Aksi 9 Desember
Kala Buruh Bicara Soal Korupsi
Rabu, 09/12/2009 19:08 WIB
Buruh berdemo tentang korupsi
Jakarta -
Keringat Tini (31) tak henti-henti mengucur deras siang itu. Perempuan berkerudung tersebut, nampak begitu semangat bergabung dengan elemen massa lainnya.
Menurut Tini, peringatan Hari Antikorupsi sedunia yang digelar di Monas, Jakarta siang ini bukan hanya milik mahasiswa, aktivis, atau kaum intelektual semata. Kaum buruh pun bisa ikut berpartisipasi.
Meski dirayakan saat hari masuk kerja namun tak menyurutkan Tini dan teman-teman buruh untuk ikut berdemo. Bahkan mereka berani meninggalkan kerjaan hanya untuk ikut dalam aksi yang digelar satu tahun sekali tersebut.
"Kami juga korban dari korupsi. Korupsi telah menindas kami para kaum buruh," ujar Tini yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Kesetaraan Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), di pintu Selatan Monas, Jakarta, Rabu (9/12/2009).
Tini menjelaskan, ia datang bersama 200 buruh dari KSBSI secara sukarela untuk menunjukkan kalau perang melawan korupsi bukan hanya milik kaum menengah ke atas. Kaum tertindas seperti buruh, tani, atau rakyat miskin juga bisa berperan.
Lalu apa hubungannya korupsi dengan buruh?
Menurut Tini, praktek busuk korupsi sangat kentara dirasakan kaum buruh. Karena pengusaha lebih senang merogoh sebagian uang perusahaan untuk menyogok penegak hukum ketimbang memenuhi kehidupan layak buruh.
"Banyak pengusaha-pengusaha bilang tak bisa memberi upah layak kepada buruh, padahal mereka mampu," jelasnya berapi-api.
"Mereka (pengusaha) sering mengucurkan dana untuk oknum-oknum politik dan penegak hukum daripada memberikannya kepada kita," tukasnya.
Bagi Tini dan teman-temannya, akibat praktek tersebut mereka selalu merasa tidak adil dalam berbagai hal. Buruh selalu menjadi pilihan pertama untuk dikorbankan.
"Kalau bukan kita siapa lagi yang mau berjuang? Kami yang bodoh saja tahu korupsi itu haram. Masa pejabat-pejabat nggak berani turun ke jalan merayakan Hari Antikorupsi?" terangnya.
Selain ikut demo di Monas, KSBSI juga melakukan aksi yang terbilang cukup unik. Mereka membawa 9 payung berwarna hitam yang disusun rapi di depan pintu selatan Monas.
"Payung simbol mendungnya kondisi kami saat ini. 9 artinya tanggal 9 (Desember) hari ini," ungkapnya.
Para buruh pun ikut melebur bersama ribuan kelompok massa lainnya di Monas. Mereka menuntut agar Indonesia bisa bersih dari koruptor.
"Kalau saja uang Rp 6,7 trilliun (kasus Bank Century) itu dibagikan pada para buruh," tutupnya.
(ape/nwk)
Menurut Tini, peringatan Hari Antikorupsi sedunia yang digelar di Monas, Jakarta siang ini bukan hanya milik mahasiswa, aktivis, atau kaum intelektual semata. Kaum buruh pun bisa ikut berpartisipasi.
Meski dirayakan saat hari masuk kerja namun tak menyurutkan Tini dan teman-teman buruh untuk ikut berdemo. Bahkan mereka berani meninggalkan kerjaan hanya untuk ikut dalam aksi yang digelar satu tahun sekali tersebut.
"Kami juga korban dari korupsi. Korupsi telah menindas kami para kaum buruh," ujar Tini yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Kesetaraan Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), di pintu Selatan Monas, Jakarta, Rabu (9/12/2009).
Tini menjelaskan, ia datang bersama 200 buruh dari KSBSI secara sukarela untuk menunjukkan kalau perang melawan korupsi bukan hanya milik kaum menengah ke atas. Kaum tertindas seperti buruh, tani, atau rakyat miskin juga bisa berperan.
Lalu apa hubungannya korupsi dengan buruh?
Menurut Tini, praktek busuk korupsi sangat kentara dirasakan kaum buruh. Karena pengusaha lebih senang merogoh sebagian uang perusahaan untuk menyogok penegak hukum ketimbang memenuhi kehidupan layak buruh.
"Banyak pengusaha-pengusaha bilang tak bisa memberi upah layak kepada buruh, padahal mereka mampu," jelasnya berapi-api.
"Mereka (pengusaha) sering mengucurkan dana untuk oknum-oknum politik dan penegak hukum daripada memberikannya kepada kita," tukasnya.
Bagi Tini dan teman-temannya, akibat praktek tersebut mereka selalu merasa tidak adil dalam berbagai hal. Buruh selalu menjadi pilihan pertama untuk dikorbankan.
"Kalau bukan kita siapa lagi yang mau berjuang? Kami yang bodoh saja tahu korupsi itu haram. Masa pejabat-pejabat nggak berani turun ke jalan merayakan Hari Antikorupsi?" terangnya.
Selain ikut demo di Monas, KSBSI juga melakukan aksi yang terbilang cukup unik. Mereka membawa 9 payung berwarna hitam yang disusun rapi di depan pintu selatan Monas.
"Payung simbol mendungnya kondisi kami saat ini. 9 artinya tanggal 9 (Desember) hari ini," ungkapnya.
Para buruh pun ikut melebur bersama ribuan kelompok massa lainnya di Monas. Mereka menuntut agar Indonesia bisa bersih dari koruptor.
"Kalau saja uang Rp 6,7 trilliun (kasus Bank Century) itu dibagikan pada para buruh," tutupnya.
(ape/nwk)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita ยป
-
Sabtu, 11/02/2012 05:05 WIB
Kepala Terminal Garut: Bus Karunia Bakti Laik Jalan
-
Sabtu, 11/02/2012 04:17 WIB
Detik-detik Tabrakan Maut di Cisarua: Penjual Bakso Terpental ke Jurang
-
Sabtu, 11/02/2012 03:58 WIB
9 Jam Setelah Kecelakaan Maut, Cisarua Arah Jakarta Macet Total
-
Sabtu, 11/02/2012 02:47 WIB
Jasa Raharja Santuni Korban Tewas Kecelakaan Bus Maut Rp 25 Juta
-
Sabtu, 11/02/2012 02:21 WIB
Korban Tabrakan Bus Maut: Saya Lagi Tidur, Tiba-tiba Duaarrr...
-
Sabtu, 11/02/2012 04:17 WIB
Detik-detik Tabrakan Maut di Cisarua: Penjual Bakso Terpental ke Jurang
-
Sabtu, 11/02/2012 01:33 WIB
Kesaksian Penumpang Bus Maut: Saya Hanya Bisa Teriak dan Berdoa
-
Sabtu, 11/02/2012 02:21 WIB
Korban Tabrakan Bus Maut: Saya Lagi Tidur, Tiba-tiba Duaarrr...
-
Sabtu, 11/02/2012 05:05 WIB
Kepala Terminal Garut: Bus Karunia Bakti Laik Jalan
-
230 Komentar
-
190 Komentar
-
176 Komentar
-
159 Komentar
Lapsus
Index ยป
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 863.000
- Rp 1,407.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

