. Data tidak diolah oleh manusia, langsung diolah sistem dan masuk ke server dalam bentuk total suara," terang dia.
(nvc/ndr)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Senin, 10/08/2009 13:49 WIB
Caleg Terpilih DPRD Muba Sumsel Diduga Berijazah Palsu
-
Kamis, 06/08/2009 20:40 WIB
Tim Mega-Prabowo: Penjelasan KPU tentang DPT di MK Menggelikan
-
Kamis, 06/08/2009 19:36 WIB
Pelaksanaan Pilpres 2009
Sekjen PBB Beri Selamat ke Presiden SBY
-
Kamis, 06/08/2009 19:19 WIB
Ical Diminta Waspadai Kader Pragmatis di Sekelilingnya
-
Kamis, 06/08/2009 18:34 WIB
Dituduh Curang, KPU Ancam Serang Balik
-
Sabtu, 11/02/2012 19:05 WIB
Kisah Anggota DPR Akbar Faisal dan Aksi Tolak FPI di Bandara Palangkaraya
-
Sabtu, 11/02/2012 13:02 WIB
Astaga! Restoran di Malaysia Tawarkan 'Hidangan' Seks
-
Sabtu, 11/02/2012 20:08 WIB
Sebelum Bus Karunia Bakti Nyungsep , Tanah Bergetar & Terdengar Gemuruh
-
Sabtu, 11/02/2012 12:51 WIB
Ditolak di Palangkaraya, 5 Anggota FPI Diturunkan Sriwijaya di Banjarmasin
-
411 Komentar
-
361 Komentar
-
340 Komentar
-
229 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 863.000
- Rp 600.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

