Hutan Dibabat, Hama, Babi dan Harimau Menerjang
Jumat, 04/12/2009 17:03 WIB
Jakarta -
Teluk Meranti, Riau pertengahan 1990 masih terlihat sejuk. Hutan hijau terhampar. Monyet bergelantungan dan raungan harimau lamat-lamat terdengar.
Warga sekitar hutan juga khusyuk menjalani rutinitas hidup. Memanen padi atau menanam jagung. Mencari damar serta rotan di hutan. Sore harinya, menjala di lubuk sungai yang penuh dengan ikan.
"Tapi itu dulu. Sekarang menjadi dongeng saja," kata Mohamad Yusuf, salah satu pemuka adat Teluk Meranti usai gagal bertemu Menteri Kehutanan di Jakarta, Jumat (4/12/2009).
Dongeng keaslian alam itu berjungkir balik saat perusahaan perambah hutan mulai beraksi. Menurut Yusuf, pertengahan 1997 puluhan buldozer, back hoe dan berbagai alat berat mengacak-acak seisi hutan.
Pohon berukuran besar ditebang. Semak-semak dibakar dan tanah diratakan paksa untuk areal perkebunan.
"Setelah ditebang, yang muncul hama. Babi hutan merusak jagung. Monyet pada mati kehausan. Harimau keluar sarang, berkeliaran di sekitar rumah penduduk," tutur Yusuf memberi gambaran buruk itu.
Saat ini, lebih dari 10 tahun beroperasi, yang terlihat hanyalah kerusakan. Berkali-kali dia bersama sejumlah aktivis lingkungan mencoba menghentikan aksi jahat tersebut. Sayangnya, usahanya selalu gagal.
"Tadi katanya dijanjikan bertemu dengan Menhut, membahas kerusakan, Tanjung Meranti, Semenanjung Kampar, dan hutan rusak lain di Riau. Tetapi menterinya tiba-tiba ngeles, katanya dipanggil rapat presiden. Padahal mobilnya tetap digarasi," seloroh Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara yang menjembatani pertemuan itu.
Menurut catatan Greenpeace, hutan di Riau menjadi sangat penting untuk menjaga keharmonisan iklim bumi. Di bawah hutan itu, tersimpan sebagian besar lahan gambut di Indonesia yang merupakan 51 persen gambut di dunia. Saat hutan dibabat, gambut pun mengelupas. Efeknya akan membuat bumi memanas berkali-kali lebih cepat dari yang dibayangkan.
"Solusi satu-satunya ya hentikan penghancuran hutan, maksimal di tahun 2015. Juga merehabilitasi hutan gambut pada kawasan yang sudah dihancurkan," tukas Bustar Maitar.
(Ari/fay)
Warga sekitar hutan juga khusyuk menjalani rutinitas hidup. Memanen padi atau menanam jagung. Mencari damar serta rotan di hutan. Sore harinya, menjala di lubuk sungai yang penuh dengan ikan.
"Tapi itu dulu. Sekarang menjadi dongeng saja," kata Mohamad Yusuf, salah satu pemuka adat Teluk Meranti usai gagal bertemu Menteri Kehutanan di Jakarta, Jumat (4/12/2009).
Dongeng keaslian alam itu berjungkir balik saat perusahaan perambah hutan mulai beraksi. Menurut Yusuf, pertengahan 1997 puluhan buldozer, back hoe dan berbagai alat berat mengacak-acak seisi hutan.
Pohon berukuran besar ditebang. Semak-semak dibakar dan tanah diratakan paksa untuk areal perkebunan.
"Setelah ditebang, yang muncul hama. Babi hutan merusak jagung. Monyet pada mati kehausan. Harimau keluar sarang, berkeliaran di sekitar rumah penduduk," tutur Yusuf memberi gambaran buruk itu.
Saat ini, lebih dari 10 tahun beroperasi, yang terlihat hanyalah kerusakan. Berkali-kali dia bersama sejumlah aktivis lingkungan mencoba menghentikan aksi jahat tersebut. Sayangnya, usahanya selalu gagal.
"Tadi katanya dijanjikan bertemu dengan Menhut, membahas kerusakan, Tanjung Meranti, Semenanjung Kampar, dan hutan rusak lain di Riau. Tetapi menterinya tiba-tiba ngeles, katanya dipanggil rapat presiden. Padahal mobilnya tetap digarasi," seloroh Bustar Maitar, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara yang menjembatani pertemuan itu.
Menurut catatan Greenpeace, hutan di Riau menjadi sangat penting untuk menjaga keharmonisan iklim bumi. Di bawah hutan itu, tersimpan sebagian besar lahan gambut di Indonesia yang merupakan 51 persen gambut di dunia. Saat hutan dibabat, gambut pun mengelupas. Efeknya akan membuat bumi memanas berkali-kali lebih cepat dari yang dibayangkan.
"Solusi satu-satunya ya hentikan penghancuran hutan, maksimal di tahun 2015. Juga merehabilitasi hutan gambut pada kawasan yang sudah dihancurkan," tukas Bustar Maitar.
(Ari/fay)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 11/02/2012 23:07 WIB
Banjir Rendam 750 Rumah dan Lahan Tambak di Bangkalan
-
Sabtu, 11/02/2012 22:31 WIB
Jenazah Terakhir Korban Kecelakaan Maut di RS Paru Diambil Keluarga
-
Sabtu, 11/02/2012 22:02 WIB
Kaji Pasal Pembunuhan untuk Sopir Karunia Bakti, Polisi Gelar Perkara
-
Sabtu, 11/02/2012 21:26 WIB
Hujan Deras Sebabkan Banjir Setinggi 70 Cm di Gandaria
-
Sabtu, 11/02/2012 21:01 WIB
24 Jam Setelah Kecelakaan Bus Maut, Jalan Raya Cisarua Ramai Lancar
-
Sabtu, 11/02/2012 19:05 WIB
Kisah Anggota DPR Akbar Faisal dan Aksi Tolak FPI di Bandara Palangkaraya
-
Sabtu, 11/02/2012 13:02 WIB
Astaga! Restoran di Malaysia Tawarkan 'Hidangan' Seks
-
Sabtu, 11/02/2012 20:08 WIB
Sebelum Bus Karunia Bakti Nyungsep , Tanah Bergetar & Terdengar Gemuruh
-
Sabtu, 11/02/2012 12:51 WIB
Ditolak di Palangkaraya, 5 Anggota FPI Diturunkan Sriwijaya di Banjarmasin
-
400 Komentar
-
331 Komentar
-
285 Komentar
-
229 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 600.000
- Rp 863.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

