Laporan Khusus Lain

Indeks Laporan Khusus




Jumat, 05/02/2010 15:06 WIB
Lintas Melawai Kini
Tak Ada Lagi JJS & Breakdance di Melawai
M. Rizal Maslan - detikNews

Foto: Rizal/Detikcom
Jakarta - "Di...di lintas Melawai muda-mudi selalu pasang aksi/ Mereka asyik bercanda ria/ Saling Tegur/ Senyum dan Tawa..." begitu syair lagu 'Lintas Melawai'. Siapa yang tak kenal dengan lagu hits dari rocker Harry Moekti pada pertengahan tahun 1980-an itu.

Lagu penyanyi yang kini menjadi ustadz ini, merupakan gambaran kehidupan anak muda di selatan Jakarta pada masa itu. Mereka berkumpul di Jalan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kebiasaan kumpul-kumpul ini mencapai puncak pada akhir pekan.

JJS atau jalan-jalan sore, begitu anak muda era 1980-an menggunakan istilah ketika kongkow. Bahkan, JJS ini ngetop setelah Deni Malik menyanyikan lagu 'Jalan-Jalan Sore' pada tahun 1988. Kawasan Melawai semakin ngetop lagi ketika muncul film Catatan Si Boy yang dibintangi oleh Ongky Alexander dan Meriam Bellina serta Didi Petet.

"JJS, di Melawai ini terkenal dengan jalan-jalan sore. Jadi bukan nongkrong di kafe-kafe atau diskotik. Tapi nongkrong di sepanjang Jalan Melawai, di tenda atau warung kopi, mie instan, pisang atau roti bakar," ungkap Ahmad Sucipto (46) warga Kramatjati, Jakarta Timur yang ditemui detikcom, Kamis (4/2/2010) malam.

Sucipto menjelaskan, dulu di kawasan Melawai, terutama Blok M memang ada sejumlah kafe, bar, diskotik dan restoran. Namun, anak muda di tahun 1980-an lebih senang mejeng (nongkrong) di warung kopi di sepanjang jalan itu. "Yang pesan minuman sama makanan pakai mobil atau motor semua. Mereka makan dan minum sambil pamer kendaraan masing-masing. Justru paling banyak itu kalau sudah malam Minggu," kenang Sucipto.

"Pokoknya kalau kita sebut Melawai, semua anak muda merasa bangga dengan tempat tongkrongan itu. Bangganya seperti sudah nongkrong atau gaul dengan anak-anak orang kaya dan pejabat," imbuhnya lagi.

Sucipto menjelaskan, pada era itu anak muda dari berbagai strata ekonomi berkumpul dan merumpi. Tapi, jarang terjadi gesekan atau tawuran di antara kelompok-kelompok yang ada. Kalau ada dua kelompok berseteru, itu karena mereka adu breakdance bukan adu jotos. Mejeng di Jalan Melawai merupakan hiburan murah buat mereka.

"Ya pokoknya, kita lihat anak mami itu, apalagi cewek-cewek yang cantik. Nah, dulu di sini banyak nongkrong anak-anak yang broken home," ucapnya mengenang masa lalu saat nongkrong di Melawai.

Banyak perempuan muda yang tidak hanya menggoda lawan jenis yang sebaya, tapi oom-oom. Dulu, remaja lelaki juga menjadi sasaran target perempuan umur 30-50 yang kesepian. Tante Girang, istilah itu lahir untuk menyebut perempuan kaya kesepian mencari mangsa di Melawai.

"Dari dulu perek banyak, tapi sebutan 'perek' sekarang berubah. Kalau dulu perek itu badung (nakal) dan suka minta jajan aja. Sekarang konotasinya sudah menjadi PSK. Dulu nggak kayak gitu, paling makan-makan," katanya.

Selain tempat mejeng anak gaul tempo dulu, Melawai adalah ajang pamer kekayaan berupa mobil. Setiap kelompok membawa kendaraan masing-masing untuk dipamerkan. Mereka akan berputar sejenak mengelilingi kawasan Melawai, Bulungan, Mahakam dan Blok M. Setelah itu nongkrong minum kopi, makan pisang bakar atau sejenisnya.

Edi, adalah juga warga Jakarta yang dulu menghabiskan masa mudanya di Melawai. Pada tahun 1980-an, yang ngetop adalah Diskotik Zanzibar, selain itu ada M Club, Lipstick dan ada Happy Day untuk bermain sepatu roda. Pria yang kini menjadi pengurus partai ini mengenang Melawai sebagai tempat ramai penuh restoran Jepang dan Korea dan pelayannya bisa dirayu para anak muda itu.

"Dulu yang namanya bar dan diskotik jarang pengunjung mengkonsumi narkoba, paling hanya soft drink. Ada juga yang minum alkohol. Tapi sejak masuk ekstasi tempat hiburan di sini sepi," kenangnya.

Kawasan Melawai perlahan berubah seiring berkembangnya aktivitas niaga di tempat itu. Pertokoan pun berganti nama. Sementara mal-mal baru terus bermunculan dan lebih modern. Asril (54), warga Kebayoran Lama mengenang Garden Hall yang sekarang menjadi Blok M Plaza.

"Ini dulu ada bioskopnya, tempat bowling dan Bar Tambora. Yang terkenal itu Ayam Goreng Haji Rahmat, sekarang pindah ke Panglima Polim. Kalau es krim yang terkenal Swensen's," kenangnya.

Begitulah kenangan Sucipto, Edi dan Asril tentang Melawai. Kini senyum dan tawa muda-mudi itu tinggal kenangan. Gerai-gerai fast food menyerbu masuk menggantikan tenda roti dan pisang bakar. Mal-mal modern dan full AC menggantikan semilir angin sore. Melawai sekarang sudah kalah pamor, sepi dan gelap, kecuali siang yang sibuk dengan perkantoran dan perbelanjaan saja.

"Anak muda sekarang lebih senang nongkrong di mal," kata Asril tersenyum mengenang nasib Melawai kini. (zal/fay)


GRATIS kaos cantik dan voucher pulsa! ikuti sms berlangganannya, ktk REG DETIK kirim ke 3845 (Telkomsel, Indosat, Three)

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Komentar terkini (7 Komentar)

Baca juga :

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi Nuniek di nuniek[at]detik.com,
telepon 021-7941177 (ext.526).