Video WWF Rekam Harimau Sumatera Betina dan 2 Anaknya

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Jumat, 08/01/2010 14:27 WIB
Pekanbaru - Untuk pertama kalinya, video jebak (trap) milik World Wild Fund  ( WWF) Indonesia di Sumatera Bagian Tengah berhasil merekam gambar seekor harimau sumatera betina dengan dua anaknya. Video itu dipasang di dua wilayah koservasi Suaka Marga Satwa Rimbang Baling dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Riau dan Jambi.

"Memperoleh cuplikan video tersebut hanya dalam jangka waktu satu bulan setelah pemasangan kamera video merupakan suntikan moral yang sangat berarti bagi tim kami di lapangan," jelas Karmila Parakkasi, koordinator Tim Riset Harimau Sumatera WWF-Indonesia dalam siaran persnya yang diterima detikcom, Jumat (8/1/2010).

Karmila menjelaskan, Selain mendapatkan gambar harimau betina dan dua anaknya, video jebak yang dipasang tersebut juga mendapatkan gambar harimau jantan dan satwa buruannya yaitu babi hutan dan rusa, dan satwa lainnya seperti tapir, monyet ekor panjang, landak, dan luwak.

Video jebak bekerja dengan sensor infra merah yang otomatis teraktifasi saat sensor tersebut mengidentifikasi panas tubuh yang melintasinya. Piranti ini menjadi alat yang sangat penting dalam upaya mengidentifikasi individu harimau guna memonitor populasi serta habitat dan wilayah jelajahnya.

"Ada tantangan tersendiri dalam mengoperasikan kamera-kamera ini, di satu sisi kita harus memasangnya di lokasi yang biasanya dilewati satwa, namun di sisi lain kita juga harus melindungi kamera tersebut dari kemungkinan dicuri oleh pembalak dan pemburu liar." lanjut Karmila.

Karmila menjelaskan, selama lima tahun selama ini dalam penelitian WWF selalu menggunakan camera trap yang menghasilkan gambar tidak bergerak. Namun pada September 2009 lalu WWF mulai memasang video trap. Dan hasilnya berhasil merekam harimau betina dengan dua anak dan harimau jantan yang lagi berburuh mangsanya.

"Walaupun demikian, kami merasa khawatir karena hutan di kawasan tempat kami memperoleh video serta foto harimau tersebut terancam oleh pembukaan lahan oleh dua perusahaan pulp dan kertas raksasa, perkebunan kelapa sawit, serta perambahan dan penebangan liar. Yang menjadi pertanyaan, bisakah anak-anak harimau tersebut tumbuh besar di lingkungan seperti ini?," keluh Karmila.

(cha/djo)

Share:

Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index ยป
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel