
Monas Nasibmu Kini
Nasionalisme yang Tersisa untuk Anak SD dan Bule-bule
Senin, 08/02/2010 10:47 WIB
Jakarta -
Canda tawa riang menghias wajah mungil puluhan anak SD yang mengantre masuk ke Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat. Botol minum diselempangkan di badan mereka, tas mereka pun penuh berisi makanan, buku dan alat tulis. Dengan antusias, mereka berjalan diiringi para guru dan orang tua.
"Ih..tinggi amat. Berani ngga naik ke atas?" ujar salah seorang bocah itu menantang temannya. Temannya hanya menganggukan kepala sambil menyeruput botol minumnya.
"Ayo antre anak-anak! Nanti kita masuk museum dulu yah. Kita belajar sejarah dulu," ujar sang pemandu wisata Monas.
Tidak hanya rombongan anak SD itu yang meramaikan Monas pada Sabtu (6/2/2010) pagi itu. Sejak jam berkunjung dibuka pukul 08.30 WIB, para pengunjung semakin bertambah seiring siang datang. Ada yang datang dalam rombongan keluarga. Ada juga turis-turis asing yang mengunjungi tugu kemerdekaan Indonesia ini.
Suasana Monas yang steril dari kendaraan memang tampak segar dan asri. Pohon hias berdiri dengan rapi. Suasana seperti ini memang nyaman untuk rekreasi, bahkan untuk tempat pacaran sekali pun. Bahkan sejumlah muda mudi terlihat tiduran di atas jalan lingkar Tugu Monas yang biasa dilalui delman itu.
Monas diresmikan Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1961, 49 tahun lalu. Sejak itu, monumen ini pun menerima kunjungan rakyat Indonesia. Para pengunjung masuk ke Tugu Monas lewat pintu di pelataran Utara. Mereka harus masuk lorong bawah tanah sepanjang 150 meter yang bersih dan berpendingin AC. Setelah itu mereka masuk museum dengan tiket dewasa Rp 2.500, pelajar dan anak-anak sekitar Rp 1.000.
Di ruang bawah tanah seluas 80x80 meter, mereka akan disuguhi 51 diorama (jendela peragaan) sejarah nenek moyang bangsa Indonesia, sejarah kerajaan tempo dulu dan juga perjuangan kemerdekaan. Di ruang ini juga terdapat stand informasi transportasi modern masa depan Jakarta.
Sebagian pelajar asyik mencatat keterangan di diorama tersebut, mungkin untuk tugas sekolah. Sementara para orang tua lesehan sambil melepas penat. Para bule-bule serius mendengarkan keterangan dari pada pemandu soal kisah di setiap diorama itu.
Dari museum, pengunjung akan sampai ke cawan atau pelataran puncak. Jika ingin lanjut ke puncak Monas, pengunjung dewasa membayar lagi Rp 7.500 dan pelajar serta anak-anak membayar Rp 3.500. Di dalam cawan tugu Monas, ada Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Di sini dipampang atribut kemerdekaan, peta kepulauan RI, bendera Merah Putih, lambang negara dan pintu gapura berisi teks Proklamasi. Ruang ini juga berpendingin AC dan bersih. Setiap pojok tempat di siapkan tempat sampah. Tidak hanya itu, di setiap tangga disiapkan alat bantu pengunjung yang mengenakan kursi roda.
Untuk sampai ke puncak Tugu Monas yang tingginya sekitar 115 meter itu digunakan elevator tunggal. Elevator ini maksimum diisi 11 orang untuk menuju ruang pelataran puncak yang luasnya 11x11 meter dan bisa menampung 50 orang.
Puncak dari wisata di Tugu Monas, adalah melihat Lidah Api Kemerdekaan. Lidah Api Kemerdekaan itu dibuat dari bahan perunggu seberat 14,5 ton, tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter, serta terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah Api Kemerdekaan ini dilapisi emas (Gold Leaf) seberat 50 kilogram. Total ketinggian Tugu Monas dari halaman sampai lidah api ini
mencapai 132 meter.
Di puncak inilah para pengunjung bisa melihat pemandangan di seluruh ibukota. Bila ingin lebih jelas, tinggal memakai teropong yang tarifnya Rp 2.000 untuk 1,5 menit.
"Alhamdulillah, jumlah pengunjung setiap tahun terus meningkat," kata Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pengelola Monumen Nasional, Ageng Darmintono, kepada detikcom di ruang kerjanya, Sabtu (6/2/2010) lalu.
Ageng menjelaskan target pengunjung pada 2009 adalah 900 ribu orang. Target ini terlampaui dengan pengunjung riil yang mencapai 1,2 juta orang. "Target 2010 adalah 950 ribu orang. Semoga bisa mencapai 1,5 juta kunjungan," ujar Ageng penuh harap.
Untuk itu, pengelola berusaha membuat Monas senyaman mungkin. Tidak ada kendaraan masuk. Semua parkir di depan Balaikota di Jl Medan Merdeka Selatan. Ageng berharap lebih banyak lagi masyarakat yang berkunjung ke Monas. Monas menawarkan pelajaran mengenai semangat kebangsaan yang mulai dilupakan orang.
"Kemudahan transportasi antar jemput di dalam lingkungan kita siapkan. Akses transportasi ke Monas juga mendukung. Apalagi ada stasiun kereta dan semua arah dilalui busway," jelasnya.
Pada 2009, Monas mereguk pendapatan Rp 4,9 miliar yang menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemprov DKI Jakarta. Pemeliharaan Monas diambil dananya dari APBD lewat pos Unit Pelayanan Teknis Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta.
Hari semakin siang, antrian pengunjung untuk masuk ke dalam Tugu Monas semakin panjang. Walau cuaca diselimuti awan, masyarakat semakin banyak berdatangan. Menjelang sore hari, masyarakat masih terus menikmati suasana Monas. Dengan riang, sepasang muda mudi berfoto ria sambil bergandengan tangan di depan Tugu Monas ini.
(zal/fay)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda



"Ih..tinggi amat. Berani ngga naik ke atas?" ujar salah seorang bocah itu menantang temannya. Temannya hanya menganggukan kepala sambil menyeruput botol minumnya.
"Ayo antre anak-anak! Nanti kita masuk museum dulu yah. Kita belajar sejarah dulu," ujar sang pemandu wisata Monas.
Tidak hanya rombongan anak SD itu yang meramaikan Monas pada Sabtu (6/2/2010) pagi itu. Sejak jam berkunjung dibuka pukul 08.30 WIB, para pengunjung semakin bertambah seiring siang datang. Ada yang datang dalam rombongan keluarga. Ada juga turis-turis asing yang mengunjungi tugu kemerdekaan Indonesia ini.
Suasana Monas yang steril dari kendaraan memang tampak segar dan asri. Pohon hias berdiri dengan rapi. Suasana seperti ini memang nyaman untuk rekreasi, bahkan untuk tempat pacaran sekali pun. Bahkan sejumlah muda mudi terlihat tiduran di atas jalan lingkar Tugu Monas yang biasa dilalui delman itu.
Monas diresmikan Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1961, 49 tahun lalu. Sejak itu, monumen ini pun menerima kunjungan rakyat Indonesia. Para pengunjung masuk ke Tugu Monas lewat pintu di pelataran Utara. Mereka harus masuk lorong bawah tanah sepanjang 150 meter yang bersih dan berpendingin AC. Setelah itu mereka masuk museum dengan tiket dewasa Rp 2.500, pelajar dan anak-anak sekitar Rp 1.000.
Di ruang bawah tanah seluas 80x80 meter, mereka akan disuguhi 51 diorama (jendela peragaan) sejarah nenek moyang bangsa Indonesia, sejarah kerajaan tempo dulu dan juga perjuangan kemerdekaan. Di ruang ini juga terdapat stand informasi transportasi modern masa depan Jakarta.
Sebagian pelajar asyik mencatat keterangan di diorama tersebut, mungkin untuk tugas sekolah. Sementara para orang tua lesehan sambil melepas penat. Para bule-bule serius mendengarkan keterangan dari pada pemandu soal kisah di setiap diorama itu.
Dari museum, pengunjung akan sampai ke cawan atau pelataran puncak. Jika ingin lanjut ke puncak Monas, pengunjung dewasa membayar lagi Rp 7.500 dan pelajar serta anak-anak membayar Rp 3.500. Di dalam cawan tugu Monas, ada Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Di sini dipampang atribut kemerdekaan, peta kepulauan RI, bendera Merah Putih, lambang negara dan pintu gapura berisi teks Proklamasi. Ruang ini juga berpendingin AC dan bersih. Setiap pojok tempat di siapkan tempat sampah. Tidak hanya itu, di setiap tangga disiapkan alat bantu pengunjung yang mengenakan kursi roda.
Untuk sampai ke puncak Tugu Monas yang tingginya sekitar 115 meter itu digunakan elevator tunggal. Elevator ini maksimum diisi 11 orang untuk menuju ruang pelataran puncak yang luasnya 11x11 meter dan bisa menampung 50 orang.
Puncak dari wisata di Tugu Monas, adalah melihat Lidah Api Kemerdekaan. Lidah Api Kemerdekaan itu dibuat dari bahan perunggu seberat 14,5 ton, tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter, serta terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah Api Kemerdekaan ini dilapisi emas (Gold Leaf) seberat 50 kilogram. Total ketinggian Tugu Monas dari halaman sampai lidah api ini
mencapai 132 meter.
Di puncak inilah para pengunjung bisa melihat pemandangan di seluruh ibukota. Bila ingin lebih jelas, tinggal memakai teropong yang tarifnya Rp 2.000 untuk 1,5 menit.
"Alhamdulillah, jumlah pengunjung setiap tahun terus meningkat," kata Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pengelola Monumen Nasional, Ageng Darmintono, kepada detikcom di ruang kerjanya, Sabtu (6/2/2010) lalu.
Ageng menjelaskan target pengunjung pada 2009 adalah 900 ribu orang. Target ini terlampaui dengan pengunjung riil yang mencapai 1,2 juta orang. "Target 2010 adalah 950 ribu orang. Semoga bisa mencapai 1,5 juta kunjungan," ujar Ageng penuh harap.
Untuk itu, pengelola berusaha membuat Monas senyaman mungkin. Tidak ada kendaraan masuk. Semua parkir di depan Balaikota di Jl Medan Merdeka Selatan. Ageng berharap lebih banyak lagi masyarakat yang berkunjung ke Monas. Monas menawarkan pelajaran mengenai semangat kebangsaan yang mulai dilupakan orang.
"Kemudahan transportasi antar jemput di dalam lingkungan kita siapkan. Akses transportasi ke Monas juga mendukung. Apalagi ada stasiun kereta dan semua arah dilalui busway," jelasnya.
Pada 2009, Monas mereguk pendapatan Rp 4,9 miliar yang menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemprov DKI Jakarta. Pemeliharaan Monas diambil dananya dari APBD lewat pos Unit Pelayanan Teknis Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta.
Hari semakin siang, antrian pengunjung untuk masuk ke dalam Tugu Monas semakin panjang. Walau cuaca diselimuti awan, masyarakat semakin banyak berdatangan. Menjelang sore hari, masyarakat masih terus menikmati suasana Monas. Dengan riang, sepasang muda mudi berfoto ria sambil bergandengan tangan di depan Tugu Monas ini.
(zal/fay)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru
Indeks Laporan Khusus »
-
Senin, 13/02/2012 13:30 WIB
Jeruji Besi Menanti Angie
Demokrat di Ambang Kiamat
-
Senin, 13/02/2012 13:24 WIB
Jeruji Besi Menanti Angie
Angie Membuka Pintu, Siapa Bakal Masuk
-
Senin, 13/02/2012 12:28 WIB
Angie Menanti Dibui
Bumerang Omongan Sang Putri
-
Senin, 13/02/2012 09:13 WIB
Jeruji Besi Menanti Angie
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 13/02/2012 21:43 WIB
SBY: FPI Harus Bertanya Kenapa Bisa Ditolak di Kalteng?
-
Senin, 13/02/2012 17:42 WIB
Ditolak di Palangkaraya, FPI Polisikan Gubernur & Kapolda
-
Senin, 13/02/2012 20:47 WIB
Keluarga Nasrudin: Hanya Mukjizat yang Bisa Bebaskan Antasari
-
Senin, 13/02/2012 20:26 WIB
Nazaruddin Dipecat Setelah SBY Marah
-
620 Komentar
-
520 Komentar
-
442 Komentar
-
388 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 13/02/2012 13:30 WIB
Jeruji Besi Menanti Angie
Demokrat di Ambang Kiamat
-
Senin, 13/02/2012 13:24 WIB
Jeruji Besi Menanti Angie
Angie Membuka Pintu, Siapa Bakal Masuk
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 598.000
- Rp 863.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

