Wabah Rabies di Bali
Organisasi Internasional Tolak Pemusnahan Anjing
Selasa, 03/11/2009 18:13 WIB
dok detikcom
Denpasar -
Langkah Pemprov Bali mengatasi wabah rabies dengan membunuh atau eliminasi anjing secara massal ditentang organisasi internasional penyayang binatang. Mereka menilai, vaksinasi lebih efektif dibandingkan eliminasi.
Sikap tersebut disampaikan oleh organisasi BAWA (Bali Animal Welfare Assosiaciaton), Internasional Expert on Rabies, serta World Society for The Protection of Animal (WSPA) dalam jumpa pers. Acara ini diselenggarakan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Denpasar di Warung Kopi, jalan Puputan Raya Renon, Denpasar, Selasa (3/11/2009).
"Kita mengajak pemerintah Provinsi Bali untuk melakukan vaksinasi anti rabies saja karena lebih efektif membasmi rabies daripada eliminasi anjing secara massal," kata Janice Girardi dari BAWA.
Ia mencontohkan, Indonesia pernah mengatasi rabies dengan eliminasi atau membunuh anjing secara masal namun tidak berhasil. Hasilnya, rabies tetap ada sampai saat ini di beberapa daerah di Indonesia.
Negara lain, seperti India dan Argentina pun tidak berhasil membasmi rabies dengan proses eliminasi massal. "Jumlah anjing tidak akan berkurang dengan eliminasi serta gagal membasmi rabies," kata Janice.
Selain tidak efektif, pencegahan vaksinasi anjing lebih murah dibandingkan dengan vakninasi kepada manusia yang tergigit anjing. Vaksinasi terhadap anjing hanya memerlukan biaya Rp 17 ribu sedangkan vaksinasi terhadap manusia sebesar Rp 1 juta. Sejak kasus rabies merebak di Bali, RSUP Sanglah mengeluarkan biaya Rp 60 juta untuk 60 pasein setiap harinya.
Organisasi binatang dunia optimis, jika Pemprov Bali fokus menangangi rabies dengan vaksinasi, maka pihaknya akan mampu melakukan vaksinasi sebanyak 70 persen dari populasi anjing di Bali. Populasi anjing di Bali diperkirakan mencapai 500 ribu ekor.
Bahkan, mereka menargetkan akan mampu melakukan vaksinasi terhadap anjing sebanyak 300 ekor per hari. "Setelah divaksin anjing itu tidak boleh dibunuh," ujar Janice.
Sementara itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan pihaknya telah berusaha sekuat tenaga mengatasi rabies. Namun, Pastika menilai kurang mendapat dukungan dari masyarakat Bali. "Masyarakat masih susah diajak untuk membasmi rabies," ujar Pastika.
Sejak kasus rabies merebak, Pemprov Bali telah mengeluarkan dana Rp 5 Miliar. "Dana yang ada Rp 10 Miliar, separuh lebih sudah digunakan," kata Pastika.
(gds/djo)
Sikap tersebut disampaikan oleh organisasi BAWA (Bali Animal Welfare Assosiaciaton), Internasional Expert on Rabies, serta World Society for The Protection of Animal (WSPA) dalam jumpa pers. Acara ini diselenggarakan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Denpasar di Warung Kopi, jalan Puputan Raya Renon, Denpasar, Selasa (3/11/2009).
"Kita mengajak pemerintah Provinsi Bali untuk melakukan vaksinasi anti rabies saja karena lebih efektif membasmi rabies daripada eliminasi anjing secara massal," kata Janice Girardi dari BAWA.
Ia mencontohkan, Indonesia pernah mengatasi rabies dengan eliminasi atau membunuh anjing secara masal namun tidak berhasil. Hasilnya, rabies tetap ada sampai saat ini di beberapa daerah di Indonesia.
Negara lain, seperti India dan Argentina pun tidak berhasil membasmi rabies dengan proses eliminasi massal. "Jumlah anjing tidak akan berkurang dengan eliminasi serta gagal membasmi rabies," kata Janice.
Selain tidak efektif, pencegahan vaksinasi anjing lebih murah dibandingkan dengan vakninasi kepada manusia yang tergigit anjing. Vaksinasi terhadap anjing hanya memerlukan biaya Rp 17 ribu sedangkan vaksinasi terhadap manusia sebesar Rp 1 juta. Sejak kasus rabies merebak di Bali, RSUP Sanglah mengeluarkan biaya Rp 60 juta untuk 60 pasein setiap harinya.
Organisasi binatang dunia optimis, jika Pemprov Bali fokus menangangi rabies dengan vaksinasi, maka pihaknya akan mampu melakukan vaksinasi sebanyak 70 persen dari populasi anjing di Bali. Populasi anjing di Bali diperkirakan mencapai 500 ribu ekor.
Bahkan, mereka menargetkan akan mampu melakukan vaksinasi terhadap anjing sebanyak 300 ekor per hari. "Setelah divaksin anjing itu tidak boleh dibunuh," ujar Janice.
Sementara itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan pihaknya telah berusaha sekuat tenaga mengatasi rabies. Namun, Pastika menilai kurang mendapat dukungan dari masyarakat Bali. "Masyarakat masih susah diajak untuk membasmi rabies," ujar Pastika.
Sejak kasus rabies merebak, Pemprov Bali telah mengeluarkan dana Rp 5 Miliar. "Dana yang ada Rp 10 Miliar, separuh lebih sudah digunakan," kata Pastika.
(gds/djo)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 12/02/2012 05:18 WIB
Hakim Artidjo Siap Hukum Mati Koruptor, Bagaimana dengan Ketua MA?
-
Minggu, 12/02/2012 04:13 WIB
Asosiasi PTS Tolak Jurnal Ilmiah Jadi Syarat Lulus S1
-
Minggu, 12/02/2012 03:12 WIB
10 Korban Tragedi Bus Karunia Bakti Luka Berat, Mayoritas Patah Tulang
-
Minggu, 12/02/2012 02:19 WIB
Polisi Libatkan Saksi Ahli dalam Pengukuran Kecepatan Bus Karunia Bakti
-
Minggu, 12/02/2012 01:38 WIB
Biayai Gapura Mapolres dengan Dana Pribadi, Kapolres Kukar Disorot
-
Minggu, 12/02/2012 01:38 WIB
Biayai Gapura Mapolres dengan Dana Pribadi, Kapolres Kukar Disorot
-
Minggu, 12/02/2012 05:18 WIB
Hakim Artidjo Siap Hukum Mati Koruptor, Bagaimana dengan Ketua MA?
-
Sabtu, 11/02/2012 19:05 WIB
Kisah Anggota DPR Akbar Faisal dan Aksi Tolak FPI di Bandara Palangkaraya
-
Sabtu, 11/02/2012 13:02 WIB
Astaga! Restoran di Malaysia Tawarkan 'Hidangan' Seks
-
443 Komentar
-
387 Komentar
-
352 Komentar
-
229 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 600.000
- Rp 1,407.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

