6 Tahun Sudah Kasus Munir Dilupakan Pemerintah
Selasa, 07/09/2010 07:31 WIB
Jakarta -
Sejak enam tahun lalu, kasus pembunuhan aktivis HAM Munir masih belum menemukan titik terang. Kasus tersebut bahkan kini cenderung meredup dan dilupakan oleh pemerintah.
Setidaknya itulah yang dirasakan oleh pihak keluarga, khususnya istri Munir, Suciwati, dalam mengenang enam tahun kematian sang suami.
"Dari pemerintahan, sepertinya sudah lupa (kasus Munir). Kasus besar seperti Century saja bisa berhenti, apalagi ini. Hari ini, ya sepertinya seperti itu juga," kata istri Munir, Suciwati saat berbincang dengan detikcom, Selasa (7/9/2010).
Genderang keadilan pun seakan tidak bersuara untuk mengusut tuntas kasus Munir. Bahkan, Kejaksaan Agung dan Kepolisian seolah tutup mata dalam menuntaskan kasus tersebut.
"(Terhadap) Tersangka Muchdi, Kejaksaan Agung seharusnya melakukan PK, tapi tidak dilakukan. Polisi juga saat ditanya apakah Tim Munir sudah dibubarkan, katanya belum. Tapi mereka dilihat juga tidak bekerja," paparnya.
Guna membangunkan kembali ingatan pemerintah dan lembaga hukum yang menangani kasus Munir, Suciwati bersama dengan ribuan orang yang tergabung dalam Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (Kasum) akan menggelar aksi demo. Demo akan digelar di depan Kejagung dan Mabes Polri, siang ini.
"Paling siangan (demo). Sorenya kita lanjutkan buka puasa bersama di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat," imbuhnya.
Setelah enam tahun berlalu, Suciwati tidak pernah berhenti mencari keadilan untuk mengungkap kematian suaminya itu. Dia berharap, dengan peringatan kematian Munir ini dapat menjadi preseden baik bagi pemerintah.
"Ketika ada kejadian dengan dituntaskannya kasus, tidak akan lagi terjadi intimidasi terhadap para aktivis. Kita lihat bagaimana intimidasi yang terjadi pada aktivis (ICW) Tama S Langkun saja tidak berjalan. Kalau ini dituntaskan, ini akan menjadi preseden baik bagi pemerintah," tutupnya.
Sekedar mengingatkan, Munir meninggal di pesawat Garuda dalam perjalanan menuju Belanda pada 7 September 2004. Selang 2 bulan kemudian, dugaan kuat Munir dibunuh dengan diracun baru mencuat pada 11 November 2004 setelah hasil otopsi yang dilakukan Pemerintah Belanda terkuak.
Hasil otopsi menunjukkan adanya arsenicum di tubuh Munir dengan dosis mematikan. Penyelidikan pun mulai dilakukan Mabes Polri. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta polisi untuk segera mengungkap fakta di balik wafatnya Munir. Namun, hingag saat ini belum terungkap siapa dalang di balik pembunuhan tersebut.
(mei/mad)
Setidaknya itulah yang dirasakan oleh pihak keluarga, khususnya istri Munir, Suciwati, dalam mengenang enam tahun kematian sang suami.
"Dari pemerintahan, sepertinya sudah lupa (kasus Munir). Kasus besar seperti Century saja bisa berhenti, apalagi ini. Hari ini, ya sepertinya seperti itu juga," kata istri Munir, Suciwati saat berbincang dengan detikcom, Selasa (7/9/2010).
Genderang keadilan pun seakan tidak bersuara untuk mengusut tuntas kasus Munir. Bahkan, Kejaksaan Agung dan Kepolisian seolah tutup mata dalam menuntaskan kasus tersebut.
"(Terhadap) Tersangka Muchdi, Kejaksaan Agung seharusnya melakukan PK, tapi tidak dilakukan. Polisi juga saat ditanya apakah Tim Munir sudah dibubarkan, katanya belum. Tapi mereka dilihat juga tidak bekerja," paparnya.
Guna membangunkan kembali ingatan pemerintah dan lembaga hukum yang menangani kasus Munir, Suciwati bersama dengan ribuan orang yang tergabung dalam Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (Kasum) akan menggelar aksi demo. Demo akan digelar di depan Kejagung dan Mabes Polri, siang ini.
"Paling siangan (demo). Sorenya kita lanjutkan buka puasa bersama di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat," imbuhnya.
Setelah enam tahun berlalu, Suciwati tidak pernah berhenti mencari keadilan untuk mengungkap kematian suaminya itu. Dia berharap, dengan peringatan kematian Munir ini dapat menjadi preseden baik bagi pemerintah.
"Ketika ada kejadian dengan dituntaskannya kasus, tidak akan lagi terjadi intimidasi terhadap para aktivis. Kita lihat bagaimana intimidasi yang terjadi pada aktivis (ICW) Tama S Langkun saja tidak berjalan. Kalau ini dituntaskan, ini akan menjadi preseden baik bagi pemerintah," tutupnya.
Sekedar mengingatkan, Munir meninggal di pesawat Garuda dalam perjalanan menuju Belanda pada 7 September 2004. Selang 2 bulan kemudian, dugaan kuat Munir dibunuh dengan diracun baru mencuat pada 11 November 2004 setelah hasil otopsi yang dilakukan Pemerintah Belanda terkuak.
Hasil otopsi menunjukkan adanya arsenicum di tubuh Munir dengan dosis mematikan. Penyelidikan pun mulai dilakukan Mabes Polri. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta polisi untuk segera mengungkap fakta di balik wafatnya Munir. Namun, hingag saat ini belum terungkap siapa dalang di balik pembunuhan tersebut.
(mei/mad)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Kamis, 09/02/2012 23:36 WIB
Aktivitas Gunung Lokon Meningkat, Waspadai Letusan
-
Kamis, 09/02/2012 22:31 WIB
MUI Sumsel Larang Perayaan Valentine's Day
-
Kamis, 09/02/2012 21:24 WIB
Braak! Mobil Walikota Depok Ditabrak Pemotor
-
Kamis, 09/02/2012 20:37 WIB
Pansel KPU-Bawaslu: Data Seleksi Sifatnya Rahasia
-
Kamis, 09/02/2012 20:31 WIB
Korban Pencabulan Habib 'H' Diiming-Iming Janji Surga dan Uang
-
Kamis, 09/02/2012 21:28 WIB
Tabrak Mobil Walikota Depok, Pemotor Tak Dipolisikan
-
Kamis, 09/02/2012 20:31 WIB
Korban Pencabulan Habib 'H' Diiming-Iming Janji Surga dan Uang
-
Kamis, 09/02/2012 15:49 WIB
Buruh di Jakarta Ancam Demo Besar-besaran, Foke: Buruh Harus Ngaca
-
Kamis, 09/02/2012 21:24 WIB
Braak! Mobil Walikota Depok Ditabrak Pemotor
-
230 Komentar
-
196 Komentar
-
176 Komentar
-
166 Komentar
Lapsus
Index »
-
Senin, 06/02/2012 13:46 WIB
Setelah Miranda, Lalu Siapa?
Miranda Tersentuh Jua
-
Senin, 06/02/2012 10:26 WIB
Miranda, Lalu Siapa?
Miranda S Gultom: Awalnya Saya Enggan Dicalonkan
-
Senin, 06/02/2012 15:13 WIB
Bagir Manan: Harus The Best One yang Jadi Ketua MA
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 857.000
- Rp 600.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Alamatku
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer




_2.gif)


Sending your message




---125x125.gif)
.gif)

