Kolom Didik Supriyanto
Pola Kelahiran Partai Politik
Selasa, 02/02/2010 14:37 WIB
Jakarta -
Sejak orang bebas mendirikan organisasi massa di negeri ini, sejak itu pula puluhan bahkan ratusan kali organisasi didirikan. Ratusan elit politik telah mendirikan organisasi kemasyarakatan (ini bahasa Orde Baru), yang lalu berubah menjadi partai politik menjelang Pemilu.
Polanya jelas, sejumlah elit tersisih dalam pertarungan internal partai politik. Mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh sistem pemilihan internal. Karena kecewa, sebagian nekat mendirikan partai politik baru; sebagian yang lain, mendirikan organisasi massa dulu, sambil menunggu waktu Pemilu tiba.
Ketika mengikuti Pemilu, hasilnya tidak seperti yang mereka harapkan. Kepercayaan bahwa dirinya orang hebat, ternyata tidak terbukti dalam percaturan politik terbuka. Tanpa dukungan infrastruktur organisasi, mereka bukan siapa-siapa. Jadi, kalau ada elit hebat, kehebatannya itu sebetulnya lebih karena ditopang organisasi; bukan oleh kekuatan personalnya.
Banyaknya elit Golkar dan PDIP terlempar yang lalu mendirikan organisasi baru dan gagal, menunjukkan hal itu. Hal yang sama sebetulnya juga dialami oleh elit PKB dan PPP. Pertanyaannya, mengapa para elit yang kalah dalam pertarungan internal tetap menjalankan pola yang sama, meskipun ketika mendirikan organisasi baru atau partai baru, mereka belum tentu berhasil meraih dukungan signifikan dalam pemilu?
Selain ada faktor-faktor personal, seperti merasa diri orang hebat tadi, juga terdapat faktor politik yang mengarahkan ke sana atau mempertahankan situasi itu. Sistem kepartaian yang oligarkis dan sistem pemilu proporsional yang compang-camping, bisa menjadi unit analisis untuk memahami fenomena tersebut.
Perhatian tiga undang-undang partai politik terakhir (UU No. 2/1999, UU No. 31/2003 dan UU No. 2/2008), sama sekali tidak mengarahkan partai politik untuk terbuka dalam soal keuangan partai. Akibatnya, elit politik yang memiliki uang banyak (tidak peduli uang itu berasal dari mana), percaya diri untuk membangun partai. Sebab mereka merasa uang adalah modal utama menggerakkan partai.
Perhatikan juga tiga undang-undang pemilu terakhir (UU No. 3/1999, UU No. 12/2003 dan UU No. 10/2008). Ketiga undang-undang tersebut membebaskan partai politik mana saja untuk tampil dalam pemilu nasional, tanpa terlebih dahulu diuji apakah partai tersebut memiliki basis dukungan massa atau tidak, dalam pemilu lokal.
Akibatnya elit Jakarta leluasa mendirikan partai politik, karena dengan dana yang dimilikinya mereka merasa yakin bisa mengumpulkan sejumlah tanda tangan di setiap kabupaten/kota untuk memenuhi syarat mengikuti pemilu. Mereka memang mampu mengumpulkan tanda tangan (demikian juga dengan mendirikan kantor partai), namun tanda tangan yang dibeli dari masyarakat itu tidak berubah menjadi suara dalam pemilu.
* Didik Supriyanto, wartawan detikcom yang juga Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).
(diks/iy)
Polanya jelas, sejumlah elit tersisih dalam pertarungan internal partai politik. Mereka merasa diperlakukan tidak adil oleh sistem pemilihan internal. Karena kecewa, sebagian nekat mendirikan partai politik baru; sebagian yang lain, mendirikan organisasi massa dulu, sambil menunggu waktu Pemilu tiba.
Ketika mengikuti Pemilu, hasilnya tidak seperti yang mereka harapkan. Kepercayaan bahwa dirinya orang hebat, ternyata tidak terbukti dalam percaturan politik terbuka. Tanpa dukungan infrastruktur organisasi, mereka bukan siapa-siapa. Jadi, kalau ada elit hebat, kehebatannya itu sebetulnya lebih karena ditopang organisasi; bukan oleh kekuatan personalnya.
Banyaknya elit Golkar dan PDIP terlempar yang lalu mendirikan organisasi baru dan gagal, menunjukkan hal itu. Hal yang sama sebetulnya juga dialami oleh elit PKB dan PPP. Pertanyaannya, mengapa para elit yang kalah dalam pertarungan internal tetap menjalankan pola yang sama, meskipun ketika mendirikan organisasi baru atau partai baru, mereka belum tentu berhasil meraih dukungan signifikan dalam pemilu?
Selain ada faktor-faktor personal, seperti merasa diri orang hebat tadi, juga terdapat faktor politik yang mengarahkan ke sana atau mempertahankan situasi itu. Sistem kepartaian yang oligarkis dan sistem pemilu proporsional yang compang-camping, bisa menjadi unit analisis untuk memahami fenomena tersebut.
Perhatian tiga undang-undang partai politik terakhir (UU No. 2/1999, UU No. 31/2003 dan UU No. 2/2008), sama sekali tidak mengarahkan partai politik untuk terbuka dalam soal keuangan partai. Akibatnya, elit politik yang memiliki uang banyak (tidak peduli uang itu berasal dari mana), percaya diri untuk membangun partai. Sebab mereka merasa uang adalah modal utama menggerakkan partai.
Perhatikan juga tiga undang-undang pemilu terakhir (UU No. 3/1999, UU No. 12/2003 dan UU No. 10/2008). Ketiga undang-undang tersebut membebaskan partai politik mana saja untuk tampil dalam pemilu nasional, tanpa terlebih dahulu diuji apakah partai tersebut memiliki basis dukungan massa atau tidak, dalam pemilu lokal.
Akibatnya elit Jakarta leluasa mendirikan partai politik, karena dengan dana yang dimilikinya mereka merasa yakin bisa mengumpulkan sejumlah tanda tangan di setiap kabupaten/kota untuk memenuhi syarat mengikuti pemilu. Mereka memang mampu mengumpulkan tanda tangan (demikian juga dengan mendirikan kantor partai), namun tanda tangan yang dibeli dari masyarakat itu tidak berubah menjadi suara dalam pemilu.
* Didik Supriyanto, wartawan detikcom yang juga Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).
(diks/iy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
KolomTerbaru
Indeks Kolom ยป
-
Jumat, 10/02/2012 13:27 WIB
Catatan Agus Pambagio
BRTI, Apa Kabar Pulsa Saya?
-
Senin, 06/02/2012 19:23 WIB
Kolom
Bangsa ini Saatnya Meneladani Kejujuran Nabi Muhammad SAW
-
Selasa, 31/01/2012 10:21 WIB
Kolom
Siapapun Ketuanya, Ibas Tetap Sekjen
-
Senin, 30/01/2012 09:42 WIB
Catatan Agus Pambagio
Politisasi Pencurian Pulsa
-
Senin, 30/01/2012 08:55 WIB
Amuk Massa di Bima Harus Dicegah Tidak Terulang
-
Minggu, 12/02/2012 18:17 WIB
Usai Razia Kendaraan, Dua Polisi di Bogor Dibacok 7 Pria
-
Minggu, 12/02/2012 17:20 WIB
Amir Copot Kakanwil Kemenkum Jakarta Hingga Karutan Cipinang
-
Minggu, 12/02/2012 17:33 WIB
Kunjungan Nasir Terkuak Berkat CCTV yang Tersambung di Ruang Menkum
-
Minggu, 12/02/2012 17:53 WIB
Inilah 16 Korban Luka-luka Kecelakaan di KM 27 Tol Jagorawi
-
588 Komentar
-
473 Komentar
-
379 Komentar
-
230 Komentar
Lapsus
Index ยป
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 863.000
- Rp 600.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

