
Toyota Crown Rp 1,3 M
Jangan Suburkan Ketidakadilan, Bercerminlah dari Koin Prita
Selasa, 29/12/2009 11:37 WIB
foto: ilustrasi
Jakarta -
Aksi pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari mestinya bisa dijadikan patokan bagi pejabat untuk membuat kebijakan. Pejabat semestinya tidak membuat ketidakadilan makin subur jika ingin tetap dipercaya.
"Pejabat kurang sensitif, jangan bermewah-mewahan. Mestinya melihat pada kasus koin Prita. Itu sudah merupakan protes rasa keadilan masyarakat dengan pengumpulan koin," kata pengamat kebijakan publik Sofyan Effendi melalui telepon, Selasa (29/12/2009).
Masyarakat dengan sukarela mengumpulkan koin untuk membayar denda Rp 204 juta yang dibebankan pada Prita. Hal ini justru bertolak belakang dengan pemerintah yang dengan mudahnya memakai mobil mewah.
Dengan penggunaan mobil mewah itu, justru rasa ketidakadilan terus menerus disuburkan. Kebijakan yang salah pada akhirnya membuat pemerintah tidak akan dipercaya masyarakat.
"Jadi kurang sensitif dengan kondisi masyarakat yang menginginkan pejabat lebih sederhana," imbuhnya.
Semestinya pemerintah bisa meniru negeri tetangga seperti India, di mana pejabatnya menggunakan mobil lokal, mulai dari Perdana Menteri hingga kalangan parlemen.
"Ya sayangnya kita memang tidak memiliki mobil nasional, padahal itu simbol kebanggaan bangsa. Kebijakan kita memang tidak nasionalistis. Tapi bagaimanapun penggunaan mobil ini, kalau pun dikatakan wajar, kenapa tidak dipikirkan lebih dahulu menggunakan mobil yang lama," tutupnya.
(ndr/iy)
"Pejabat kurang sensitif, jangan bermewah-mewahan. Mestinya melihat pada kasus koin Prita. Itu sudah merupakan protes rasa keadilan masyarakat dengan pengumpulan koin," kata pengamat kebijakan publik Sofyan Effendi melalui telepon, Selasa (29/12/2009).
Masyarakat dengan sukarela mengumpulkan koin untuk membayar denda Rp 204 juta yang dibebankan pada Prita. Hal ini justru bertolak belakang dengan pemerintah yang dengan mudahnya memakai mobil mewah.
Dengan penggunaan mobil mewah itu, justru rasa ketidakadilan terus menerus disuburkan. Kebijakan yang salah pada akhirnya membuat pemerintah tidak akan dipercaya masyarakat.
"Jadi kurang sensitif dengan kondisi masyarakat yang menginginkan pejabat lebih sederhana," imbuhnya.
Semestinya pemerintah bisa meniru negeri tetangga seperti India, di mana pejabatnya menggunakan mobil lokal, mulai dari Perdana Menteri hingga kalangan parlemen.
"Ya sayangnya kita memang tidak memiliki mobil nasional, padahal itu simbol kebanggaan bangsa. Kebijakan kita memang tidak nasionalistis. Tapi bagaimanapun penggunaan mobil ini, kalau pun dikatakan wajar, kenapa tidak dipikirkan lebih dahulu menggunakan mobil yang lama," tutupnya.
(ndr/iy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Selasa, 14/02/2012 00:56 WIB
Bangkai Roket H-2A Jepang Diperkirakan Hantam Bumi 16 Februari
-
Senin, 13/02/2012 23:42 WIB
Membasmi Korupsi Adalah Tantangan Berat Bagi SBY
-
Senin, 13/02/2012 23:00 WIB
Saatnya Pak Presiden Menjawab
-
Senin, 13/02/2012 22:45 WIB
Rosa 'Bernyanyi' Berbagai Macam Proyek Nazaruddin
-
Senin, 13/02/2012 22:14 WIB
Tersangka Geng Cewek Bali Dibela 9 Pengacara
-
Senin, 13/02/2012 21:43 WIB
SBY: FPI Harus Bertanya Kenapa Bisa Ditolak di Kalteng?
-
Senin, 13/02/2012 22:45 WIB
Rosa 'Bernyanyi' Berbagai Macam Proyek Nazaruddin
-
Senin, 13/02/2012 23:00 WIB
Saatnya Pak Presiden Menjawab
-
Senin, 13/02/2012 22:14 WIB
Tersangka Geng Cewek Bali Dibela 9 Pengacara
-
612 Komentar
-
503 Komentar
-
452 Komentar
-
386 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 13/02/2012 13:30 WIB
Jeruji Besi Menanti Angie
Demokrat di Ambang Kiamat
-
Senin, 13/02/2012 13:24 WIB
Jeruji Besi Menanti Angie
Angie Membuka Pintu, Siapa Bakal Masuk
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 863.000
- Rp 1,404.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

