Laporan dari Arab Saudi

Jamaah Nonkuota yang Terlantar Siap Mengadu ke Komnas HAM

M. Rizal Maslan - detikNews
Kamis, 03/12/2009 23:17 WIB
Abdul Salam/ Salah satu Haji Nonkuota
Makkah - Bisa melaksanakan ibadah haji ke tanah suci tentu menjadi sesuatu yang diimpikan seorang muslim. Uang dikumpulkan sedikit-sedikit setiap tahun, untuk sampai ke Makkah Al Mukarramah.

Tentu saja bagi jamaah haji reguler atau jamaah haji khusus yang diselenggarakan Biro Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) Khusus akan lancar-lancar saja menjalankan ibadah. Tapi bagaimana jamaah haji nonkuota? Ada yang beruntung dan ada yang malah buntung, alias sengsara di tanah suci.

Tidak sedikit jamaah haji nonkuota nasibnya terlantar di Arab Saudi. Dengan dalih kuota tambahan atau semi ONH Plus atau bahkan berkedok ONH Plus, mereka rela mengeluarkan kocek antara Rp 50 juta sampai Rp 70 juta.

"Ya itu harga ongkos naik haji cepat, daripada menunggu lama kalau lewat haji reguler," begitu kisah Abdul Salam Ahmad, salah satu jamaah nonkuota yang diterlantarkan salah satu biro penyelenggara haji saat ditemui di kantor Daerah Kerja Makkah, Syisha, Makkah, Kamis (3/12/2009).

Begitulah awal perbincangan wartawan dengan Abdul Salam Ahamd kelahiran Gowa, Sulawesi Selatan yang tinggal di Tasikmalaya, Jawa Barat itu. Abdul Salam (64) merupakan pensiunan PNS dari Departemen Dalam Negeri tahun 2001 itu, kini hidup terlantar di kota Makkah, dia dibawa salah seorang jamaah haji reguler ke tempat Misi Haji Indonesia sejak kemarin malam.

Abdul Salam menceritakan, dirinya bersama sejumlah jamaah yang berjumlah 29 orang diberangkatkan menuju Makkah pada tanggal 7 November 2009 lalu. Namun dirinya begitu tiba kaget ternyata harus dimintai uang lagi oleh pengurus perjalanan bernama Cecep. Bahkan, jamaah ini ditempatkan di sebuah apartemen yang sudah tidak layak di Sulaimaniyah, Makkah.

Padahal, rata-rata jamaah haji ini telah menyetor uang masing-masing antara Rp 50 juta sampai Rp 70 juta kepada pengurus biro perjalanannya yang dikelola oleh Haji Popoy asal Tasikmalaya.

"Saya kaget, saya ditinggalkan begitu saja di sini (Makkah) karena dianggap belum lunas oleh Pak Cecep itu. Saya marah, padahal yang belum bayar ke dia itu Pak Popoy," ujarnya geram.

Tidak hanya di situ saja, Abdul Salam mengaku saat di Makkah dirinya sempat jatuh sakit dan tidak pernah dibawa berobat ke dokter dan terpaksa berbaring saja di kamarnya di lantai empat apartemennya yang terletak di atas bukit itu. Dia juga mengaku tidak ada pembimbing ibadah selama melaksanakan ibadah haji.

Begitu juga ketika berada di Arafah, Mizdalifah dan Mina. Rombongannya diselipkan ke tenda-tenda jamaah haji reguler. "Kita ditumpangkan di sana. Makanan pun punya jamaah reguler. Pak Cecep sempat dimaki-maki pihak Maktab
karena dinilai hanya mencari untung dan rakus dengan menelantarkan jamaah," jelasnya.

Abdul Salam yang menderita sakit jantung dan prostat ini, memang terlihat tegar. "Saya bingung, paspor dibawa dia, tiket pulang tidak ada. Padahal rombongan saya sudah pulang kemarin. Saya pasrah saja, kalaupun harus mati di sini," katanya lirih.

Namun ketika ditanya apakah yang akan dilakukan jika dirinya bisa pulang ke tanah air. "Saya akan cari si Cecep itu, dia dzolim. Saya akan lapor ke polisi, karena dia sudah tipu jamaah. Saya juga akan lapor ke Komnas HAM, karena dia melanggar hak asasi manusia," tegasnya.

Abdul Salam adalah salah satu jamaah haji nonkuota yang terlantar dan sekarang tidak jelas nasibnya. Diperkirakan masih banyak jamaah serupa yang terdampar di tanah suci yang bernasib serupa. Contohnya, korban biro-biro perjalanan yang tidak bertanggungjawab dengan menjual ONH semi Plus atau non kuota ini.

"Ini pengalaman saya. Saya imbau kepada masyarakat Indonesia yang akan melaksanakan ibadah haji, jangan mau terayu atau tertipu orang model Pak Cecep ini. Ini pasti terorganisir," pintanya yang saat ini hanya mengenaikan pakaian dan sarung yang di badan saja.

Rombongan Abdul Salam ini merupakan rombongan pertama dari rombongan kedua yang saat ini masih berada di Makkah. Rombongan pertama ini mendiami lantai 5 di apartemen yang sama. Saat dua kali didatangi tim MCH, rombongan jamaah haji nonkuota ini mengaku dikirimkan oleh PT Al Fahd. Mereka ini juga sering menyebut-nyebut Cecep, Alimi dan Hadad sebagai orang yang bertanggungjawab atas nasib mereka.

Sebelumnya pihak Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) maupun Menteri Agama Suryadharma Ali telah menyampaikan bahwa jamaah nonkuota bukan tanggung jawab Departemen Agama, karena memang tidak resmi. Walau diakui ada jamaah tambahan kuota dari pemerintah Arab Saudi, tapi jumlahnya sangat terbatas, termasuk untuk calling visa. Namun, begitu Menteri Agama menyatakan, negara dalam hal ini Indonesia dan Arab Saudi harus bertanggungjawab atas keberadaan jamaah nonkuota tersebut.

Mungkin benar pernyataan sebagian Ulama, perlunya kesabaran dalam segala hal, termasuk kesabaran dalam beribadah. Kalau manusia tidak bersabar dalam keinginan dan beribadah, maunya terburu-buru, justru malah tidak dapat apa-apa. Ibadah terganggu, atau malah tertipu sekaligus.

(zal/ape)

Share:

Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel