Rumah Jagal Babi
Karena Leher Babi Sulit Diikat
Selasa, 09/02/2010 11:27 WIB
Foto: Deden/Detikcom
Jakarta -
Satu demi satu binatang gemuk berwarna merah muda itu masuk ke dalam sebuah ruangan berukuran 6x7 meter. Di ruangan itu telah menunggu seorang pria berseragam biru muda yang memegang besi penjepit ukuran besar. Listrik 180 volt mengalir di ujung besi penjepit itu.
Dengan sigap, pria itu menjepit besi ke kepala babi. Zzzztt! Setrum mengalir. Si babi menguik sebentar lalu jatuh terkulai. Dua petugas lain langsung menggantung babi secara terbalik lalu dicantolkan di besi pengait yang terkait di rel.
"Penyetruman itu untuk melumpuhkan babi yang hendak dipotong. Babi sulit diikat lehernya, tidak seperti sapi atau kambing. Jadi cara yang efektif adalah disetrum," jelas Putu Seneng, petugas Rumah Potong Hewan (RPH) Darma Jaya Kapuk, Jakarta Barat, Senin (8/2/2010).
Babi yang sudah digantung terbalik dibawa ke bagian jagal. Darah babi tidak dialirkan lewat menyembelih urat nadi di leher. Namun, tukang jagal menusuk pisau vertikal dari arah dada ke jantung. Darah segar pun mengalir. Setelah babi mati dan darah berhenti mengalir, barulah babi direndam di air panas atau scalding.
Babi direndam di air panas 70 derajat Celcius selama 10 menit untuk merontokan bulu di kulitnya. Setelah itu, babi dimasukkan lagi ke mesin penggiling agar bulunya rontok. Biar lebih licin lagi, usai dari mesin penggiling, petugas menggunakan pisau kecil untuk membersihkan bulu halus babi itu. Setelah itu barulah kepala babi dipotong.
"Setelah direndam dan digiling, kepala babi langsung dipotong. Badan lalu dibelah dua dengan kampak yang tajam sepanjang tulang belakang untuk lalu diambil jeroannya," jelas Putu.
Sebelum dilempar ke pasar, daging babi dicap atas nama bandar. Daging lalu didinginkan di ruang pendingin bersuhu 15 derajat Celcius selama 8 jam. Tujuannya agar daging babi bisa lebih awet dan tetap segar saat dijual di pasar. Jika daging masuk ruang pendingin pukul 18.00 WIB, maka daging dikeluarkan pukul 02.00 WIB dini hari. Setelah itu daging dikemas dan diangkut ke sejumlah pasar di Jakarta.
Menurut Kepala RPH Kapuk, Widhanardi, proses pemotongan babi lewat setrum, rebus dan potong itu adalah prosedur operasional standar yang ditetapkan oleh Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian. "Proses pemotongan telah melalui standarisasi. Baik dari segi kesehatan maupun kelayakan dagingnya untuk dikonsumsi," jelasnya.
Selain di RPH, memang ada beberapa tempat pemotongan hewan yang dimiliki sejumlah peternak babi di Tangerang maupun di daerah-daerah lain. Namun proses pemotongannya berbeda RPH. Menurut Widhanardi, para peternak umumnya melumpuhkan babi dengan cara memasukan ke dalam karung kemudian dipukuli hingga tidak berdaya.
Setelah babi itu pingsan atau tewas babi langsung diolesi air panas untuk dikerok dan dipotong-potong. Kemudian, daging itu langsung dikirim ke pasar tanpa perebusan atau pendinginan. Dengan proses yang sangat sederhana dan singkat ini kualitas daging meragukan higienisnya.
"Tapi daging-daging yang dipotong oleh para peternak bukan tanggung jawab kami. Itu tugas BPOM untuk melakukan pengecekan ke pasar-pasar," ujarnya.
Menurut Widhanardi, ada puluhan pasar tradisional yang menjual daging babi. 12 Pasar ada di Jakarta Pusat, 20 di Jakarta Barat, 7 di Jakarta Timur, 6 di Jakarta Utara. Jakarta Selatan hanya punya 1 pasar yang menjual daging babi, yakni di pasar Blok A.
(ddg/fay)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda



Dengan sigap, pria itu menjepit besi ke kepala babi. Zzzztt! Setrum mengalir. Si babi menguik sebentar lalu jatuh terkulai. Dua petugas lain langsung menggantung babi secara terbalik lalu dicantolkan di besi pengait yang terkait di rel.
"Penyetruman itu untuk melumpuhkan babi yang hendak dipotong. Babi sulit diikat lehernya, tidak seperti sapi atau kambing. Jadi cara yang efektif adalah disetrum," jelas Putu Seneng, petugas Rumah Potong Hewan (RPH) Darma Jaya Kapuk, Jakarta Barat, Senin (8/2/2010).
Babi yang sudah digantung terbalik dibawa ke bagian jagal. Darah babi tidak dialirkan lewat menyembelih urat nadi di leher. Namun, tukang jagal menusuk pisau vertikal dari arah dada ke jantung. Darah segar pun mengalir. Setelah babi mati dan darah berhenti mengalir, barulah babi direndam di air panas atau scalding.
Babi direndam di air panas 70 derajat Celcius selama 10 menit untuk merontokan bulu di kulitnya. Setelah itu, babi dimasukkan lagi ke mesin penggiling agar bulunya rontok. Biar lebih licin lagi, usai dari mesin penggiling, petugas menggunakan pisau kecil untuk membersihkan bulu halus babi itu. Setelah itu barulah kepala babi dipotong.
"Setelah direndam dan digiling, kepala babi langsung dipotong. Badan lalu dibelah dua dengan kampak yang tajam sepanjang tulang belakang untuk lalu diambil jeroannya," jelas Putu.
Sebelum dilempar ke pasar, daging babi dicap atas nama bandar. Daging lalu didinginkan di ruang pendingin bersuhu 15 derajat Celcius selama 8 jam. Tujuannya agar daging babi bisa lebih awet dan tetap segar saat dijual di pasar. Jika daging masuk ruang pendingin pukul 18.00 WIB, maka daging dikeluarkan pukul 02.00 WIB dini hari. Setelah itu daging dikemas dan diangkut ke sejumlah pasar di Jakarta.
Menurut Kepala RPH Kapuk, Widhanardi, proses pemotongan babi lewat setrum, rebus dan potong itu adalah prosedur operasional standar yang ditetapkan oleh Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian. "Proses pemotongan telah melalui standarisasi. Baik dari segi kesehatan maupun kelayakan dagingnya untuk dikonsumsi," jelasnya.
Selain di RPH, memang ada beberapa tempat pemotongan hewan yang dimiliki sejumlah peternak babi di Tangerang maupun di daerah-daerah lain. Namun proses pemotongannya berbeda RPH. Menurut Widhanardi, para peternak umumnya melumpuhkan babi dengan cara memasukan ke dalam karung kemudian dipukuli hingga tidak berdaya.
Setelah babi itu pingsan atau tewas babi langsung diolesi air panas untuk dikerok dan dipotong-potong. Kemudian, daging itu langsung dikirim ke pasar tanpa perebusan atau pendinginan. Dengan proses yang sangat sederhana dan singkat ini kualitas daging meragukan higienisnya.
"Tapi daging-daging yang dipotong oleh para peternak bukan tanggung jawab kami. Itu tugas BPOM untuk melakukan pengecekan ke pasar-pasar," ujarnya.
Menurut Widhanardi, ada puluhan pasar tradisional yang menjual daging babi. 12 Pasar ada di Jakarta Pusat, 20 di Jakarta Barat, 7 di Jakarta Timur, 6 di Jakarta Utara. Jakarta Selatan hanya punya 1 pasar yang menjual daging babi, yakni di pasar Blok A.
(ddg/fay)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru
Indeks Laporan Khusus »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Senin, 06/02/2012 10:22 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Menyeret Siapa?
-
Senin, 06/02/2012 10:19 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Siasat Judi Sponsor Miranda
-
Senin, 30/01/2012 09:47 WIB
Hantu Rp 500 M Proyek DPR (4)
Marzuki Alie: Silakan Proyek DPR Dibuka Semua
-
Kamis, 09/02/2012 08:22 WIB
Ombudsman Beri Waktu 1 Bulan untuk Selesaikan Kasus GKI Yasmin
-
Kamis, 09/02/2012 06:42 WIB
Iran akan Serbu Fasilitas AS di Seluruh Dunia Jika Diserang
-
Kamis, 09/02/2012 07:59 WIB
Para Pendiri PD Bakal Bertemu Bahas Masa Depan Partai
-
Kamis, 09/02/2012 00:08 WIB
Tim Investigasi: Jembatan Kukar Salah Sejak Perencanaan
-
229 Komentar
-
196 Komentar
-
176 Komentar
-
166 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Senin, 06/02/2012 15:13 WIB
Bagir Manan: Harus The Best One yang Jadi Ketua MA
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 862.000
- Rp 1,419.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer




_2.gif)


Sending your message

---125x125.gif)
.gif)

