Panahan Sepi Peminat

Menunggu Panah Itu Melesat Lagi

M. Rizal Maslan - detikNews
Kamis, 11/03/2010 14:21 WIB
Foto: Rizal/detikcom
Jakarta - Lima pemuda berkumpul di saung bambu pada sebuah villa di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Dua dari mereka, Bayu dan Potan memegang busur panah tradisional. Mereka serius mendengarkan penjelasan instruktur. Setelah itu, dengan berlagak Robin Hood di Hutan Sherwood, mereka membidik target yang menjadi sasaran.

Syuuut! Panah-panah mereka meleset dari sasaran. Kawan-kawan yang lain mentertawakan mereka. Bayu dan Potan hanya nyengir kuda. "Jangan pada nonton. Yang mengaku turunan Arjuna, ayo pakai ini!" kata Bayu menantang temannya, Minggu (7/3).

Seiring mereka melanjutkan bermain panahan, sebuah pertanyaan pun terlontar. "Apa masih ada yang hobi panahan? Klubnya jarang kali ya? Atletnya saja bisa dihitung jari," kata mereka.

Semua pertanyaan itu diiyakan oleh Kepala Pelatih Jakarta Archery Club atau Jakarta Private Archery, Tri Danang. Saat ditemui detikcom di Stadion Panahan, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Danang mengatakan minat terhadap olahraga panahan memang sedikit.

"Mungkin sebagian menganggap ini hobi atau olahraga mahal seperti halnya berkuda atau menembak, padahal sebenarnya tidak juga," ungkap Danang, Kamis (11/3/2010).

Padahal, menurut Danang, di era 1980-an hobi memanah sempat meningkat. Trio Srikandi atlet panahan putri Indonesia merebut medali perak dalam Olimpiade Seoul, Korea Selatan pada tahun 1988. Semua orang pun belajar panahan.

"Cuma seiring waktu, nampaknya perhatian pemerintah, khususnya di DKI Jakarta dalam memperkenalkan panahan belum mengena. Atau, belum ditemukan metode sederhana agar bagaimana masyarakat mau mencoba," jelasnya.

Oleh sebab itu, sebagai mantan atlet panahan DKI Jakarta ini, Danang bersama sejumlah rekannya pada tahun 2004 silam membentuk wadah komunitas Jakarta Private Archery (JPA) di bawah naungan Persatuan Panahan Indonesia itu. "Kita mengajar orang yang mau belajar panahan, tapi tidak menjadi atlet," ujarnya.

JPA menawarkan latihan per 3 bulanan, yaitu Teknik Dasar I selama tiga bulan, Teknik Dasar II selama 3 bulan dan Intermediate juga selama tiga bulan. Semua paket ini biayanya antara Rp 700.000 untuk satu kali latihan dalam seminggu atau Rp 900.000 untuk dua kali latihan dalam satu minggu. Untuk pelajar lebih murah dari itu.

"Namun kita ada program khusus, yaitu Free Trial kepada masyarakat yang mau mencoba. Dan ini gratis sebelum mereka mengikuti lesson kita itu. Bagi kita, yang ikut Free Trial saja kita senang, karena mereka mau mencoba," tandasnya.

Danang menambahkan, biaya kursus memanah ini sudah termasuk sewa alat-alat memanah. Namun ada juga peserta kursus yang membawa alat sendiri ketika latihan. Ia pun menampik bila hobi yang satu ini dikategorikan barang mewah atau mahal.

"Untuk ukuran zaman sekarang alat-alat sangat relatif dan masih terjangkau, tergantung alatnya juga apakah untuk pemula sampai mahir, antara Rp 1-3 juta," tandasnya.

Harga busur panah dan anak panah pun beragam jenis dan bentuknya. Jenis busur panah ada dua macam, yaitu Compound dan Recurve. Bahannya sendiri terbuat dari kayu, fiber glass, karbon dan berbahan metal seperti alumunium. Nah, bahan tentu menentukan harga.

Dalam panahan ada beberapa jarak yang diperkenalkan, yaitu jarak 10 meter, 30-50 meter hingga 100 meter. Kelas pemula hanya diperkenankan jarak 10-30 meter. Yang terpenting, lanjut Danang, dalam panahan yang dinilai bukan hanya soal akurasi. Ada juga latihan fokus, kecepatan, tantangan, keluwesan, mental dan disiplin.

"Semua itu diramu dalam panahan. Memang semua cabang olahraga lain juga punya unsur itu. Nah di sini kita main saja. Jadi saat menarik tali dan panah tidak ada beban, enjoy the game," ucapnya.

Kesan masyarakat menganggap panahan itu olahraga gampang. Padahal butuh konsentrasi dan keahlian juga untuk memanah. Danang sudah mulai memanah sejak SMP. JPA kini melatih 20 pemanah amatir dalam berbagai paket pelatihan. Biasanya, latihan dilakukan pada hari Rabu, Sabtu dan Minggu.

"Yang paling ramai biasanya Sabtu dan Minggu," pungkasnya.
(zal/fay)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:

Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel