Jumat, 18/12/2009 03:44 WIB
SBY Sampaikan 5 Posisi Indonesia di KTT Perubahan Iklim
Laurencius Simanjuntak - detikNews
Kopenhagen -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan lima poin yang menggambarkan posisi Indonesia terkait perubahan iklim dalam sidang pleno KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark. Prinsipnya, SBY menyampaikan kepada seluruh delagasi yang hadir bahwa Indonesia menginginkan KTT menghasilkan sebuah kesepakatan yang mengikat.
"Kita datang ke sini untuk melakukan satu tugas: meyampaikan sebuah persetujuan yang solid dan mengikat yang akan diikat secara sah lewat perjanjian di 2010," kata SBY dalam naskah pidato seperti yang diterima detikcom, Kamis (17/12/2009).
SBY menjelakan lima hal yang menjadi posisi Indonesia terkait pemanasan global yang terus meningkat. Pertama, tujuan strategis para negara dunia adalah untuk membatasi peningkatan pemanasan global di bawah 2 derajat celcius.
"Untuk mencapai tujuan itu, kita harus berproses atas dasar kebersamaan, tetapi dengan membedakan tanggung jawab dan kemampuan masing-masing," kata SBY.
Kedua, SBY mengajak negara-negara maju untuk memenuhi tanggung jawab sejarahnya dengan memperlambat, menghentikan dan melawan laju pemanasan global. Negara maju, kata SBY, harus memimpin dan mendatangkan target yang ambisius.
"Indonesia percaya komitmen ini seharusnya sekitar 40 persen, seperti yang disyaratkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change. Dan semua negara industri harus bisa menerima. Ini beban dan tanggung jawab yang tidak bisa digeser atau ditunda," kata SBY.
Ketiga, lanjut SBY, semua pembicaraan tentang mitigasi dan adaptasi serta kerja sama internasional tidak bermakna tanpa bantuan konkret soal pendanaan. SBY mengatakan inisiatif untuk sebuah pendanaan yang cepat di konferensi ini adalah awal yang baik.
"Tapi saya yakin usulan angka untuk dana terlalu sederhana, jika mempertimbangkan pertaruhan keberlangsungan kehidupan manusia di planet kita ini. Dalam pandangan saya, angka yang ideal adalah USD 25-35 miliar per tahun sampai 2012," ujar SBY.
Keempat, sambung SBY, ilmu pengetahuan sekarang juga telah memberitahukan kepada kita bahwa mitigasi oleh negara maju sendiri tidaklah cukup. Negara maju harus berbuat lebih, dan mereka harus komit untuk memperkecil laju peningkatan karbon.
"Sehingga dengan demikian mereka tidak mengulang kesalahan sejarah dari negara-negara industri dan menambah permasalahan iklim," jelas SBY.
"Indonesia pada September tahun ini sudah mendeklarasikan target pengurangan emisi sebanyak 26 persen dari bisnis per 2020 dan ini dapat meningkat menjadi 41 persen dengan peningkatan bantuan international," tambahnya.
Kelima, SBY mengajak baik negara maju maupun berkembang untuk bisa fleksibel tentang pertanyaan tentang mitigasi yang 'measurable', 'reportable', dan 'verifiable' (MRV).
"MRV bukan ide yang sulit dicapai. Jika kita punya target masing-masing, kita harus tahu jika kita sedang membuat progres dalam pencapaian target tersebut," tutup SBY.
(lrn/lrn)
GRATIS kaos cantik dan voucher pulsa! ikuti sms berlangganannya, ktk REG DETIK kirim ke 3845 (Telkomsel, Indosat, Three) Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca juga :
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).