MTI: Pemindahan Ibu Kota Tak Banyak Kurangi Kemacetan
Senin, 06/09/2010 09:01 WIB
Jakarta -
Wacana pemindahan ibu kota direspons secara serius oleh kepala negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sebagai salah satu opsi mengurangi kemacetan di Jakarta. Namun, pemindahan ibu kota itu sebenarnya tidak akan banyak menolong problem kemacetan di kota yang telah berumur 483 tahun ini.
"70 Persen aktivitas berlalu-lintas di Jakarta itu sangat tergantung oleh sektor jasa, keuangan, dan perdagangan, bukan kegiatan pemerintahan. Sehingga usaha memindahkan ibu kota itu, dugaan kami, tingkat daya untuk mengurangi kemacetan akan sangat terbatas," ujar Danang Parikesit, Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), kepada detikcom, Senin (6/9/2010).
Karena kegiatan ekonomi tetap berlangsung di Jakarta, lanjut Danang, maka mobilitas penumpang, barang, dan jasa, juga tetap besar. Pemindahan ibu kota tidak akan berdampak banyak terhadap menyebarnya kegiatan ekonomi ke luar dari Kota Jakarta.
Namun, Danang menyambut baik rencana Presiden SBY untuk mambahas wacana pemindahan ibu kota itu bersama anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II beserta pakar yang kompeten. Hal itu supaya jelas bagaimana untung rugi dan plus-minusnya bila ibu kota RI dipindah dari Jakarta.
"Kalau mengurangi kemacetan itu jelas ada, tapi sedikit. Nah apakah itu sepadan dengan pemindahan ibu kota yang memerlukan kekuatan fiskal yang cukup besar. Pemindahan ibu itu kota itu tidak cuma memindah gedung, tapi pegawai, administrasi, dan sebagainya. Jelas itu biayanya banyak," sambung Danang.
Sampai saat ini, Danang sendiri masih percaya kemacetan di Jakarta sesungguhnya bisa ditanggulangi. 17 poin langkah pemerintah untuk menghilangkan macet seperti yang dihasilkan dalam rapat di Kantor Wapres Boediono dinilainya sangat bagus. Hanya implementasinya yang harus dijaga, supaya terkendali dan tetap sesuai target.
"Meski agak terlambat, mudah-mudahan itu bisa sedikit demi sedikit mengurangi kemacetan. Tapi ada hal lain yang belum diungkap dan mungkin bisa ditambahkan, yakni mengurangi tekanan ekonomi di Jakarta. PDB Indonesia itu 20-30 persennya di Jakarta. Kita menginginkan ada strategi tumbuhnya metropolitan baru dengan support pemerintah sehingga tekanan ekonomi tidak Jakarta," tutupnya.
Seperti diketahui, Boediono mengundang sejumlah menteri terkait, Pemprov DKI Jakarta, serta Direktur Mass Rapid Transsit (MRT) untuk membahas kemacetan. Di antara keputusan yang dihasilkan itu adalah penerapan electronic road pricing (ERP), penambahan koridor busway, pembangunan MRT, pengaturan ulang jadwal KRL, serta pembuatan double track untuk KA sampai ke Cikarang.
(irw/nrl)
"70 Persen aktivitas berlalu-lintas di Jakarta itu sangat tergantung oleh sektor jasa, keuangan, dan perdagangan, bukan kegiatan pemerintahan. Sehingga usaha memindahkan ibu kota itu, dugaan kami, tingkat daya untuk mengurangi kemacetan akan sangat terbatas," ujar Danang Parikesit, Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), kepada detikcom, Senin (6/9/2010).
Karena kegiatan ekonomi tetap berlangsung di Jakarta, lanjut Danang, maka mobilitas penumpang, barang, dan jasa, juga tetap besar. Pemindahan ibu kota tidak akan berdampak banyak terhadap menyebarnya kegiatan ekonomi ke luar dari Kota Jakarta.
Namun, Danang menyambut baik rencana Presiden SBY untuk mambahas wacana pemindahan ibu kota itu bersama anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II beserta pakar yang kompeten. Hal itu supaya jelas bagaimana untung rugi dan plus-minusnya bila ibu kota RI dipindah dari Jakarta.
"Kalau mengurangi kemacetan itu jelas ada, tapi sedikit. Nah apakah itu sepadan dengan pemindahan ibu kota yang memerlukan kekuatan fiskal yang cukup besar. Pemindahan ibu itu kota itu tidak cuma memindah gedung, tapi pegawai, administrasi, dan sebagainya. Jelas itu biayanya banyak," sambung Danang.
Sampai saat ini, Danang sendiri masih percaya kemacetan di Jakarta sesungguhnya bisa ditanggulangi. 17 poin langkah pemerintah untuk menghilangkan macet seperti yang dihasilkan dalam rapat di Kantor Wapres Boediono dinilainya sangat bagus. Hanya implementasinya yang harus dijaga, supaya terkendali dan tetap sesuai target.
"Meski agak terlambat, mudah-mudahan itu bisa sedikit demi sedikit mengurangi kemacetan. Tapi ada hal lain yang belum diungkap dan mungkin bisa ditambahkan, yakni mengurangi tekanan ekonomi di Jakarta. PDB Indonesia itu 20-30 persennya di Jakarta. Kita menginginkan ada strategi tumbuhnya metropolitan baru dengan support pemerintah sehingga tekanan ekonomi tidak Jakarta," tutupnya.
Seperti diketahui, Boediono mengundang sejumlah menteri terkait, Pemprov DKI Jakarta, serta Direktur Mass Rapid Transsit (MRT) untuk membahas kemacetan. Di antara keputusan yang dihasilkan itu adalah penerapan electronic road pricing (ERP), penambahan koridor busway, pembangunan MRT, pengaturan ulang jadwal KRL, serta pembuatan double track untuk KA sampai ke Cikarang.
(irw/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Kamis, 09/02/2012 13:59 WIB
Penusukan Warga di Masjid Tambora Bermotif Dendam
-
Kamis, 09/02/2012 13:55 WIB
Terdakwa Pencuri 50 Gram Merica Dibui 85 Hari
-
Kamis, 09/02/2012 13:55 WIB
Masuk ke Hutan UI, Densus 88 Keluar Bawa 1 Tas Ransel
-
Kamis, 09/02/2012 13:54 WIB
Curi 6 Piring Dibui, Korupsi Rp 27 M Bebas, YLBHI: Di Mana Keadilan?
-
Kamis, 09/02/2012 13:41 WIB
Soal Kunjungan Tengah Malam Nasir ke Nazar, Saan: Kita Serahkan ke Lapas
-
Kamis, 09/02/2012 12:59 WIB
Nasir Kaget Ketahuan Denny Bertemu Nazaruddin di Rutan Cipinang
-
Kamis, 09/02/2012 11:23 WIB
Politisi PD Sulut Siap Kembalikan Rp 100 Juta & BB ke Anas
-
Kamis, 09/02/2012 13:12 WIB
Politisi Sulut Sebut Ada Anggota DPR Saat Pembagian Uang di Kongres PD
-
Kamis, 09/02/2012 12:31 WIB
Denny: Ada Apa Pengacara Rosa Diskusi dengan Nazaruddin Tengah Malam?
-
229 Komentar
-
196 Komentar
-
176 Komentar
-
166 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Senin, 06/02/2012 15:13 WIB
Bagir Manan: Harus The Best One yang Jadi Ketua MA
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 605.000
- Rp 862.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer




_2.gif)


Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

