FPKS: Pemerintah Harus Hentikan Ujian Nasional
Senin, 07/12/2009 12:49 WIB
Jakarta -
Pemerintah didesak untuk menghentikan ujian nasional (UN). Putusan Mahkamah Agung (MA) sudah jelas, harus ada perbaikan dalam penyelenggaraan UN bila hendak tetap digelar.
"Bila belum ada perbaikan dan tetap melaksanakan UN, berarti pemerintah melakukan kezaliman pada anak didik. Jika UN tetap dilaksanakan, ini preseden buruk bagi pendidikan nasional kita. Karena pemerintah mengesankan tidak taat atas putusan MA tersebut," kata anggota Komisi X FPKS Ahmad Zainuddin dalam siaran pers, Senin (7/12/2009).
Zainuddin menganggap pelaksanaan UN adalah kebijakan yang tidak adil karena menafikkan realitas aktual pendidikan nasional. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya disparitas dan kesenjangan yang mencolok baik antarsekolah maupun antarsiswa.
"Pelaksanaan UN sudah bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional yang membentuk manusia yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia. Banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan moral," urainya.
Zainuddin menerangkan, penetapan angka kelulusan UN yang mengalami peningkatan telah mengorbankan hak-hak siswa untuk mendapatkan pendidikan yang sewajarnya (melanggar hak pedagogi anak).
"Masyarakat tidak sepakat kalau UN dijadikan sebagai satu-satunya penentu kelulusan siswa. Faktanya, UN hanya berorientasi pada aspek kognitif dengan menafikkan aspek psikomotorik serta afektif. Jadi UN tidak bisa dijadikan sebagai standar peningkatan mutu pendidikan," terangnya.
Selain itu, berdasarkan laporan masyarakat di sejumlah daerah, ada guru yang dibebankan target untuk menaikkan persentase kelulusan hanya untuk menaikkan pamor sekolah. Di lain tempat, ketidakjujuran terjadi saat pelaksanaan UN dengan adanya penyebaran kunci jawaban melalui SMS (layanan pesan singkat) kepada peserta UN.
"Itu hanya sebagian kecil realita yang terjadi. Masih banyak pihak sekolah yang dengan sengaja menutup-nutupi kejadian seperti ini," ucap Ahmad Zainuddin.
Untuk itu, fraksi PKS mengusulkan agar pemerintah mengembalikan evaluasi belajar kepada satuan pendidikan dengan menerapkan model ujian yang mampu mengacu pada peningkatan kualitas guru dan sekolah dan sesuai dengan UU Sisdiknas.
"Selain akan menghemat anggaran negara, model itu juga diharapkan bisa lebih menjaga nilai-nilai akhlakul karimah," kunci Zainuddin.
(ndr/nrl)
"Bila belum ada perbaikan dan tetap melaksanakan UN, berarti pemerintah melakukan kezaliman pada anak didik. Jika UN tetap dilaksanakan, ini preseden buruk bagi pendidikan nasional kita. Karena pemerintah mengesankan tidak taat atas putusan MA tersebut," kata anggota Komisi X FPKS Ahmad Zainuddin dalam siaran pers, Senin (7/12/2009).
Zainuddin menganggap pelaksanaan UN adalah kebijakan yang tidak adil karena menafikkan realitas aktual pendidikan nasional. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya disparitas dan kesenjangan yang mencolok baik antarsekolah maupun antarsiswa.
"Pelaksanaan UN sudah bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional yang membentuk manusia yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia. Banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan moral," urainya.
Zainuddin menerangkan, penetapan angka kelulusan UN yang mengalami peningkatan telah mengorbankan hak-hak siswa untuk mendapatkan pendidikan yang sewajarnya (melanggar hak pedagogi anak).
"Masyarakat tidak sepakat kalau UN dijadikan sebagai satu-satunya penentu kelulusan siswa. Faktanya, UN hanya berorientasi pada aspek kognitif dengan menafikkan aspek psikomotorik serta afektif. Jadi UN tidak bisa dijadikan sebagai standar peningkatan mutu pendidikan," terangnya.
Selain itu, berdasarkan laporan masyarakat di sejumlah daerah, ada guru yang dibebankan target untuk menaikkan persentase kelulusan hanya untuk menaikkan pamor sekolah. Di lain tempat, ketidakjujuran terjadi saat pelaksanaan UN dengan adanya penyebaran kunci jawaban melalui SMS (layanan pesan singkat) kepada peserta UN.
"Itu hanya sebagian kecil realita yang terjadi. Masih banyak pihak sekolah yang dengan sengaja menutup-nutupi kejadian seperti ini," ucap Ahmad Zainuddin.
Untuk itu, fraksi PKS mengusulkan agar pemerintah mengembalikan evaluasi belajar kepada satuan pendidikan dengan menerapkan model ujian yang mampu mengacu pada peningkatan kualitas guru dan sekolah dan sesuai dengan UU Sisdiknas.
"Selain akan menghemat anggaran negara, model itu juga diharapkan bisa lebih menjaga nilai-nilai akhlakul karimah," kunci Zainuddin.
(ndr/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 12/02/2012 03:12 WIB
10 Korban Tragedi Bus Karunia Bakti Luka Berat, Mayoritas Patah Tulang
-
Minggu, 12/02/2012 02:19 WIB
Polisi Libatkan Saksi Ahli dalam Pengukuran Kecepatan Bus Karunia Bakti
-
Minggu, 12/02/2012 01:38 WIB
Biayai Gapura Mapolres dengan Dana Pribadi, Kapolres Kukar Disorot
-
Minggu, 12/02/2012 01:19 WIB
Banjir Rendam Komplek Dosen IKIP Jatibening Bekasi
-
Minggu, 12/02/2012 00:44 WIB
Petaka Bus Maut Cisarua, Motor Ketua RT Batu Kasur pun Ikut Ringsek
-
Sabtu, 11/02/2012 13:02 WIB
Astaga! Restoran di Malaysia Tawarkan 'Hidangan' Seks
-
Minggu, 12/02/2012 01:38 WIB
Biayai Gapura Mapolres dengan Dana Pribadi, Kapolres Kukar Disorot
-
Minggu, 12/02/2012 04:13 WIB
Asosiasi PTS Tolak Jurnal Ilmiah Jadi Syarat Lulus S1
-
Sabtu, 11/02/2012 19:05 WIB
Kisah Anggota DPR Akbar Faisal dan Aksi Tolak FPI di Bandara Palangkaraya
-
440 Komentar
-
380 Komentar
-
349 Komentar
-
229 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 600.000
- Rp 863.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

