Jadi Pejabat Sudah Dikawal Voorijder, Ditunggu Pesawat Pula

Laurencius Simanjuntak - detikNews
Rabu, 08/09/2010 12:59 WIB
Jakarta - Bagi sebagian para pejabat, membelah kemacetan Jakarta dengan menggunakan mobil pengawal (voorijder) tentu nikmat. Saking nikmatnya, mantan Wapres Jusuf Kalla pernah setengah berkelakar bahwa perbedaan menjadi orang dua di negeri ini dengan warga biasa adalah saat di jalan.

"Saya merasa jadi Wapres itu kalau di jalan. Kalau di kantor ya sama kaya dulu, sore, malam, kerja, menulis. Pas di jalan, saya mersakan Wapres betulan," kata JK yang mulai merasakan macet sejak lengser November lalu.

Nah, bagaimana jika si pejabat itu datang terlambat tapi tetap ditunggu pesawat? Padahal sudah datang menggunakan kawalan khusus. 

Pada 4 September 2010, Edhi Baskoro Yudhoyono datang terlambat. Akibatnya, pesawat Garuda Indonesia GA 222 tujuan Jakarta-Solo, sebagaimana dilaporkan penumpang, harus menunggu selama 20 menit. Namun, baik pihak Garuda maupun Ibas sudah sama-sama membantah memberi dan mendapat privilege.

Sehari setelah kasus Ibas, Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan juga dilaporkan melakukan hal yang sama. Bahkan, ia meminta pesawat Garuda Indonesia GA 239 dari Semarang ke Jakarta yang sudah terbang untuk balik lagi menjemputnya. Namun, hal ini juga dibantah mantan Ketua Komisi V (perhubungan) itu.

Rentetan ulah pejabat yang mulai terungkap itu ternyata tidak hanya dialami oleh masyarakat biasa. Anggota DPR Budiman Sudjatmiko juga pernah jadi 'korban' saat keberangkatan pesawat yang ia tumpangi, Garuda Indonesia GA 604 rute Jakarta-Makassar, harus ditunda 30 menit pada 30 Agustus lalu.

"Nah, pas sudah masuk, pesawat kok nggak berangkat-berangkat. Terus ada pengumuman bahwa pesawat menunggu penumpang VIP," cerita Budiman yang belakangan mengetahui tamu VIP itu adalah seorang menteri.

Budiman mengatakan, siapa pun pejabat publik hendaknya berdisiplin sebagai konsumen jasa transportasi. Sehingga jangan sampai ketidakdisiplinan segelintir penumpang malah mengganggu kenyamanan para penumpang lain.

"Pejabat publik sebagai pelayan, sebaiknya tidak menyusahkan publik," kata Budiman.

Ketua Federasi Pilot Indonesia, Kapten Manotar Napitupulu, mengungkapkan aksi tunggu-menunggu pejabat itu tidak hanya meresahkan penumpang, tapi juga pilot.

"Sudah jadi keresahan karena menyangkut penumpang lain. Kalau terlambat, penumpang makin kesal dan berimbas pada yang mau nyambung pesawat lain," kata Manotar kepada detikcom, Rabu (8/9/2010).

(lrn/mad)

Share:

Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index ยป
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel