Pulau Rangsang Terancam Tenggelam Akibat Pembukaan HTI PT SRL
Sabtu, 26/12/2009 15:17 WIB
Pekanbaru -
Pulau Rangsang di Kabupaten Bengkalis, Riau, terancam tenggelam akibat pembukaan areal konsesi Hutan Tanaman Indusrti (HTI) PT Sumatera Riang Lestari (SRL). Sebab pulau yang berada di Selat Malaka itu merupakan kawasan bergambut.
Hal itu disampaikan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Hariansyah Usman dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (26/12/2009) di Pekanbaru.
Usman menyebut, hasil investigasi Walhi Riau menunjukkan saat ini sudah ada seribu hektar hutan alam dibabat PT SRL anak perusahaan Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL).
"Sedikitnya 1.000 hektar hutan alam di Pulau Rangsang, telah ditebang PT SRL, sejak Mei 2009. Ini mengancam tenggelamnya salah satu pulau strategis di Indonesia serta menyebabkan terlepasnya emisi karbon di daerah gambut dalam tersebut," kata Usman.
Usman menyebut, tim investigasi Walhi menemukan tumpukan kayu log yang diestimasikan mencapai 1.500 meter kubik. Tumpukan kayu sebagai bahan baku pulp sekitar 5.000 meter kubik. Selain itu, ditemukan 4 unit alat berat ekskavator sedang menarik kayu yang telah ditebang. Walhi juga menemukan pembuatan kanal-kanal yang telah mencapai panjangnya 10 km dengan lebar mencapai 12 meter dan kedalamannya mencapai 5 meter.
Menurut Usman, PT SRL memiliki konsesi dari pemerintah seluas 215.305 hektar. Izin ini memiliki 5 blok yang dua blok berada di Riau sedangkan 3 blok lainnya berada di Sumatera Utara. Di Pulau Rangsang PT SRL satu group dengan PT RAPP ini, memiliki izin seluas 18.890 hektar. Padahal luas pulau itu tidak sampai 200 km persegi.
"Pembukaan HTI di lahan gambut itu harusnya tidak diberikan pemerintah. Sebab, di lahan gambut yang seharusnya dilindungi, bila diekspoloitasi menyebabkan emisi karbon CO2 yang signifikan," kata Usman.
Kehadiran PT SRL, sambung Usman, juga menimbulkan konflik sosial dan keresahan masyarakat tempatan. Ini terbukti adanya penolakan 13 desa di pulau itu. Warga mengaku merasa terancam kehidupan mereka akibat operasi perusahaan ini.
"Pembabatan hutan alam rawa gambut oleh PT SRL bukan saja mengancam hutan rawa gambut Pulau Rangsa. Tapi mengancam pulau terluar Indonesia yang sangat strategis dalam aspek pertahanan dan keamanan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Tentu ini masalah serius dan tak bisa diabaikan begitu saja," ujar Usman.
"Kita juga mendesak Departemen Kehutanan meninjau ulang dan membatalkan izin yang telah diberikan kepada PT SRL. Sebab kebijakan itu menyebabkan banyak masalah terhadap ekosistem dan masyarakat, selain kontroversi dari segi perizinan yang berindikasikan pada praktek KKN," tambah Usman.
(cha/djo)
Hal itu disampaikan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau, Hariansyah Usman dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu (26/12/2009) di Pekanbaru.
Usman menyebut, hasil investigasi Walhi Riau menunjukkan saat ini sudah ada seribu hektar hutan alam dibabat PT SRL anak perusahaan Asia Pacific Resources International Holdings Limited (APRIL).
"Sedikitnya 1.000 hektar hutan alam di Pulau Rangsang, telah ditebang PT SRL, sejak Mei 2009. Ini mengancam tenggelamnya salah satu pulau strategis di Indonesia serta menyebabkan terlepasnya emisi karbon di daerah gambut dalam tersebut," kata Usman.
Usman menyebut, tim investigasi Walhi menemukan tumpukan kayu log yang diestimasikan mencapai 1.500 meter kubik. Tumpukan kayu sebagai bahan baku pulp sekitar 5.000 meter kubik. Selain itu, ditemukan 4 unit alat berat ekskavator sedang menarik kayu yang telah ditebang. Walhi juga menemukan pembuatan kanal-kanal yang telah mencapai panjangnya 10 km dengan lebar mencapai 12 meter dan kedalamannya mencapai 5 meter.
Menurut Usman, PT SRL memiliki konsesi dari pemerintah seluas 215.305 hektar. Izin ini memiliki 5 blok yang dua blok berada di Riau sedangkan 3 blok lainnya berada di Sumatera Utara. Di Pulau Rangsang PT SRL satu group dengan PT RAPP ini, memiliki izin seluas 18.890 hektar. Padahal luas pulau itu tidak sampai 200 km persegi.
"Pembukaan HTI di lahan gambut itu harusnya tidak diberikan pemerintah. Sebab, di lahan gambut yang seharusnya dilindungi, bila diekspoloitasi menyebabkan emisi karbon CO2 yang signifikan," kata Usman.
Kehadiran PT SRL, sambung Usman, juga menimbulkan konflik sosial dan keresahan masyarakat tempatan. Ini terbukti adanya penolakan 13 desa di pulau itu. Warga mengaku merasa terancam kehidupan mereka akibat operasi perusahaan ini.
"Pembabatan hutan alam rawa gambut oleh PT SRL bukan saja mengancam hutan rawa gambut Pulau Rangsa. Tapi mengancam pulau terluar Indonesia yang sangat strategis dalam aspek pertahanan dan keamanan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Tentu ini masalah serius dan tak bisa diabaikan begitu saja," ujar Usman.
"Kita juga mendesak Departemen Kehutanan meninjau ulang dan membatalkan izin yang telah diberikan kepada PT SRL. Sebab kebijakan itu menyebabkan banyak masalah terhadap ekosistem dan masyarakat, selain kontroversi dari segi perizinan yang berindikasikan pada praktek KKN," tambah Usman.
(cha/djo)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 11/02/2012 17:42 WIB
Hari Raya Kuningan, Pura-Pura Besar di Bali Dipadati Warga
-
Sabtu, 11/02/2012 17:35 WIB
Korban: Sebelum Jatuh, Sopir Teriak Rem Blong
-
Sabtu, 11/02/2012 17:32 WIB
Lika-liku Pengejaran 12 Tahanan Polsek Cempaka Putih
-
Sabtu, 11/02/2012 17:24 WIB
Alasan SBY Tunjuk TB Silalahi Jadi Dewan Kehormatan Demokrat
-
Sabtu, 11/02/2012 17:21 WIB
Dewan Kehormatan PD Surati DPP Soal Kader-kadernya yang Layak Dipecat
-
Sabtu, 11/02/2012 14:15 WIB
Warga Sweeping FPI, 2,5 Jam Bandara Palangkaraya Tak Beroperasi
-
Sabtu, 11/02/2012 13:02 WIB
Astaga! Restoran di Malaysia Tawarkan 'Hidangan' Seks
-
Sabtu, 11/02/2012 10:29 WIB
Miliki Payudara Alami Ukuran 30L, Wanita Inggris Merana
-
Sabtu, 11/02/2012 12:51 WIB
Ditolak di Palangkaraya, 5 Anggota FPI Diturunkan Sriwijaya di Banjarmasin
-
264 Komentar
-
229 Komentar
-
191 Komentar
-
177 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 600.000
- Rp 1,407.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

