Di Malaysia

Penulis 'N5M' Berbagi Kiat Sukses dengan Pelajar Indonesia

Ramdhan Muhaimin - detikNews
Selasa, 16/03/2010 03:38 WIB
Kuala Lumpur - Novel trilogi bertemakan pendidikan  yang inspiratif,  Negeri 5 Menara,  tidak saja 'meledak' di tanah air. Popularitas buku yang baru ditulis sekitar 7 bulan lalu itu juga terdengar sampai ke negeri jiran, Malaysia. Bahkan antuasiasme masyarakat Indonesia di Malaysia terhadap novel 'Negeri 5 Menara' tidak kalah dengan di tanah air.

Selama 3 hari perjalanannya di Malaysia, penulis 'Negeri 5 Menara', Ahmad Fuadi, menjumpai fansnya yang kebanyakan dari kalangan pelajar Indonesia. Di hadapan sekitar 100 pelajar Indonesia di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), pria yang pernah menjadi wartawan Voice of America (VOA) ini berbagi pengalaman dan kiat menggapai cita-cita dan kesuksesan hidup.

Baginya, menjadi orang sukses bukanlah satu hal yang sulit. Sebab kesuksesan tidak hanya milik segelintir orang saja. Setiap orang bisa meraih sukses dalam hidupnya, karena kesuksesan itu dapat diciptakan. Hal itu dikatakannya dalam talkshow dan bedah buku bertema Inspirasi Menggapai Mimpi yang diselenggarakan Bookclub pelajar Indonesia di UKM bekerjasama dengan Persatuan Mahasiswa Riau Malaysia (PMRM), Senin (15/3/2010).

"Buku ini hanya tool untuk berbagi inspirasi, yaitu bagaimana menjadi pribadi yang sukses. Karena kesuksesan itu sebenarnya bisa didesain, bukan yang terjadi begitu saja. Karena itu pesan dalam buku ini 'Man Jadda Wa Jada', barangsiapa yang besungguh-sungguh pasti akan dapat," kata Fuadi dalam talkshow yang bertempat di Perpustakaan Tun Sri Lanang UKM itu.

Pria kelahiran tanah Minang ini lalu menyebutkan kiat-kiat menjadi pribadi sukses berdasarkan pengalaman yang dilaluinya. Menurutnya, pertama, orang yang ingin sukses harus mempunyai impian yang tinggi dan harus berani menjalani tantangan serta jangan terjebak pada kerugian dua kali.

"Kesuksesan itu diawali mimpi. Karena  itu, janganlah takut bermimpi dan bercita-cita. Banyak-banyaklah bermimpi," cetus Fuadi.

Kedua, lanjutnya, orang yang ingin mencapai mimpinya, maka dia haruslah bekerja keras. Bahkan usaha keras yang dilakukannya haruslah di atas rata-rata kebanyakan orang-orang.

"Maksudnya, misalnya kalau teman biasa belajar setiap harinya 2 jam, maka belajarlah lebih dari teman anda yang dua jam. Kalau ada sprinter yang bisa menempuh 100 meter dalam 10 detik, maka berlarilah lebih cepat dari itu. Jadi ya diatas rata-rata," ujarnya.

Ketiga, kesuksesan tidak tercapai hanya dengan kerja keras, tapi perbanyaklah berdoa. Kerja keras tiada artinya tanpa doa. Apalagi, menurutnya, jika doa itu berasal dari orang tua.

Dalam Islam, kata dia, disebutkan kalau doa itu senjatanya orang beriman. Jadi dengan kekuatan doa, seseorang bisa meraih sukses.

"Serta berprasangka baik kepada siapapun. Karena dengan prasangka baik akan berdampak kebaikan pula kepada diri kita," sambung Fuadi.

Terakhir, pria yang sempat mengambil S2 di Amerika Serikat dan Inggris ini mengungkapkan, orang yang ingin sukses haruslah ikhlas dalam menjalani hidup.

"Memang sulit mendefinisikan ikhlas. Tapi intinya, semua hiruk pikuk di dunia ini tidak ada artinya, semuanya hanya sesaat. Tujuan hidup hanyalah untuk mengabdi, karena akhirnya semua urusan kita hanya kepada Allah," tegasnya.

Talkshow yang berlangsung lebih dari tiga jam itu mendapat antusiasme yang tinggi dari pelajar-pelajar Indonesia di UKM. Bukan saja di UKM, talkshow dan bedah buku serupa juga diadakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di International Islamic University of Malaysia (IIUM).

Mengangkat Pesantren


Sebagaimana novel-novel tanah air terkini lainnya yang bertemakan cinta, edukatif dan inspiratif religius dengan triloginya, Fuadi mengungkapkan, novel 'Negeri 5 Menara' yang sudah lima kali cetak ulang dalam enam bulan ini juga mengambil latar belakang cerita mengenai kehidupan pesantren dengan berbagai keunikan dan filosofi hidup yang diajarkan di dalamnya, di mana pesantren bisa menjadi inspirasi untuk meraih kesuksesan.

Melalui novel ini, Fuadi menawarkan satu perspektif baru mengenai pesantren bahwa pesantren tidak melulu dipandang sebagai lower class pendidikan, terbelakang dibanding sekolah-sekolah umum, atau tempat penampungan siswa-siswa bermasalah dan kurang berpestasi.

Menurutnya, justru pesantren memberikan pola pendidikan terpadu yang sebetulnya tidak dijumpai di sekolah-sekolah umum.

"Siapa bilang anak pesantren tidak bisa sukses. Ketika saya berkesempatan ke Amerika, Inggris dan beberapa negara lainnya di Eropa, saya jumpai banyak alumni pesantren madani di sana. Pesantren ini memang tidak besar, tapi alumninya tersebar lintas negara dan organisasi. Inilah yang ingin saya bagi melalui buku ini," jelas alumni pesantren Gontor, Jawa Timur, ini.

Selain 'Negeri 5 Menara', dalam dua bulan ke depan akan diluncurkan buku kedua dari triloginya yang berjudul 'Ranah 3 Warna', serta buku ketiga yang belum berjudul tapi tetap mengedepankan angka 1 pada covernya. Bahkan Fuadi mengungkapkan, saat ini sudah 3 Production House (PH) yang menawarkan pembuatan film 'Negeri 5 Menara'.

Di Indonesia, penerbitan novel ini sudah menembus oplah 80 ribu kopi dalam 6 bulan. Bahkan bukan hanya di tanah air, novel ini rencananya juga akan diluncurkan di Malaysia dalam 2 bulan ke depan.

Keuntungan dari penjualan novel ini akan disumbangkan melalui yayasan 'Negeri 5 Menara' bagi pembangunan kembali pendidikan di Pariaman, Sumatera Barat, yang luluh lantak akibat gempa bumi beberapa bulan lalu.

(rmd/lrn)

Share:

Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel