Laporan dari Sydney
Kisah Sopir Taksi Blok M di Sudut Sydney
Kamis, 11/03/2010 17:49 WIB
Amir Yasra (Foto: Anwar/detikcom)
Sydney -
"Blok M! Blok M!" panggil seorang sopir taksi. Suara ini biasa saja jika terdengar di Jakarta. Namun jika mendengarnya di Alfred Street, Sydney, Australia, sungguh tak menyangka.
Banyak warga Indonesia tinggal di Australia. Di Negeri Kangguru ini, mereka kuliah atau bekerja. Kota Sydney yang terkenal dengan Opera House, juga banyak didiami orang Indonesia.
Namun panggilan 'Blok M' sungguh menarik perhatian wartawan detikcom Anwar Khumaini dan rombongan wartawan di sela kunjungan Presiden SBY di Australia. Rupa-rupanya panggilan itu datang dari mulut Amir Yasra, pria paruh baya yang menjadi sopir taksi yang mangkal di Alfred Street, Sydney.
"Saya di sini sudah sejak tahun 1979, Mas," Amir membuka cerita, Kamis (11/3/2010). Amir kini sudah menjadi WN Australia.
"Dulu banyak WNI yang jadi sopir taksi di sini. Tapi sekarang sudah kaya-kaya. Tinggal saya saja yang belum kaya," canda pria yang mengenakan kopiah haji saat bekerja.
Dalam seminggu, Amir mengaku cuma empat hari saja bekerja taksi. Sisanya dia gunakan untuk mengikuti kegiatan keagamaan. "Kami di sini punya kelompok pengajian, kita sering berkumpul bersama," imbuh Amir.
Dia tiap malam mangkal depan Stasiun Circular Quay. Hanya dua ratus meter dari stasiun tersebut, tampak megah Gedung Opera, kebanggaan warga Australia.
Dia menuturkan, menjadi seorang muslim yang minoritas kadang ada tidak enaknya. Apalagi sebagian warga Australia juga menganggap Islam identik dengan teroris. "Kalau saya misalkan melakukan seperti itu (teroris) pasti dipulangkan. Untungnya saya sudah menjadi warga Australia," cerita Amir.
Amir enggan menceritakan penghasilannya selama 30 tahun menjadi sopir taksi di Australia. Dia cuma menjelaskan tiap empat hari dia harus bisa mengumpulkan uang AUS$ 1.000. Sambil mengobrol dengan kami dan menunggu penumpang, tangannya asyik bermain Blackberry.
"Saya ini sedang chatting dengan teman-teman SD dan SMP saya dulu," ujar Amir bangga.
"Menjadi sopir taksi penghasilannya jauh lebih besar dibanding para pegawai pabrik-pabrik di Australia," sambung pria berjenggot ini.
Menutup pembicaraan, pria yang sudah kelihatan renta ini ternyata tidak gagap teknologi. "Oke, nanti kita sambung obrolan kita lewat facebook. Ketik saja nama saya pasti ada di sana," ucap Amir menutup pembicaraan.
Amir pun pergi berlalu dengan taksinya. Sementara jam tangan sudah menunjukan pukul 02.00 waktu Sydney, Kamis dini hari.
(anw/fay)
Banyak warga Indonesia tinggal di Australia. Di Negeri Kangguru ini, mereka kuliah atau bekerja. Kota Sydney yang terkenal dengan Opera House, juga banyak didiami orang Indonesia.
Namun panggilan 'Blok M' sungguh menarik perhatian wartawan detikcom Anwar Khumaini dan rombongan wartawan di sela kunjungan Presiden SBY di Australia. Rupa-rupanya panggilan itu datang dari mulut Amir Yasra, pria paruh baya yang menjadi sopir taksi yang mangkal di Alfred Street, Sydney.
"Saya di sini sudah sejak tahun 1979, Mas," Amir membuka cerita, Kamis (11/3/2010). Amir kini sudah menjadi WN Australia.
"Dulu banyak WNI yang jadi sopir taksi di sini. Tapi sekarang sudah kaya-kaya. Tinggal saya saja yang belum kaya," canda pria yang mengenakan kopiah haji saat bekerja.
Dalam seminggu, Amir mengaku cuma empat hari saja bekerja taksi. Sisanya dia gunakan untuk mengikuti kegiatan keagamaan. "Kami di sini punya kelompok pengajian, kita sering berkumpul bersama," imbuh Amir.
Dia tiap malam mangkal depan Stasiun Circular Quay. Hanya dua ratus meter dari stasiun tersebut, tampak megah Gedung Opera, kebanggaan warga Australia.
Dia menuturkan, menjadi seorang muslim yang minoritas kadang ada tidak enaknya. Apalagi sebagian warga Australia juga menganggap Islam identik dengan teroris. "Kalau saya misalkan melakukan seperti itu (teroris) pasti dipulangkan. Untungnya saya sudah menjadi warga Australia," cerita Amir.
Amir enggan menceritakan penghasilannya selama 30 tahun menjadi sopir taksi di Australia. Dia cuma menjelaskan tiap empat hari dia harus bisa mengumpulkan uang AUS$ 1.000. Sambil mengobrol dengan kami dan menunggu penumpang, tangannya asyik bermain Blackberry.
"Saya ini sedang chatting dengan teman-teman SD dan SMP saya dulu," ujar Amir bangga.
"Menjadi sopir taksi penghasilannya jauh lebih besar dibanding para pegawai pabrik-pabrik di Australia," sambung pria berjenggot ini.
Menutup pembicaraan, pria yang sudah kelihatan renta ini ternyata tidak gagap teknologi. "Oke, nanti kita sambung obrolan kita lewat facebook. Ketik saja nama saya pasti ada di sana," ucap Amir menutup pembicaraan.
Amir pun pergi berlalu dengan taksinya. Sementara jam tangan sudah menunjukan pukul 02.00 waktu Sydney, Kamis dini hari.
(anw/fay)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Senin, 13/02/2012 00:25 WIB
Kemenkum HAM Siap Bantu Masa Pasca Rehabilitasi Pecandu Narkoba
-
Minggu, 12/02/2012 23:14 WIB
KPUD Tutup Masa Penyerahan Bukti Dukungan Calon Independen Pilgub DKI
-
Minggu, 12/02/2012 22:11 WIB
Langkah-langkah Kemenkum HAM Dalam Perbaikan Sistem di Lapas dan Rutan
-
Minggu, 12/02/2012 21:25 WIB
Temui Ical, Mantan Panglima OPM Sampaikan Solusi Pembangunan Papua
-
Minggu, 12/02/2012 21:09 WIB
Bus TransJakarta Terbakar Akibat Korslet, Lalu-lintas Sarinah Padat
-
Minggu, 12/02/2012 23:39 WIB
DPP Siap Laksanakan Rekomendasi DK Soal Kader PD yang Layak Dipecat
-
Minggu, 12/02/2012 18:17 WIB
Usai Razia Kendaraan, Dua Polisi di Bogor Dibacok 7 Pria
-
Sabtu, 11/02/2012 17:24 WIB
Alasan SBY Tunjuk TB Silalahi Jadi Dewan Kehormatan Demokrat
-
Minggu, 12/02/2012 19:04 WIB
Seorang 'Atapers' Tewas Terbentur Tiang Listrik di Stasiun Manggarai
-
593 Komentar
-
499 Komentar
-
382 Komentar
-
201 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Jumat, 10/02/2012 18:34 WIB
PDII LIPI: Menulis di Jurnal Ilmiah Bikin Mahasiswa Tak Asal Lulus
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 863.000
- Rp 600.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

